Pembelit lidah (tongue twister) adalah frasa atau susunan kata-kata yang memiliki kemiripan dalam bunyi sehingga sulit diucapkan secara cepat dengan benar. Pembelit lidah yang hanya terdiri dari beberapa kata dimaksudkan untuk diucapkan berulang-ulang secepat mungkin. Kalimat-kalimat panjang yang menjadi pembelit lidah hanya perlu diucapkan sekali, namun secepat mungkin dan tanpa salah. (Wikipedia)

Contractions are words that are created by combining words in order to shorten them from their original form. Contractions are used when speaking and when writing in casual situations. Common contractions are words like she's and don't and can be both written (informally) and spoken.

To "act up" means...... to behave badly
"And then some" means..... and a lot more
"All along" means..... all the time
to "back out" means.... to get out of an agreement
A "bad trip" means.... an unpleasant drug experience
To "beat around the bush" means..... to avoid a question
"below the belt" means.....unfairly
To "call it a day" means....to quit / to finish for today
to "catch on" means ....... to understand
to "cheer up" means... to become happy
" I dare say" means.... I suppose
"Dead tired" means..... very tired, exhausted
to be in "deep water" means.... to be in serious trouble
to "die out'' means.... to disappear slowly
to "do away with" something means.... to stop something
If someone is "down to earth," they are.....practical
"easy does it" means....let's do it carefully
to "ease up" means.....to make less nervous
If you "keep an eye out", it means.....watch carefully
to "eat out", means.....to eat in a restaurant
When it's "fair and square", it's ......... honest
to "fall behind", means to.... not keep up
If something "falls through", it.............. falls to happen
"Far and wide" means.... everywhere...
Dari segi tujuan, kegiatan penerjemahan oleh Brislin (1976:3-4) dan juga diterangkan Choliludin (2007:26-29) mengkategorikan terjemahan menjadi empat jenis.
Yakni, Terjemahan pragmatis, terjemahan estetis-puitis, terjemahan etnografis, dan terjemahan linguistik.


Before learn about Strategies in Interpreting, you may read tips for interpreting.

The strategies in interpreting are:

When you decide to be an interpreters, you must prepare yourself as well. Below, there 5 tips for interpreting.

Anticipate

What is Simultaneous interpretation?
Simultaneous interpretation is a technique in which the interpreter renders the interpretation simultaneously while the speaker is still speaking. 

Newmark (1988, p. 95) categorize cultural category into five categories. They are; 
1) Ecology: fauna, flora, and geographical features, 
2) Material culture: clothes, food, houses/city, transports, and traditional weapons, 
3) Social culture: work, leisure, names and terms of address, and kinship. 
4) Social Organization: social organization, social administration, religion, artistic things and craft, 
5) Habits and gesture. With these in mind, the translator might consider those categories in their source text.

Dalam bahasa Indonesia

Newmark (1988: 95) mengelompokkan unsur-unsur budaya menjadi 5 kategori, yaitu:

1. Ekologi

Budaya ekologi ini mencakup keadaan geografis, misalnya: flora, fauna, lembah, bukit, dan lain-lain. Setiap negara memiliki istilah berbeda-beda dalam menamai suatu medan geografi. 

2. Budaya materi

Budaya materi meliputi: makanan, pakaian, rumah, dan kendaraan. Untuk kategori makanan,  misalnya: soto (Indonesia), dan lain-lain. Pakaian, misalnya: kebaya (Indonesia), dan sebagainya. Rumah, misalnya: gazebo, bungalow, dan sebagainya. Dan pada kendaraan, misalnya: dokar, becak, dan lain-lain.

3. Budaya sosial

Kebudayaan sosial menyangkut pekerjaan, permainan, hiburan, istilah kekerabatan, olah raga dan seni. Misalnya kata sensee yang mempunyai komponen makna berbeda dengan guru. Sensee dalam bahasa Jepang dapat bermakna guru, dokter atau orang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu)

4. Organisasi, adat istiadat, aktivitas, prosedur, konsep

Misalnya dalam penamaan posisi dalam pemerintahan, nama organisasi, maupun prosedur suatu organisasi. Misalnya: RT/RW hanya ada dalam konsep budaya Indonesia.

5. Bahasa isyarat dan kebiasaan

Di Indonesia dan beberapa negara lain, mengacungkan jempol itu artinya setuju atau tanda untuk memberikan pujian. Tapi, hal itu tidak berlaku di Yunani. Di negara ini, mengacungkan jempol dianggap tidak sopan, karena mengartikan sebuah hinaan.


Newmark, P. (1988).  A textbook of translation. Hertfordshire: Prentice hall. 
1.      Fuadi, C. (2016). Foregignization and Domestication strategies in cultural term translation of tourism brochures. Jefl = http://dx.doi.org/10.23971/jefl.v6i2.434
Apa Hubungan antara Bahasa dan Budaya?

Pertama, kita ambil definisi budaya dari Mahmoud, yang menyatakan bahwa "Culture is a broad concept with many implications. It may refer to our way of life as it includes beliefs, concepts, principles, behavior patterns, habits, and everything we learn to do." Budaya juga mencakup segala hal yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat seperti kepercayaan, konsep, prinsip – prinsip, pola tingkah laku, kebiasaan, dan segala hal yang dipelajari (Mahmoud, 2015: 66).

Salah seorang pakar penerjemahan, newmark (1995) menyatakan bahwa Budaya adalah sebuah cara hidup dan manisfestasinya yang khas dari masyarakat tertentu yang menggunakan bahasa tertentu sebagai alat untuk berekspresi. Kata Kunci; bahasa sebagai sarana berekspresi.

Pakar ternama dari Indonesia, Koentjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan itu hanya dimiliki manusia dan tumbuh bersama dengan berkembangnya masyarakat manusia. Isi kebudayaan itu terdiri atas tujuh unsur yang bersifat universal. Artinya ketujuh unsur itu terdapat dalam setiap masyarakat manusia yang ada di dunia ini.

Ketujuh unsur tersebut yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian hidup atau ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi dan kesenian. Menurut Koentjaraningrat (1992), bahasa merupakan bagian dari kebudayaan,

Singkatnya, bahasa merupakan bagian dari kebudayaan.

Montasser Mohamed AbdelWahab Mahmoud. (2015). Culture and English Language Teaching in the Arab World. ADULT LEARNING, 26 (2): 66 – 72
Koentraraningrat. (2002). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Newmark, P. (1981). Approaches to Translation. Oxford: Pergamon Press.

For Indonesia people, we usually say hello to people, either well-known or un-known. We are so nice to everyone. If a foreigner come to Indonesia, you might see Indonesian people will say hello to them.

When you are getting boring with your ways to say hello, or just hello mr, how are you.. You need to see this.

30 cara mengucapkan halo dalam bahasa Inggris. kata ini dapat kamu gunakan untuk menyapa seseorang. So, ini bakal buat kamu keren dan ga cuma itu - itu aja kosakatanya alias enrich your vocabulary.

Here we come --> 30 ways to say hello in English.

1. Hi There
2. Howdy
3. Greetings
4. Hey, What's up?
5. Morning/ Afternoon/ Evening
6. What's going on
7. Hey! there she/ he is
8. How's everything
9. How are things?
10. Good to see you
11. Nice to see you
12. Great to see you
13. What's happening
14. How's it going?
15. Good evening
16. Hey, boo
17. How are you?
18. Nice to meet you!
19. Long time, no see
20. What's the good word?
21. What's new?
22. Look, who it is!
23. How have you been
24. Nice to see you again
25. Greetings and Salutation!
26. How are you doing today?
27. What have you been up to?
28. How are you feeling today?
29. Look what the cat dragged in!
30. Good afternoon. sir, how are you today?

Ok, Now, let's practice. Silahkan kamu praktekan bersama teman atau dalam keseharian.

Thanks
In showing agreement, you might use "so" and " Neither". So ---> for positive way and Neither ---> for negative way.

For example:

1. - I like football >>>> So do I (Positive). Means; you also like football.
    - I like football >>>> Neither  do I (negative). Means; you don't like football or you give disagreement on the statement.

2. I am English >>> Neither am I (Negative).
    I am not English >>>> So am I (Positive).

In fact, I'm Indonesian.

3. I have a cat >>> So have I (positive)
I have a cat >>>> Neither have I (Negative)

4. I can see for miles >>>> So can I (Positive)
I can see for miles >>>> Neither can I (Negative)


In sum, when someone states something, use So to give positive or agreement, and use neither to give negative or disagreement.

Character Education Values in Islamic Stories

Anisa Nur’Aini, Choirul Fuadi, Riyan Nuari, and Helvi Rauf

Universitas Negeri Yogyakarta

Islamic story as one of the treasures in Islamic literature gives many benefits especially about  teaching character and personality indirectly. Not only gives the awareness of Islamic values, but also it provides knowledge of language and culture especially in the context of Islam. In Indonesia, there are 18 Character Education Values in Curricula 2013.The character values are Religious, Honesty, Tolerance, Discipline, Hard work Creative, Autonomous, Democratic, Curiosity, Spirit of nationality, 
Love of country, Appreciate achievement, Friendly/communicative, Peaceful, Love to read, Environmental care, Social care, Responsibility. The aim of the study is to describe the character education values in Islamic stories. The qualitative descriptive research was used in the study. Purposive random sampling was use to determine the object and content analysis was used to analyzed the data. There were nine Islamic stories in the study. The results of this research revealed that there are 15 of 18 character education in the Islamic stories, except democracy, love to read and environmental care.

Keywords: Character Education Values, Islamic Literature

Download here



Nilai - Nilai Pendidikan Karakater dalam Cerita Islami

 Anisa Nur’Aini, Choirul Fuadi, Riyan Nuari, and Helvi Rauf

Universitas Negeri Yogyakarta


Cerita Islami merupakan salah satu mahakarya dalam literatur Islam yang mana memberikan banyak manfaat terutama dalam pendidikan karakter dan kepribadian. Tidak hanya memberikan pemahaman mengenai nilai - nilai islam, akan tetapi cerita islami juga terdapat kandungan bahasa dan budaya terutama menyangkut konteks agama Islam khususnya. Di Indonesia, terdapat 18 nilai pendidikan karakter yang tertuang didalam Kurikulum 2013 (K13). Nilai pendidikan karakter tersebut antara lain religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif/bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab. Tujuan artikel ini yakni mendeskripsikan nilai pendidikan karakter dalam cerita Islami. Studi ini menggunakan kualitatif deskriptif. Untuk menentukan objek, peneliti menggunakan teknik purpose random sampling dan content analysis (analisis isi) digunakan dalam menganalisis data. Digunakan 9 cerita islami dalam artikel ini sebagai objek. Temuan menunjukkan bahwa ada 15 nilai pendidikan karakter terdapat dalam cerita Islami, kecuali demokrasi, gemar membaca dan peduli lingkungan.

Kata Kunci: Nilai Pendidikan Karakter, Literatur Islam



Unduh File Disini


Cara mengutip: 

Anisa Nur’Aini, Choirul Fuadi, Riyan Nuari, Helvi Rauf. (2017). Character Education Values in Islamic Stories. Proceeding of INTERNATIONAL CONFERENCE on Language, Literature, and Art in New Media and Technologies and Public Spaces, Bandung, 1, 18 - 29

Google Scholar : choirulfuadi.id
Email: Choirulfuadi78@gmail.com



REFERENCES

Moody, H.L.B. (1972). The Teaching of  Literatures. London: Longman Group Ltd.

Nurgiyantoro, Burhan. (2005).  Sastra Anak, Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Windstedt, S.R. (1969). A history of  classical Malay literature. Kuala Lumpur: Oxford University Press

Nadhif, Ahmad. (2012). Religious Values in Indonesia’s Character Education. Jurnal Pendidikan Islam. XVII (1): 128 – 141.

Hilton C. Buley Library. (2017). Islamic Literature: Overview of  Islamic Literature. Retrieved from: http://libguides.southernct.edu/islamicliterature/Islamicliteraturebooks

The Islamic email circle. (2016). The Caliph Uthman Bin Affan and the Well (A True story). Retrieved from: http://www.theislamicemail-circle.com/discover/the-caliph-uthman-bin-affan-and-the-well-a-true-story/

Differentawakening. (2011). “I have had a better  offer.” Retrieved from: https://storiesoftherighteous.wordpress.com/tag/abu-bakr-siddiq-ra/Islamcan.com. (n.d.).

An Orphan’s Eid. Re-trievedfrom:  http://www.islamcan.com/islamic-stories/an-orphans-eid.shtml

Blogger Indonesia. (2011). The story of Abu Nawas: Ashamed To the Thief. Retrieved from: http://comedianwindow.blogspot.co.id/2011/08/story-of-abu-nawas-ashamed-to-thief.html

AnfransenWijaya. (2013). The Stilts. Retrievedfromhttp://english-story-collection.blogspot.co.id/2013/08/101-story-of-abunawas-stilts.html

Oocities.org. (2009). Prophet Sulaiman (alayhissalam). Retrieved- from: http://www.oocities.org/mutmainaa/kids/story/sulaiman.html

Oocities.org. (2009). Prophet Yusuf (alayhissalam). Retrieved from: http://www.oocities.org/mutmainaa/kids/story/yusuf.html

Islam City. (2017). Prophet Ibrahim: Father of the Prophets. Retrieved- from: https://www.islamicity.org/5887/prophet-ibrahim/.

Aisha Bilal. (2012). Qaroon and Musa As (PBUH). Retrieved from: http://www.knightsofarabia.com/ancient/001/ancient00020.html
Newmark on the books A Textbook of Translation (1988) proposed 8 types of translation method, as illustrated in the following diagram V;

SL Emphasis                                                                                               TL Emphasis
Word-for-word Translation                                                            Adaptation
        Literal Translation                                                              Free Translation
             Faithful Translation                                                Idiomatic Translation
                        Semantic Translation                        Communicative Translation

Gambar 1. Diagram V (Newmark 1988:45)



From 8 types of translation methods above, 4 types of translation method oriented to source text and the others oriented to target language.

Oriented to Source text: 

  1. Word-for-word translation
  2. Literal Translation
  3. Faithful Translation
  4. Semantic Translation
Oriented to Target text:
  1. Adaptation
  2. Free translation
  3. Idiomatic Translation
  4. Communicative translation









Riemer (2010) menyatakan bahwa ada dua sumber yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna, yakni adanya peran dari conventionalization of implicature dan grammalization. Aminuddin (2008) juga menyatakan bahwa faktor gramatik juga mempengaruhi pergeseran makna, seperti pada contoh penggunaan kata ibu akibat mengalami relasi gramatik dengan kota akhirnya tidak merujuk pada “wanita” tetapi pada tempat atau daerah.

Baca:
Faktor yang mempengaruhi pergeseran makna menurut Ullman
Pergeseran Makna menurut Chaer
Anafora, Katafora, Semantik, Komunikatif, Maxim grace, Rema dan Tema
Kedudukan Analisis Wacana Dalam Berbagai Disiplin Ilmu, Peran/Fungsi Berbagai Disiplin Ilmu Terhadap Kajian Wacana, dan Ancangan Dalam Kajian Wacana


Nugraheni (2006) menyatakan bahwa kemajuan  ilmu  dan  pengetahuan  merupakan  salah  satu  faktor  yang  menyebabkan terjadinya  perubahan  makna.

Kemudian suwandi dalam putra (2015) mengungkapkan 11 faktor yang mempengaruhi pergeseran makna, yaitu

  1. faktor linguistik, 
  2. faktor  kesejarahan,  
  3. faktor sosial masyarakat, 
  4. faktor psikologis, 
  5. faktor kebutuhan  kata baru, 
  6. faktor perkembangan ilmu dan teknologi, 
  7. faktor bahasa asing, 
  8. faktor asosiasi, 
  9. faktor tanggapan indera, 
  10. faktor perbedaan tanggapan pemakai bahasa, 
  11. dan, faktor  penyingkatan. 


Referensi

Riemer, Nick. (2010). Introducing Semantics. Cambridge: Cambridge University Press

Aminuddin. (2008). Semantik “Pengantar Studi tentang Makna”. Bandung: Sinar Baru Agensindo.
Nugraheni, Yunita. (2006). Perubahan Makna Pada Istilah Ekonomi. Jurnal Value Added, 2 (2), 1-15. (http://jurnal.unimus.ac.id)

Putra, Hutama. (2015). Perubahan Makna Pada Wacana Humor Cak Lontong. Artikel Publikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dalam penerjemahan subtitle, ada beberapa kesulitan yang mungkin dihadapi oleh penerjemah. Hastuti (2011) mengungkapkan kesulitan penerjemahan subtitle yakni dari segi bahasa dan budaya, makna pragmatic, dan segi media.

Dari segi bahasa dan budaya,   kesulitan yang mungkin dihadapi adalah dalam hal acuan kultural,  idiom, permainan kata,    sindiran  humor  dan  makna  pragmatik.  Kesulitan  dalam  acuan  budaya  yang  mungkin timbul  adalah   kadang penerjemah  tidak  tahu   kebiasaan budaya dari bahasa  sumber.   Begitu pula dengan kesulitan    idiom dan permainan kata. Sering kali  idiom sulit untuk diterjemahkan dan kadang penerjemah sulit mencari padanan dalam permainan kata-kata tertentu. Selanjutnya sindiran  humor  dan    makna  pragmatik  juga  menjadi  kesulitan  tersendiri  bagi  penerjemah. Terkadang  sindiran humor yang halus  sering  luput dari mata  awas penerjemah. Atau, kadang sulit  sekali    mencari  terjemahannya  karena  sindiran  humor  tersebut  terkait  dengan  budaya bahasa sumber.
Sementara dalam hal makna pragmatik, penerjemah sering menjumpai kesulitan  mencari terjemahan yang dapat   menggambarkan   hubungan antara dua tokoh, terutama tokoh-tokoh yang memakai dialek tertentu. Dari  segi media,    ada  dua  hal  yang menyulitkan  dalam  subtitling  yakni    pembatasan waktu  dan  tempat  (layout).  Ada  beberapa  ketentuan  dalam  tentang  tata  letak  penempatan subtitling, yakni: posisi layar harus di bagian bawah,  jumlah baris maksimal dua baris, jumlah karakter  perbaris    kurang  dari  35  karakter,    jenis  font  dan  distribusi  tanpa  sherif  (biasanya Helvetica  atau Arial)  dengan  distribusi  prorsional, warna  dan  latar  belakang  font  harus  putih pucat/transparan, dan menurut standar Eropa posisi teks ada ditengah dan untuk dialog rata kiri, dimulai dengan dash.

Baca juga:


Selanjutnya  penerjemah subtitling  juga dihadapkan dengan kesulitan  ketentuan waktu pemunculan  subtitling.  Ada  beberapa  ketentuan  waktu  kemunculan  subtitling,  yakni:  durasi untuk dua garis penuh adalah 3 – 6 detik,   durasi satu baris tunggal (7 – 8 kata) adalah kurang dari 3,5 detik, durasi subtitling satu kata tunggal adalah 1,5 detik,  waktu muncul setelah ujaran tokoh adalah 0,25 detik,   waktu menghilang setelah ujaran tokoh adalah 2 detik,   waktu antara dua  subtitling  berturutan  adalah  0,25  detik,  dan  subtitling  harus  menghilang  sebelum  ‘cut’ karena ‘cut’ menunjukkan perubahan tematik.

Referensi

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66





              Haryanto  dalam Hastuti (2011)  memaparkan  11  strategi yang dapat digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan subtitle film. Strategi-strategi tersebut adalah sebagai berikut:

a.    Penambahan (expansion), yakni penambahan   mengandung maksud   penambahan keterangan   di  terjemahannya, misalnya kalimat “That’s in the dead-duck day”  diterjemahkan menjadi “Itu terjadi di bebek mati (hari itu seekor bebek mati kena lemparan rotiku)”.

b.    Parafrase (paraphrase), yakni pada  strategi  ini,  penerjemah    menerangkan    bagian  dari  kalimat sesuai dengan pengertiannya sendiri. Misalnya, Turn back no longer di terjemahkan menjadi “Jangan lagi melihat masa lalu”.

c.    Transfer (transfer), yakni  penerjemahan harfiah, apa adanya, tidak ada keterangan tambahan,  tidak ada  pengubahan  sudut  pandang,  dan  tidak  ada    penafsiran  yang  berani. Misalnya, “Turn back no longer” diterjemahkan menjadi “Jangan lagi melihat-melihat ke belakang”.

d.   Imitasi (imitation) , yakni suatu  strategi  di mana  penerjemah menulis  ulang    kata  dalam  naskah  asli  apa adanya, biasanya untuk nama orang atau nama tempat. 

Baca juga:

e.    Transkripsi (transcription), yakni menulis  ulang    penggunaan  tertentu  untuk memenuhi fungsi  tekstual  akan  bagaimana  bahasa    tersebut  digunakan.  Sebagai  contoh,    cara pengucapan sebuah kalimat di dalam naskah asli  dapat dicerminkan di dalam subtitling.

f.     Pemampatan (condensation), yakni naskah asli diringkas untuk menghilangkan ucapan-ucapan  yang  menurut  subtitler tidak  begitu  penting.  Namun  demikian, pemampatan terjemahan bisa membuat  hilang efek pragmatik padahal maksud asli naskah atau tokoh harus tersampaikan.

g.    Desimasi (desimation), yakni  pemampatan  yang  ekstrem.  Biasanya  dilakukan  untuk  menerjemahkan tokoh yang sedang bertengkar  hebat dengan kata-kata yang cepat.

h.    Penghapusan (deletion), yakni  sebagian naskah asli  dihapus dari terjemahannya  karena  dipercaya bahwa bagian  itu  hanya tambahan yang tidak perlu.  Perbedaan  pemampatan  dan  penghapusan adalah dalam pemampatan, tidak ada bagian yang dihilangkan, hanya  dimampatkan sedangkan dalam penghapusan ada bagian yang di potong.

i.      Penjinakan (taming), yakni digunakan untuk menerjemahkan  kata-kata yang kasar sehingga menjadi kata-kata yang bisa diterima oleh pemirsa.

j.      Angkat tangan (resignation). Resignation dilakukan ketika tidak ditemukan solusi    penerjemahannya  dan makna  pun ikut hilang atau dengan kata lain ‘tidak diterjemahkan’.


Referensi

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66.
Perkembangan industri film pendek semakin berkembang cepat. Sejumlah produsen film memproduksi film pendek dan mengunggahnya ke youtube dan media sosial lainnya. Film-film tersebut disajikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia digunakan oleh para tokoh dalam berdialog dan selanjutnya sebagai bahasa sumber (Bsu), sedangkan bahasa Inggris digunakan sebagai subtitle dan selanjutnya digunakan sebagai bahasa sasaran (Bsa). Dengan demikian, pononton dapat menonton dalam dua bahasa.

Ada dua jenis terjemahan film yakni dubbing dan subtitling (Boordwell  &  Thompson  dalam Hastuti, 2011: 58). Kedua jenis penerjemahan  ini  mempunyai  perbedaan  yang  cukup  signifikan. Boordwell  &  Thompson  dalam Hastuti (2011:58) mengatakan  bahwa dubbing  atau sulih suara adalah suatu proses menggantikan suara dalam  suatu  ‘soundtract’ untuk  membetulkan  kesalahan-kesalahan  yang  ada  dan  merekam kembali dialog tersebut. Sedangkan Gambier dalam Hastuti (2011:58) menyatakan bahwa subtitling adalah terjemahan dialog film yang di tuliskan di  bagian  bawah  pada  film  tersebut.  Seperti  halnya  sulih  suara,  tujuan ‘subtitling’ adalah membantu  pemirsa  untuk  menikmati  sebuah  film,  apakah  itu  film  dokumenter  atau  cerita, drama, aksi, dan lain-lain.

Teguh (2014) mendefiniskan screen Translation (read more) atau biasanya disebut dengan subtitling, yakni penerjemahan ini mengolah data input berupa bahasa lisan yang diucapkan oleh tokoh dalam sebuah film drama, atau bentuk penyajian yang lain yang menjadi output berupa tulisan dan kemudian muncul dalam layar monitor. 

Dalam suatu subtitling, penerjemah berhadapan dengan suatu fenomena unik yakni  teks sumber adalah sebuah  teks  lisan yang didukung oleh setting tempat, ilustrasi musik, mimik  tokoh  dan  sebagainya  dan  ia  harus menerjemahkan  teks  lisan  tersebut menjadi teks tulis. Dalam penerjemahan, makna  suatu “teks” akan dipengaruhi oleh kontek situasi, sedangkan kontek situasi akan dipengaruhi oleh  kontek budaya. 

Menerjemahkan (read more about definition of translation) film, kontek situasi dan pemahaman lintas budaya  merupakan bekal utama yang harus dimiliki oleh  penerjemah  dalam  melakukan  pekerjaanya  sehingga  ia  akan  mampu  memilih  strategi penerjemahan yang tepat. Hal ini senada dengan Newmark (1988) menyatakan bahwa teks yang diproduksi itu selalu melibatkan individu, budaya, dan univeral sebagai ciri bahasa, sehingga penerjemah dalam menerjemahkan harus memahami dan memiliki latar belakang mengenai Bahasa sasaran dan bahasa sumber.

Dalam proses penerjemahan perlu dilakukan penyesuaian dalam menentukan strategi, metode penerjemahan, dan sasaran penerjemahan. Tanjung (2015) menyebutkan bahwa teknik dalam penerjemahan terdiri atas adaptasi, ekuivalensi, transposisi, dan modulasi (read more about strategi penerjemahan). Kemudian Halliday dalam Newmark (1991) menyatakan tiga tahap yang berkaitan dengan penerjemahan, yaitu sebagai berikut: 
  1. Kesetaraan atau kesepadanan tiap-tiap bagian yang ada dalam teks sumber dan teks sasaran, 
  2. Peninjauan kembali baik dalam maupun di luar lingkup linguistik untuk mempertimbangkan situasi atau kondisi teks sumber dan teks sasaran, 
  3. Peninjauan kembali dalam segi atau fitur-fitur gramatikal dan leksikal pada teks sasaran


Referensi:

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66.

Teguh. (2014). Bentuk Equivalence and Translation Shift dalam Subtitle Drama Korea Daejangeum 鲵녚鞽 (Jewel in the Palace). Tesis, tidak dipublikasikan. Universitas Negeri Yogyakarta

Tanjung, Sufriati,. (2015). Penilaian Penerjemahan Jerman – Indonesia. Yogyakarta : Kanwa Publisher

Newmark, P,. (1988).  A Textbook of Translation. Hertfordshire: Prentice hall.





Teknik Sipil merupakan satu bidang yang lekat dengan keseharian kita. Kehadiran Bahasa Inggris juga diperlukan guna padanan istilah. Berikut daftar istilah teknik dalam Bahasa Inggris:

Terjemahan istilah teknik dari bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris.


Beton Normal : original concrete
pemisahan kerikil dari adukan  atau  segregasi : segregation
pemisahan air dan semen dari adukan atau  bleeding: bleeding
Agregat Beton: Concrete Aggregates
Beton Serat : Fiber Concrete
Beton Non Pasir : No-Fines Concrete
serat : fiber
beton serat : fiber concrete
Serat Baja : Metallic Fiber / Steel Fiber
Serat Sintetis : Polymeric Fiber
beton asli: original concrete
beton siklop : cyclop Concrete
beton hampa : hollow concrete
beton mortar : Mortar Concrete
beton massa : Mass Concrete
Proyek bangunan tinggi: high rise building
perumahan : residensial
Highrise: bangunan tinggi
lowrise building: bangunan rendah
Light-weight concrete: beton ringan
batu apung : pumice
hantaran suara: sound transmission
peresapan air: water absorption
konduktivitas panas: thermal conductivity
kawat bendrat : Rebar Tie wire / Concrete Wire
serat bendrat : Rebar Tie Fiber / concrete fiber
retak rambut : micro crack
workability : kelecakan
sintetis : synthetic
berat serat : fiber weight
Merosot: slump
kuat tekan beton : concrete Compression Strength
Agregate Halus: fine aggregate
Agregate Kasar: Coarse aggregate
Batas cair: liquid limit
Berat jenis: specific gravity
Kadar air: moisture content


Bergelombang : crimped.
Bergerigi : idented.
Berkait : hoocked.
Bundle : paddled.
Double duo form.
Kedua ujung di tekuk : enfarged end.
Lurus : straight.
Ordinary duo form.
Tidak teratur : irrengular

Penampang serat baja : steel fiber cross section.
Lingkaran/kawat: round/wire.

American Concrete Institute (ACI)
“Back translation” adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan “Terjemahan balik.” Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.

Untuk kalimat yang tampaknya mudah dan sederhana, biasanya penerjemah yang belum banyak berpengalaman cenderung untuk segera saja mulai menerjemahkannya, tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan konteks dan lain-lain. Terjemahan semacam itu saya namakan “terjemahan instan.”
Terjemahan instan cenderung rentan menghasilkan kalimat yang maknanya mungkin jauh berbeda dari maksud penulis aslinya.

Contohnya, kalimat sederhana seperti
DAVID LOVES HIS WIFE, AND ME TOO.
dengan serta-merta, secara “instan,” cenderung langsung saja diterjemahkan menjadi
DAVID MENCINTAI ISTERINYA, DAN SAYA JUGA.

Apabila penerjemah mempertimbangkan konteks, makna kalimat sederhana tersebut dapat dipikirkan atau dipilih dari paling sedikit lima kemungkinan terjemahan yang berbeda, misalnya:

David loves his wife, and me too.
0. David mencintai isterinya, dan saya juga.
1. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.
2. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri saya.
3. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.
4. David mencintai isteri orang lain (misalnya isteri Peter), saya juga mencintai isteri Peter.
5. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.
6. dst … dst…


Proses Terjemahan Balik

Lima kalimat Indonesia hasil terjemahan tersebut di atas kemudian diterjemahkan balik oleh lima orang (atau lebih) ke dalam bahasa Inggris. Contoh terjemahan balik di bawah ini menunjukkan kemungkinan bahwa lima terjemahan instan tersebut dapat ditafsirkan kembali ke dalam lima (bahkan lebih) kalimat berbeda yang sangat mungkin bermakna beda karena berasal dari konteks yang ditafsirkan berbeda-beda pula.

0-A. David mencintai isterinya, dan saya juga.
a. David loves his wife, and me too.
b. David loves his wife, so do I.
1-A. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.
a. David loves his wife, and David (also) loves me.
b. David loves his wife, and David loves me too.
2-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai isteri saya.
a. David loves his wife, and I (also) love mine.
b. David loves his wife, I love mine too.
3-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.
a. David loves his wife, and I also love David’s wife.
b. David loves his wife, and I love David’s wife too.
c. David loves his wife, so do I.
4-A. David mencintai isteri Peter, saya juga mencintai isteri Peter.
a. David loves Peter’s wife, and I also love Peter’s wife.
b. David loves Peter’s wife, so do I.
5-A. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.
a. David loves Peter’s wife, David also loves me.
b. David loves Peter’s wife, he loves me too.
6.A.. dst … dst…


Lessons Learnt
Kalau ada kalimat yang tampaknya sederhana dan sangat mudah, sebaiknya kita tidak tergesa untuk langsung menerjemahkannya. Kita justru harus “curiga” kalau menemui suatu kalimat ganjil yang tampak sangat sederhana. Telusuri dulu konteks materi asal kalimat tersebut. Apalagi kalau konteks keseluruhan bacaan yang kita terjemahkan bernuansa ragam non-formal, misalnya ragam bahasa “populer” atau bahasa “gaul.”
Kalau kita merasa ragu apakah terjemahan kita sudah tepat dan cermat, mintalah tolong kepada rekan lain untuk menerjemahkan balik terjemahan kita ke bahasa aslinya. Cara ini sering lebih efektif daripada bertanya tentang “arti” atau maksud kalimat aslinya.
Prosedur semacam ini juga cukup efektif bagi kita sendiri untuk memperbaiki kalimat bahasa Indonesia kita. Kalau rekan kita kesulitan menerjemahkan (balik) kalimat kita, ada kemungkinan hal itu disebabkan oleh tatabahasa kalimat kita yang kurang benar, kurang idiomatik, ambigu, atau sukar dipahami. Dari fakta ini kita akan terdorong merevisi atau memperbaiki bahasa Indonesia kita. Ini juga merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan tingkat keterbacaan (readability) tulisan kita.
Bahasa yang tinggi tingkat keterbacaannya akan mudah dipahami. Kalimat yang mudah dipahami biasanya tinggi pula tingkat keterjemahannya (translatability). Kalimat seperti itu akan menuntun penerjemah menghasilkan karya yang berprinsip “terjemahan berdasar makna,” (meaning-based translation) alih-alih “berdasar bentuk.” (form-based translation).
Bagi biro penerjemah yang mempekerjakan sejumlah penerjemah, prosedur back translation dapat digunakan sebagai latihan untuk mengembangkan “gaya selingkung” produknya.

ditulis oleh Setyadi Setyapranata

Words about labor and migration. Abbreviation and Acronym of labor and migration need to know. here are the abbreviation and acronym of labor and migration:

  1. ASEAN : Association of Southeast Asian Nations 
  2. AKAD : Antar Kerja Antar Daerah (Interprovincial Labour Placement Program) 
  3. AKAN : Antar Kerja Antar Negara (International Labour Placement Program) 
  4. BNP2TKI : Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (The National Authority for the Placement and Protection of Indonesian Overseas Workers) 
  5. BP3TKI : Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (Agency for the Service, Placement and Protection of Indonesian Overseas Workers) 
  6. Colombo Process Also known as the Ministerial Consultations for Asian Labour Sending Countries 
  7. EFMA : Employment of Foreign Manpower Act (Singapore) 
  8. EOP : Employers’ Orientation Programme (Singapore) 
  9. FAST : Foreign Domestic Worker Association for Skills Training (Singapore) 
  10. FMMD: Foreign Manpower Management Division (Singapore Government Ministry of Manpower) 
  11. FOMEMA: Foreign Workers’ Medical Examination Monitoring Agency (Malaysia) 
  12. GCC : Gulf Cooperation Council 
  13. GFMD Global Forum on Migration and Development 
  14. G-to-G: government-to-government 
  15. HOME: Humanitarian Organization for Migration Economics (NGO) (Singapore) 
  16. ILO: International Labour Organization 
  17. Kafeel system: Kuwait’s foreign worker sponsorship system 
  18. KBRI : Kedutaan Besar Republik Indonesia (Embassy of the Republic of Indonesia) 
  19. KHRS: Kuwaiti Human Rights Society (NGO) (Kuwait)
  20. KTKLN: Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (Overseas Workers Card)
  21. LMRA: Labour Market Regulatory Authority (Bahrain) 
  22. MoU: Memorandum of Understanding 
  23. MWC: Migrant Workers’ Centre (Singapore) 
  24. NTUC: National Trade Union Congress (Singapore) 
  25. NOC: No Objection Certi­cate, issued by the Kuwaiti Ministry of Social A‑airs and Labour (Kuwait) 
  26. OECD: Organisation for Economic Co-operation and Development 
  27. PRT: Pekerja Rumah Tangga (Domestic Migrant Worker) 
  28. RELA: Ikatan Relawan Rakyat Malaysia (People’s Voluntary Corps is a paramilitary civil volunteer corps formed by the Malaysian Government. Their main duty is to check the travel and immigration documents of foreigners in Malaysia, including tourists and migrants, to reduce the increasing rate of irregular migration in Malaysia.) 
  29. SAC: Safety Awareness Course (Singapore) 
  30. SBMI: Serikat Buruh Migran Indonesia (Indonesian Migrant Workers’ Union) 
  31. SUHAKAM: Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Malaysia (The Human Rights Commission of Malaysia) 
  32. TKI: Tenaga Kerja Indonesia (Overseas Migrant Worker/Labour Migrants) 
  33. TWC2: Transient Workers Count Too (NGO) (Singapore) 
  34. UNDHR: Universal Declaration of Human Right
Those are the words and terms about labor migration. Hope it'll help you.

People also like:


More tag about kosakata/words


Kurikulum Pelatihan dan Silabus Mata Kuliah Penerjemahan di Program Study Non Penerjemah. Bagi anda, baik itu dosen, mahasiswa, atau lembaga penerjemah yang sedang atau akan merencanakan pelatihan, berikut adalah artikel contoh kurikulum pelatihan dan silabus mata kuliah penerjemahan di program study non penerjemahan.


Artikel tersebut disusun saat menempuh kuliah kurikulum dan metodologi penerjemahan. semoga bermanfaat.


KURIKULUM PELATIHAN DAN SILABUS MATA KULIAH PENERJEMAHAN DI PROGRAM STUDY NON PENERJEMAHAN


disusun oleh : Choirul Fuadi, S.Pd.I dan Dea Rusdiana, S.Pd


Konteks ;

Dalam penerapan pembelajaran ilmu penerjemahan yang meliputi aspek bidang keilmuan, seperti ilmu alam, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya, sehingga perlu untuk menyusun kurikulum dan pelatihan di bidang study non-penerjemahan. Rancangan kurikulum disusun untuk memenuhi kebutuhan pengalih bahasaan, sehingga memunculkan skill penerjemahan dikalangan praktisi bidang study non-penerjemahan.
Kelompok sasaran dalam pelatihan bisa dilakukan ke instansi swasta, perusahaan, NGO dan pemerintahan. Hal ini untuk menunjang mereka dalam menghadapi dokumen dan speech dari bahasa yang beragam. Dalam kurikulum, peserta akan dibekali keilmuan mengenai penerjemahan dan Interpreting, lalu kemudian praktek skill. Diakhir, peserta yang lolos akan diberikan sertifikat.

Tujuan penulisan artikel ;

Untuk membantu pembaca menjadi kompeten dalam pengembangan kurikulum program pelatihan dan pembuatan silabus mata kuliah penerjemahan didalam bidang study non-penerjemahan. Selain itu, artikel ini juga ditulis sebagai alat untuk mengembangkan kompetensi dan acuan dalam membuat dan memberikan gambaran mengenai kurikulum penerjemahan dibidang study non-penerjemahan.

Cara mencapai tujuan;
Dalam tulisan ini akan membahas materi dengan sub-judul ;
Kurikulum dan definisi, penerjemahan dan intrepreting, konsep kurikulum, konsep penerjemahan, kurikulum pelatihan penerjemahan, konsep pelatihan, pengembangan silabus dan rancangan pelaksanaan, dan contoh-contohnya.

- Menyajikan definisi Kurikulum sebagai acuan dasar
- Menyajikan definisi penerjemahan dan interpreting dari para ahli
- Menyajikan konsep kurikulum penerjemahan dan konsep penerjemahan
- Menyajikan kurikulum pelatihan penerjemahan dan konsep pelatihan
- Akan disajikan konsep tentang pengembangan silabus mata kuliah (rancangan kebijakan berdasarkan acuan yang relevan dan mutakhir)
- Akan disajikan rancangan strategis dan rancangan operasional

Dari tulisan ini, diharapkan pembaca mempunyai pengetahuan mengenai rancangan umum suatu pelatihan penerjemahan dibidang study non-penerjemahan. Selain itu, pembaca mempunyai keterampilan dan sikap dalam penerjemahan, khususnya dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kurikulum dan silabus penerjemahan dibidang study non-penerjemahan.

1. KURIKULUM

a. Kaitannya dengan metodologi
Sasaran pelatihan dalam bidang study non-penerjemahan berasal dari instansi swasta, perusahaan, NGO dan pemerintahan. Namun dalam pelaksanaan dan penyusunan, wajib diketahui latar belakang masalah dan tujuan umum. Sehingga, kurikulum tepat sasaran dan sesuai kebutuhan.
Seorang penerjemah dihadapkan pada berbagai masalah. Menurut Savory (dalam Soemarno, 1983) kesulitan dalam penerjamahan dapat bersumber pada jenis dan bahasa yang diterjemahkan. Setidaknya ada empat jenis teks (Savory dalam soemarno: 1983) mengkategorikan naskah terjemahan sebagai berikut, 1) Teks yang bersifat informatif, 2) Teks yang berisi cerita, 3) Teks yang bernuansa karya-karya sastra dan 4) Teks yang berisi ilmu pengetahuan dan teknik.
Kemudian, kurikulum disesuaikan dengan keahlian dan keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap penerjemah. Metode pembelajaran yang diterapkan beragam, diantaranya adalah ceramah, latihan penerjemahan, studi kasus, diskusi/seminar, dan simulasi/role play.

b. Definisi Kurikulum
Sebelum membahas kurikulum lebih jauh, mari kita simak definisi kurikulum menurut pakar yang mendefiniskan mengenai pengertian kurikulum. Shao-Wen Su (2012) mendefiniskan kurikulum sebagai acuan guru untuk mengajar, dengan kata lain pembelajaran yang akan dilaksanakan dan berkaitan erat dengan cara / proses pembelajaran serta hasil dari pembelajaran. Kurikulum menurut UU No.  20 Tahun  2003 menyatakan bahwa kurikulum  adalah  seperangkat rencana  dan  pengaturan  mengenai  tujuan,  isi,  dan  bahan  pelajaran  serta  cara  yang digunakan  sebagai  pedoman  penyelenggaraan  kegiatan  pembelajaran  untuk  mencapai tujuan pendidikan nasional.
Kemudian, Fred C. Lunenburg (2011) mendefiniskan kurikulum sebagai konten dan proses pembelajaran, tujuan pembentukan sikap, rancangan pembelajaran dan pendekatan non-tekhnik. Senada dengan hal tersebut, Julia Fotheringham, Karen Strickland and Karen Aitchison (2012) mendefiniskan kurikulum sebagai produk, proses dan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Terakhir, definisi kurikulum 2013 dalam penelitian sariono yang mendefinisikan kurikulum sebagai dokumen dari tujuan atau rancangan dan arah yang akan dicapai, materi dan proses pembelajaran yang harus dilakukan oleh siswa, strategi dan metode, rencana evaluasi dan penerapan konsep.

c. Kaitannya dengan silabus dan rancangan pelaksanaan pembelajaran
Mengutip dari laman deliveri.org (diakses pada February 7, 2016), mengenai bagan desain manajemen pelatihan. Mulai dari analis, penyusunan kurikulum hingga evaluasi. Dimulai dari analisis rancangan pelatihan, desain program pelatihan, pengembangan program, penerapan program,dan diakhiri dengan evaluasi.

Bagan desain manajemen pelatihan

Penjelasan bagan adalah sebagai berikut;
1. Dimulai dengan analisis, yaitu analisis kebutuhan (need analysis) terhadap hal-hal yang akan menjadi objek pelatihan.  Hal ini juga penting untuk membangun rancangan bangun kurikulum.
2. Kemudian dilanjutkan dengan desain program pelatihan, yaitu langkah mendesain program-program pelatihan. Dalam desain program pelatihan, juga didesain silabus dan mata kuliah yang akan dijalani oleh peserta.
3. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dan penerapan, yaitu proses pelaksanaan dan Penerapan program-program pelatihan. Dalam tahap ini, penerapan kurikulum, silabus dan mata kuliah.
4. Kemudian diakhiri dengan evaluasi yaitu tahap  untuk memberikan penilaian dan analisa pengembangan. Evaluasi terhadap kurikulum untuk perbaikan dan menilai keberhasilan dan pendapat peserta terhadap kurikulum yang ada.
5. Pada setiap tahapan tersebut akan ada proses umpan balik, yang bertujuan untuk mengontrol efektivitas pelaksanaan dan proses pelatihan.


2. PENERJEMAHAN (TERTULIS DAN LISAN)
a. Definisi Penerjemahan dan Interpreter
1) Singgih Baru Kuncana, M.R Nababan, dan Sri Samiati (2013) mengatakan bahwa proses transfer informasi antara pengguna suatu bahasa sasaran (BSa) dan pengguna bahasa sumber (BSu).
2) Menurut Larson (dalam Choliludin : 2005) saat menerjemahkan sebuah teks,  tujuan penerjemah adalah mencapai  terjemahan  idiomatik yang  sedemikian rupa berusaha mengkomunikasikan makna  teks  bahasa  sumber  ke  dalam  dalam bentuk  alami  dari  bahasa  sasaran.
3) Dini Gustiarini (2007) mendefiniskan interpreter sebagai orang yang menerjemahkan makna suatu teks / kalimat dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.
4) Vermeer in Nord (2001): “a type of transfer where communicative verbal and non-verbal signs are transferred from one language into another.
5) Nord (2007) distinguishes between two senses of translation: wide and narrow. Translation is, in a narrow sense, any translational action where a source text is transferred into a target culture and language. According to the form and presentation of the source text and to the correctibility of the target text we distinguish between oral translation   (= ‘interpreting’) and written translation (= ‘translation’ in the narrow sense).

3. PELATIHAN (PENDIDIKAN NON-FORMAL)

a. Mata pelatihan yang mungkin dibutuhkan

Program of Studies in Interpreting and Translation
1) Introduction to Spoken Language Interpreting and Translation
2) Consecutive Interpreting
3) Skills Development - Sight Translation
4) Skills Development - Simultaneous Interpreting
5) Setting Specific Interpreting
6) Skills Integration

Each course is 60 minutes in duration.

Target group: NGO’s Group yakni Serikat Petani Indonesia (SPI)
Tujuan : Anggota SPI mampu berinteraksi dengan anggota Serikat Petani lain yang berasal Negara lain dan dapat berkomunikasi  dalam  forum-forum Internasional
Goal :      Menjadi penerjemah lapangan bagi anggota SPI : interpreting dan translation

b. Kurikulum, silabus, dan rancangan pelaksanaan
1) Kurikulum :
a) Introduction to Spoken Language Interpreting and Translation (120 minutes)
Activity: Community interpretation will introduce students to the principles of providing language service to provincial, municipal and public service agencies.
Basic terminology and skills used in bilingual interpreting will be presented. You will examine the roles and responsibilities of interpreters, and will be encourages to evaluate their own aptitudes of this line of work. Professional ethics will be outlined.
Target  :  mengenalkan kepada peserta mengenai interpreting dan translation
Goal : peserta mengetahui apa itu interpreting dan translation
Time : 2 sks
1 sks = 60 minutes
b) Consecutive Interpreting (240 minutes)
Activity:  Benefit from a skillful mix of theory and practice focused on memory and comprehension, not taking, vocabulary building and handling linguistics and ethical challenges.
Target  :  praktek antara teori interpreting dan translation dan praktek dengan berfokus kepada pemahaman
Goal : peserta dapat mempraktekan interpreting dan translation yang berfokus kepada pemahaman
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes

c) Skills Development: Sight Translation (240 minutes)
Focus on the fundamentals of sight translation and related skills, such as fast reading, scanning for main ideas, vocabulary enrichment, paraphrasing and more. Develop tools for handling ethical and performance challenges.
Target  :  praktek antara teori translation dengan berfokus kepada kemampuan tertentu, seperti membaca cepat, memahami ide pokok, kekayaan kosakata
Goal : peserta dapat mempraktekan translation dengan berfokus kepada kemampuan tertentu, seperti membaca cepat, memahami ide pokok, kekayaan kosakata
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes

d) Skills Development: Simultaneous Interpreting
Develop and practice proven skills and techniques for simultaneous interpreting in various settings and contexts, with emphasis on active listening, shadowing, retelling, paraphrasing, note taking, memory exercises, and self-evaluation
Target  :  praktek antara teori interpreting dengan dipadukan dengan tempat dan konteks, berfokus kepada kemampuan tertentu, seperti mendengarkan, menceritakan ulang, latihan hafalan interpreting, dan evaluasi diri
Goal : peserta dapat mempraktekan translation dengan berfokus kepada kemampuan tertentu, seperti membaca cepat, memahami ide pokok, kekayaan kosakata
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes

e) Setting Specific Interpreting
Examine protocols, procedures and techniques for interpreting in various settings. These include the courts and legal settings involving children victims/ witnesses, health care setting and the domestic violence sector.
Target  :  praktek mengenai interpreting dengan prosedur dan teknik dalam berbagai situasi disertai simulasi objek dan subjek terkait
Goal : peserta dapat mempraktekan mengenai interpreting dengan prosedur dan teknik dalam berbagai situasi disertai simulasi objek dan subjek terkait
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes

f) Skills Integration
Enhance your skills in consecutive interpreting and note taking, sight translation and simultaneous interpreting developed in previous courses. Topics also include professional comportment and financial management skills required for work as an independent contractor.
Target  :  praktek integrasi antara interpreting dan translation dengan pengembangan skill.
Goal : peserta dapat mengembangkan kemampuannya secara independent.
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes


2) Syllabus (Course description)

Unit I Introduction
Introduction to the profession of simultaneous interpreting
Skills and abilities needed to be a simultaneous interpreter
Process of simultaneous interpreting

Unit II Foundation Skills
Shadowing the original text in English and the other working language
Practicing word and sentence lag exercises at varying intervals
Employing dual-task exercises to strengthen split attention
Sight translation exercises

Unit III Basic Simultaneous Interpreting Practice
Preparing a topic and relevant vocabulary before interpreting
Step-by-step approach to achieve simultaneity in interpreting
Training in: accuracy; grasping main concepts; speed; production strategies

Unit IV Simulated Working Situations and Mock Meetings
Preparatory research work and glossary building
Interpreting practice with speeches, interviews and excerpts from forum discussions
Interpreting mock meetings

Unit V Skill Integration
Interpreters will learn how to use simultaneous interpreting equipment, prepare glossaries and evaluate their own performance.
Receive feedback from the instructor and their fellow participants.

Each meeting 60 minutes. Keseluruhan 60 jam


c. Rancangan umum suatu pelatihan

Rancangan umum suatu pelatihan setidaknya terdiri atas, pendahuluan, filosofi pelatihan, kompetensi, tujuan, jadwal, harga, target,  Peserta (Jumlah & kriteria peserta), Struktur program, Diagram Alir Proses Pembelajaran, Silabus Pelatihan, evaluasi dan sertifikasi.

Berikut contoh kurikulum dan proposal pelatihan penerjemahan.

Judul Pelatihan : Pelatihan Translation and Interpreting Bagi Anggota Serikat Petani Indonesia

1. Pendahuluan
Kebutuhan anggota Serikat Petani Indonesia dalam kemampuanya menghadapi persaingan global. Konferensi internasional sering diikuti dan menjadi masalah tersendiri ketika anggota SPI tidak mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam komunikasi internasional. Dan disinilah pelatihan translation- interpreting di perlukan.

2. Filosofi pelatihan
1) Prinsip Andragogy, yaitu bahwa selama pelatihan peserta berhak untuk:
a. Didengarkan dan dihargai pengalamannya mengenai kegiatan kesehatan kerja.
b. Dipertimbangkan setiap ide, dan pendapat, sejauh berada di dalam konteks pelatihan.
c. Tidak dipermalukan, dilecehkan ataupun diabaikan.
2) Berorientasi kepada peserta, di mana peserta berhak untuk:
a. Mendapatkan 1 paket bahan belajar tentang kesehatan kerja.
b. Mendapatkan pelatih profesional yang dapat memfasilitasi dengan berbagai metode, melakukan umpan balik, dan menguasai materi kesehatan kerja.
c. Belajar sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki, baik secara visual, auditorial maupun kinestetik (gerak).
d. Belajar dengan modal pengetahuan yang dimiliki masing-masing tentang kesehatan kerja.
e. Melakukan refleksi dan memberikan umpan balik secara terbuka
f. Melakukan evaluasi dan dievaluasi
3) Berbasis kompetensi, yang memungkinkan peserta untuk:
a. Mengembangkan ketrampilan langkah demi langkah dalam memperoleh kompetensi yang diharapkan dalam mengelola kesehatan kerja
b. Memperoleh sertifikat setelah dinyatakan berhasil mendapatkan kompetensi yang diharapkan pada akhir pelatihan.
4) Learning by doing yang memungkinkan peserta untuk:
a. Berkesempatan melakukan eksperimentasi berbagai kasus kesehatan kerja menggunakan metode pembelajaran antara lain demonstrasi/ peragaan, studi kasus, dan praktik baik secara individu maupun kelompok.
b. Melakukan pengulangan ataupun perbaikan yang dirasa perlu.

3. Kompetensi
1) Skills of Sight Translation
2) Skills of Simultaneous Interpreting
3) Skills Integration

4. Tujuan pelatihan
1) Tujuan umum
- Peserta mempunyai kemampuan menjadi penerjemah
- Memahami teks secara baik
2) Tujuan khusus
Melatih dan mempersiapkan anggota SPI untuk dapat bersaing dalam persaingan global dalam ranah interpreting dan translation.

5. Waktu dan Tempat
Pelatihan di laksanakan selama 3 hari, 1 – 3 Oktober 2017 dengan durasi  18   jam dan bertempat di Hotel santika Yogyakarta

6. Jadwal kegiatan
Jadwal kegiatan terlampir

7. Harga
Harga terlampir

8. Peserta (Jumlah & kriteria peserta)
Peserta : 25 peserta
Kriteria :
 - menguasai bahasa inggris aktif
- toefl skore minimal 450
- terdaftar sebagai anggota SPI aktif minimal 1 tahun di buktikan dengan SK
- Foto Copy kartu anggota SPI

9. Struktur program
Susun materi yang akan diberikan dalam proses pelatihan dalam bentuk matriks yang terdiri dari materi dan alokasi waktu.
a. Materi, yaitu ilmu pengetahuan atau ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan pedoman akreditasi pelatihan, dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
1) Materi dasar adalah Pengenalan interpreting dan Translation. Persentase materi dasar sebesar 15% dari keseluruhan jumlah jam pelatihan.
2) Materi inti adalah Praktek translation dan interpreting serta skill integration. Persentase materi inti sebesar 70% dari keseluruhan jumlah jam pelatihan.
3) Materi penunjang adalah penugasan. Persentase materi penunjang sebesar 15%  dari keseluruhan jumlah jam pelatihan.
b. Alokasi waktu, yaitu jumlah waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu materi terdiri atas teori dengan penugasan/praktik. Alokasi waktu menggambarkan kegiatan pelatihan yakni:
- Teori (T) sebesar 40%
- Penugasan (P) dan Praktik Lapangan (PL) sebesar 60% yang disesuaikan dengan bobot dari materi pelatihan tersebut.

10. Diagram Alir Proses Pembelajaran
- Registrasi
- Learning process
- Evaluasi
- Sertifikasi

11. Silabus Pelatihan
Silabus pelatihan terlampir

12. Evaluasi
Pada tahap ini, peserta dan team akan menyelenggarakan evaluasi untuk mengevaluasi kegiatan dan menentukan proyeksi kedepanya

13. Sertifikasi
Peserta yang di nyatakan lolos dan mengikuti 90 % kegiatan, akan di berikan sertifikat.



Lampiran 1

Pamflet Daftar harga, Jadwal Pelatihan dan Materi Pelatihan


Sumber : http://www.direktoripenerjemah.com/2013/01/kursus-penerjemah-di-lbi-fb-ui.html


Daftar Pustaka


Cross Cultural Communication, Introduction to Simultaneous interpreting : a two-day workshop for community interpreting, diakses pada 23 Februari 2016, dari www.cultureandlanguage.net.
Deliveri.org, Bagan desain manajemen pelatihan. Diakses pada February 7, 2016, dari deliveri.org
Fred C. Lunenburg, (2011), Theorizing about Curriculum: Conceptions and Definitions, International Journal of Scholarly Academic Intellectual Diversity , 13, (1): 1-6.
Gustiarini, Dini, (2007). Peranan Interpreter (Penerjemah) di PT Astra Honda Motor (AHM), Artikel Publikasi, Universitas widyatama Bandung.
Ibi fb UI, (2013). Kursus penerjemah di Ibi fb UI. Diakses pada 9 Juni 2016 dari  http://www.direktoripenerjemah.com/2013/01/kursus-penerjemah-di-lbi-fb-ui.html
Kuncana, Singgih Baru, M.R Nababan, dan Sri Samiati,. (2013), analisis terjemahan tindak tutur direktif pada novel the godfather dan terjemahanya dalam bahasa Indonesia, Transling Journal, 1 (1) : 1-20
Mohawk college, Language interpreter training, diakses pada 23 Februari 2016, ce.mohawkcollege.ca/languageinterpreter
Newmark, P, (1988). A Textbook of Translation. Hertfordshire : Prentice Hall International UIO Ltd.
Nida, E, A & Taber C. R (1982). The theory and Practice of Translation. Leiden ; E.J. Brill
Sariono, Kurikulum 2013: Kurikulum Generasi Emas, E-Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya, 3 : 1-9.
Shao-Wen Su, (2012), The Various Concepts of Curriculum and the Factors Involved in Curricula-making, Journal of Language Teaching and Research, 3 (1): 153-158,


Artikel Terkait:
- Apa itu Penerjemahan
- Kendala dalam Penerjemahan
- Definisi Intrepreation dan Intrepreting
- Whispering dan Consecutive Intrepretation
- Teknik Penerjemahan



Keywords:
- penerjemahan,
- kurikulum pelatihan,
- silabus pelatihan,
- kurikulum pelatihan penerjemahan,
- silabus pelatihan penerjemahan,
- kurikulum pelatihan dan silabus pelatihan penerjemahan