-->
http://picasion.com/

CONTOH KURIKULUM PELATIHAN DAN SILABUS MATA KULIAH PENERJEMAHAN DI PROGRAM STUDY NON PENERJEMAHAN

Kurikulum Pelatihan dan Silabus Mata Kuliah Penerjemahan di Program Study Non Penerjemah. Bagi anda, baik itu dosen, mahasiswa, atau lembaga penerjemah yang sedang atau akan merencanakan pelatihan, berikut adalah artikel contoh kurikulum pelatihan dan silabus mata kuliah penerjemahan di program study non penerjemahan.


Artikel tersebut disusun saat menempuh kuliah kurikulum dan metodologi penerjemahan. semoga bermanfaat.


KURIKULUM PELATIHAN DAN SILABUS MATA KULIAH PENERJEMAHAN DI PROGRAM STUDY NON PENERJEMAHAN


disusun oleh : Choirul Fuadi, S.Pd.I dan Dea Rusdiana, S.Pd


Konteks ;

Dalam penerapan pembelajaran ilmu penerjemahan yang meliputi aspek bidang keilmuan, seperti ilmu alam, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya, sehingga perlu untuk menyusun kurikulum dan pelatihan di bidang study non-penerjemahan. Rancangan kurikulum disusun untuk memenuhi kebutuhan pengalih bahasaan, sehingga memunculkan skill penerjemahan dikalangan praktisi bidang study non-penerjemahan.
Kelompok sasaran dalam pelatihan bisa dilakukan ke instansi swasta, perusahaan, NGO dan pemerintahan. Hal ini untuk menunjang mereka dalam menghadapi dokumen dan speech dari bahasa yang beragam. Dalam kurikulum, peserta akan dibekali keilmuan mengenai penerjemahan dan Interpreting, lalu kemudian praktek skill. Diakhir, peserta yang lolos akan diberikan sertifikat.

Tujuan penulisan artikel ;

Untuk membantu pembaca menjadi kompeten dalam pengembangan kurikulum program pelatihan dan pembuatan silabus mata kuliah penerjemahan didalam bidang study non-penerjemahan. Selain itu, artikel ini juga ditulis sebagai alat untuk mengembangkan kompetensi dan acuan dalam membuat dan memberikan gambaran mengenai kurikulum penerjemahan dibidang study non-penerjemahan.

Cara mencapai tujuan;
Dalam tulisan ini akan membahas materi dengan sub-judul ;
Kurikulum dan definisi, penerjemahan dan intrepreting, konsep kurikulum, konsep penerjemahan, kurikulum pelatihan penerjemahan, konsep pelatihan, pengembangan silabus dan rancangan pelaksanaan, dan contoh-contohnya.

- Menyajikan definisi Kurikulum sebagai acuan dasar
- Menyajikan definisi penerjemahan dan interpreting dari para ahli
- Menyajikan konsep kurikulum penerjemahan dan konsep penerjemahan
- Menyajikan kurikulum pelatihan penerjemahan dan konsep pelatihan
- Akan disajikan konsep tentang pengembangan silabus mata kuliah (rancangan kebijakan berdasarkan acuan yang relevan dan mutakhir)
- Akan disajikan rancangan strategis dan rancangan operasional

Dari tulisan ini, diharapkan pembaca mempunyai pengetahuan mengenai rancangan umum suatu pelatihan penerjemahan dibidang study non-penerjemahan. Selain itu, pembaca mempunyai keterampilan dan sikap dalam penerjemahan, khususnya dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kurikulum dan silabus penerjemahan dibidang study non-penerjemahan.

1. KURIKULUM

a. Kaitannya dengan metodologi
Sasaran pelatihan dalam bidang study non-penerjemahan berasal dari instansi swasta, perusahaan, NGO dan pemerintahan. Namun dalam pelaksanaan dan penyusunan, wajib diketahui latar belakang masalah dan tujuan umum. Sehingga, kurikulum tepat sasaran dan sesuai kebutuhan.
Seorang penerjemah dihadapkan pada berbagai masalah. Menurut Savory (dalam Soemarno, 1983) kesulitan dalam penerjamahan dapat bersumber pada jenis dan bahasa yang diterjemahkan. Setidaknya ada empat jenis teks (Savory dalam soemarno: 1983) mengkategorikan naskah terjemahan sebagai berikut, 1) Teks yang bersifat informatif, 2) Teks yang berisi cerita, 3) Teks yang bernuansa karya-karya sastra dan 4) Teks yang berisi ilmu pengetahuan dan teknik.
Kemudian, kurikulum disesuaikan dengan keahlian dan keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap penerjemah. Metode pembelajaran yang diterapkan beragam, diantaranya adalah ceramah, latihan penerjemahan, studi kasus, diskusi/seminar, dan simulasi/role play.

b. Definisi Kurikulum
Sebelum membahas kurikulum lebih jauh, mari kita simak definisi kurikulum menurut pakar yang mendefiniskan mengenai pengertian kurikulum. Shao-Wen Su (2012) mendefiniskan kurikulum sebagai acuan guru untuk mengajar, dengan kata lain pembelajaran yang akan dilaksanakan dan berkaitan erat dengan cara / proses pembelajaran serta hasil dari pembelajaran. Kurikulum menurut UU No.  20 Tahun  2003 menyatakan bahwa kurikulum  adalah  seperangkat rencana  dan  pengaturan  mengenai  tujuan,  isi,  dan  bahan  pelajaran  serta  cara  yang digunakan  sebagai  pedoman  penyelenggaraan  kegiatan  pembelajaran  untuk  mencapai tujuan pendidikan nasional.
Kemudian, Fred C. Lunenburg (2011) mendefiniskan kurikulum sebagai konten dan proses pembelajaran, tujuan pembentukan sikap, rancangan pembelajaran dan pendekatan non-tekhnik. Senada dengan hal tersebut, Julia Fotheringham, Karen Strickland and Karen Aitchison (2012) mendefiniskan kurikulum sebagai produk, proses dan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Terakhir, definisi kurikulum 2013 dalam penelitian sariono yang mendefinisikan kurikulum sebagai dokumen dari tujuan atau rancangan dan arah yang akan dicapai, materi dan proses pembelajaran yang harus dilakukan oleh siswa, strategi dan metode, rencana evaluasi dan penerapan konsep.

c. Kaitannya dengan silabus dan rancangan pelaksanaan pembelajaran
Mengutip dari laman deliveri.org (diakses pada February 7, 2016), mengenai bagan desain manajemen pelatihan. Mulai dari analis, penyusunan kurikulum hingga evaluasi. Dimulai dari analisis rancangan pelatihan, desain program pelatihan, pengembangan program, penerapan program,dan diakhiri dengan evaluasi.

Bagan desain manajemen pelatihan

Penjelasan bagan adalah sebagai berikut;
1. Dimulai dengan analisis, yaitu analisis kebutuhan (need analysis) terhadap hal-hal yang akan menjadi objek pelatihan.  Hal ini juga penting untuk membangun rancangan bangun kurikulum.
2. Kemudian dilanjutkan dengan desain program pelatihan, yaitu langkah mendesain program-program pelatihan. Dalam desain program pelatihan, juga didesain silabus dan mata kuliah yang akan dijalani oleh peserta.
3. Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan dan penerapan, yaitu proses pelaksanaan dan Penerapan program-program pelatihan. Dalam tahap ini, penerapan kurikulum, silabus dan mata kuliah.
4. Kemudian diakhiri dengan evaluasi yaitu tahap  untuk memberikan penilaian dan analisa pengembangan. Evaluasi terhadap kurikulum untuk perbaikan dan menilai keberhasilan dan pendapat peserta terhadap kurikulum yang ada.
5. Pada setiap tahapan tersebut akan ada proses umpan balik, yang bertujuan untuk mengontrol efektivitas pelaksanaan dan proses pelatihan.


2. PENERJEMAHAN (TERTULIS DAN LISAN)
a. Definisi Penerjemahan dan Interpreter
1) Singgih Baru Kuncana, M.R Nababan, dan Sri Samiati (2013) mengatakan bahwa proses transfer informasi antara pengguna suatu bahasa sasaran (BSa) dan pengguna bahasa sumber (BSu).
2) Menurut Larson (dalam Choliludin : 2005) saat menerjemahkan sebuah teks,  tujuan penerjemah adalah mencapai  terjemahan  idiomatik yang  sedemikian rupa berusaha mengkomunikasikan makna  teks  bahasa  sumber  ke  dalam  dalam bentuk  alami  dari  bahasa  sasaran.
3) Dini Gustiarini (2007) mendefiniskan interpreter sebagai orang yang menerjemahkan makna suatu teks / kalimat dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.
4) Vermeer in Nord (2001): “a type of transfer where communicative verbal and non-verbal signs are transferred from one language into another.
5) Nord (2007) distinguishes between two senses of translation: wide and narrow. Translation is, in a narrow sense, any translational action where a source text is transferred into a target culture and language. According to the form and presentation of the source text and to the correctibility of the target text we distinguish between oral translation   (= ‘interpreting’) and written translation (= ‘translation’ in the narrow sense).

3. PELATIHAN (PENDIDIKAN NON-FORMAL)

a. Mata pelatihan yang mungkin dibutuhkan

Program of Studies in Interpreting and Translation
1) Introduction to Spoken Language Interpreting and Translation
2) Consecutive Interpreting
3) Skills Development - Sight Translation
4) Skills Development - Simultaneous Interpreting
5) Setting Specific Interpreting
6) Skills Integration

Each course is 60 minutes in duration.

Target group: NGO’s Group yakni Serikat Petani Indonesia (SPI)
Tujuan : Anggota SPI mampu berinteraksi dengan anggota Serikat Petani lain yang berasal Negara lain dan dapat berkomunikasi  dalam  forum-forum Internasional
Goal :      Menjadi penerjemah lapangan bagi anggota SPI : interpreting dan translation

b. Kurikulum, silabus, dan rancangan pelaksanaan
1) Kurikulum :
a) Introduction to Spoken Language Interpreting and Translation (120 minutes)
Activity: Community interpretation will introduce students to the principles of providing language service to provincial, municipal and public service agencies.
Basic terminology and skills used in bilingual interpreting will be presented. You will examine the roles and responsibilities of interpreters, and will be encourages to evaluate their own aptitudes of this line of work. Professional ethics will be outlined.
Target  :  mengenalkan kepada peserta mengenai interpreting dan translation
Goal : peserta mengetahui apa itu interpreting dan translation
Time : 2 sks
1 sks = 60 minutes
b) Consecutive Interpreting (240 minutes)
Activity:  Benefit from a skillful mix of theory and practice focused on memory and comprehension, not taking, vocabulary building and handling linguistics and ethical challenges.
Target  :  praktek antara teori interpreting dan translation dan praktek dengan berfokus kepada pemahaman
Goal : peserta dapat mempraktekan interpreting dan translation yang berfokus kepada pemahaman
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes

c) Skills Development: Sight Translation (240 minutes)
Focus on the fundamentals of sight translation and related skills, such as fast reading, scanning for main ideas, vocabulary enrichment, paraphrasing and more. Develop tools for handling ethical and performance challenges.
Target  :  praktek antara teori translation dengan berfokus kepada kemampuan tertentu, seperti membaca cepat, memahami ide pokok, kekayaan kosakata
Goal : peserta dapat mempraktekan translation dengan berfokus kepada kemampuan tertentu, seperti membaca cepat, memahami ide pokok, kekayaan kosakata
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes

d) Skills Development: Simultaneous Interpreting
Develop and practice proven skills and techniques for simultaneous interpreting in various settings and contexts, with emphasis on active listening, shadowing, retelling, paraphrasing, note taking, memory exercises, and self-evaluation
Target  :  praktek antara teori interpreting dengan dipadukan dengan tempat dan konteks, berfokus kepada kemampuan tertentu, seperti mendengarkan, menceritakan ulang, latihan hafalan interpreting, dan evaluasi diri
Goal : peserta dapat mempraktekan translation dengan berfokus kepada kemampuan tertentu, seperti membaca cepat, memahami ide pokok, kekayaan kosakata
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes

e) Setting Specific Interpreting
Examine protocols, procedures and techniques for interpreting in various settings. These include the courts and legal settings involving children victims/ witnesses, health care setting and the domestic violence sector.
Target  :  praktek mengenai interpreting dengan prosedur dan teknik dalam berbagai situasi disertai simulasi objek dan subjek terkait
Goal : peserta dapat mempraktekan mengenai interpreting dengan prosedur dan teknik dalam berbagai situasi disertai simulasi objek dan subjek terkait
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes

f) Skills Integration
Enhance your skills in consecutive interpreting and note taking, sight translation and simultaneous interpreting developed in previous courses. Topics also include professional comportment and financial management skills required for work as an independent contractor.
Target  :  praktek integrasi antara interpreting dan translation dengan pengembangan skill.
Goal : peserta dapat mengembangkan kemampuannya secara independent.
Time : 4 sks
1 sks = 60 minutes


2) Syllabus (Course description)

Unit I Introduction
Introduction to the profession of simultaneous interpreting
Skills and abilities needed to be a simultaneous interpreter
Process of simultaneous interpreting

Unit II Foundation Skills
Shadowing the original text in English and the other working language
Practicing word and sentence lag exercises at varying intervals
Employing dual-task exercises to strengthen split attention
Sight translation exercises

Unit III Basic Simultaneous Interpreting Practice
Preparing a topic and relevant vocabulary before interpreting
Step-by-step approach to achieve simultaneity in interpreting
Training in: accuracy; grasping main concepts; speed; production strategies

Unit IV Simulated Working Situations and Mock Meetings
Preparatory research work and glossary building
Interpreting practice with speeches, interviews and excerpts from forum discussions
Interpreting mock meetings

Unit V Skill Integration
Interpreters will learn how to use simultaneous interpreting equipment, prepare glossaries and evaluate their own performance.
Receive feedback from the instructor and their fellow participants.

Each meeting 60 minutes. Keseluruhan 60 jam


c. Rancangan umum suatu pelatihan

Rancangan umum suatu pelatihan setidaknya terdiri atas, pendahuluan, filosofi pelatihan, kompetensi, tujuan, jadwal, harga, target,  Peserta (Jumlah & kriteria peserta), Struktur program, Diagram Alir Proses Pembelajaran, Silabus Pelatihan, evaluasi dan sertifikasi.

Berikut contoh kurikulum dan proposal pelatihan penerjemahan.

Judul Pelatihan : Pelatihan Translation and Interpreting Bagi Anggota Serikat Petani Indonesia

1. Pendahuluan
Kebutuhan anggota Serikat Petani Indonesia dalam kemampuanya menghadapi persaingan global. Konferensi internasional sering diikuti dan menjadi masalah tersendiri ketika anggota SPI tidak mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam komunikasi internasional. Dan disinilah pelatihan translation- interpreting di perlukan.

2. Filosofi pelatihan
1) Prinsip Andragogy, yaitu bahwa selama pelatihan peserta berhak untuk:
a. Didengarkan dan dihargai pengalamannya mengenai kegiatan kesehatan kerja.
b. Dipertimbangkan setiap ide, dan pendapat, sejauh berada di dalam konteks pelatihan.
c. Tidak dipermalukan, dilecehkan ataupun diabaikan.
2) Berorientasi kepada peserta, di mana peserta berhak untuk:
a. Mendapatkan 1 paket bahan belajar tentang kesehatan kerja.
b. Mendapatkan pelatih profesional yang dapat memfasilitasi dengan berbagai metode, melakukan umpan balik, dan menguasai materi kesehatan kerja.
c. Belajar sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki, baik secara visual, auditorial maupun kinestetik (gerak).
d. Belajar dengan modal pengetahuan yang dimiliki masing-masing tentang kesehatan kerja.
e. Melakukan refleksi dan memberikan umpan balik secara terbuka
f. Melakukan evaluasi dan dievaluasi
3) Berbasis kompetensi, yang memungkinkan peserta untuk:
a. Mengembangkan ketrampilan langkah demi langkah dalam memperoleh kompetensi yang diharapkan dalam mengelola kesehatan kerja
b. Memperoleh sertifikat setelah dinyatakan berhasil mendapatkan kompetensi yang diharapkan pada akhir pelatihan.
4) Learning by doing yang memungkinkan peserta untuk:
a. Berkesempatan melakukan eksperimentasi berbagai kasus kesehatan kerja menggunakan metode pembelajaran antara lain demonstrasi/ peragaan, studi kasus, dan praktik baik secara individu maupun kelompok.
b. Melakukan pengulangan ataupun perbaikan yang dirasa perlu.

3. Kompetensi
1) Skills of Sight Translation
2) Skills of Simultaneous Interpreting
3) Skills Integration

4. Tujuan pelatihan
1) Tujuan umum
- Peserta mempunyai kemampuan menjadi penerjemah
- Memahami teks secara baik
2) Tujuan khusus
Melatih dan mempersiapkan anggota SPI untuk dapat bersaing dalam persaingan global dalam ranah interpreting dan translation.

5. Waktu dan Tempat
Pelatihan di laksanakan selama 3 hari, 1 – 3 Oktober 2017 dengan durasi  18   jam dan bertempat di Hotel santika Yogyakarta

6. Jadwal kegiatan
Jadwal kegiatan terlampir

7. Harga
Harga terlampir

8. Peserta (Jumlah & kriteria peserta)
Peserta : 25 peserta
Kriteria :
 - menguasai bahasa inggris aktif
- toefl skore minimal 450
- terdaftar sebagai anggota SPI aktif minimal 1 tahun di buktikan dengan SK
- Foto Copy kartu anggota SPI

9. Struktur program
Susun materi yang akan diberikan dalam proses pelatihan dalam bentuk matriks yang terdiri dari materi dan alokasi waktu.
a. Materi, yaitu ilmu pengetahuan atau ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan pedoman akreditasi pelatihan, dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
1) Materi dasar adalah Pengenalan interpreting dan Translation. Persentase materi dasar sebesar 15% dari keseluruhan jumlah jam pelatihan.
2) Materi inti adalah Praktek translation dan interpreting serta skill integration. Persentase materi inti sebesar 70% dari keseluruhan jumlah jam pelatihan.
3) Materi penunjang adalah penugasan. Persentase materi penunjang sebesar 15%  dari keseluruhan jumlah jam pelatihan.
b. Alokasi waktu, yaitu jumlah waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu materi terdiri atas teori dengan penugasan/praktik. Alokasi waktu menggambarkan kegiatan pelatihan yakni:
- Teori (T) sebesar 40%
- Penugasan (P) dan Praktik Lapangan (PL) sebesar 60% yang disesuaikan dengan bobot dari materi pelatihan tersebut.

10. Diagram Alir Proses Pembelajaran
- Registrasi
- Learning process
- Evaluasi
- Sertifikasi

11. Silabus Pelatihan
Silabus pelatihan terlampir

12. Evaluasi
Pada tahap ini, peserta dan team akan menyelenggarakan evaluasi untuk mengevaluasi kegiatan dan menentukan proyeksi kedepanya

13. Sertifikasi
Peserta yang di nyatakan lolos dan mengikuti 90 % kegiatan, akan di berikan sertifikat.



Lampiran 1

Pamflet Daftar harga, Jadwal Pelatihan dan Materi Pelatihan


Sumber : http://www.direktoripenerjemah.com/2013/01/kursus-penerjemah-di-lbi-fb-ui.html


Daftar Pustaka


Cross Cultural Communication, Introduction to Simultaneous interpreting : a two-day workshop for community interpreting, diakses pada 23 Februari 2016, dari www.cultureandlanguage.net.
Deliveri.org, Bagan desain manajemen pelatihan. Diakses pada February 7, 2016, dari deliveri.org
Fred C. Lunenburg, (2011), Theorizing about Curriculum: Conceptions and Definitions, International Journal of Scholarly Academic Intellectual Diversity , 13, (1): 1-6.
Gustiarini, Dini, (2007). Peranan Interpreter (Penerjemah) di PT Astra Honda Motor (AHM), Artikel Publikasi, Universitas widyatama Bandung.
Ibi fb UI, (2013). Kursus penerjemah di Ibi fb UI. Diakses pada 9 Juni 2016 dari  http://www.direktoripenerjemah.com/2013/01/kursus-penerjemah-di-lbi-fb-ui.html
Kuncana, Singgih Baru, M.R Nababan, dan Sri Samiati,. (2013), analisis terjemahan tindak tutur direktif pada novel the godfather dan terjemahanya dalam bahasa Indonesia, Transling Journal, 1 (1) : 1-20
Mohawk college, Language interpreter training, diakses pada 23 Februari 2016, ce.mohawkcollege.ca/languageinterpreter
Newmark, P, (1988). A Textbook of Translation. Hertfordshire : Prentice Hall International UIO Ltd.
Nida, E, A & Taber C. R (1982). The theory and Practice of Translation. Leiden ; E.J. Brill
Sariono, Kurikulum 2013: Kurikulum Generasi Emas, E-Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya, 3 : 1-9.
Shao-Wen Su, (2012), The Various Concepts of Curriculum and the Factors Involved in Curricula-making, Journal of Language Teaching and Research, 3 (1): 153-158,


Artikel Terkait:
- Apa itu Penerjemahan
- Kendala dalam Penerjemahan
- Definisi Intrepreation dan Intrepreting
- Whispering dan Consecutive Intrepretation
- Teknik Penerjemahan



Keywords:
- penerjemahan,
- kurikulum pelatihan,
- silabus pelatihan,
- kurikulum pelatihan penerjemahan,
- silabus pelatihan penerjemahan,
- kurikulum pelatihan dan silabus pelatihan penerjemahan

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter