PERGESERAN MAKNA TERJEMAHAN SUBTITLE BAHASA INGGRIS FILM PRODUKSI KALIWOOD PALANGKA RAYA


PERGESERAN MAKNA TERJEMAHAN SUBTITLE BAHASA INGGRIS
FILM PRODUKSI KALIWOOD PALANGKA RAYA

Choirul Fuadi, S.Pd.I (15706251018)
Linguistik Terapan, Program Pasca Sarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: choirulfuadi78@outlook.com

Commercial CAT Tool performance in Translating Informative Texts from English into Bahasa Indonesia


Commercial CAT Tool performance in Translating Informative Texts from English into Bahasa Indonesia

Choirul Fuadi
Applied Linguistic, Yogyakarta State University
Choirulfuadi78@gmail.com

Analisis Wacana


Analisis Wacana
Asal Kata

Wacana berasal dari bahasa sansekerta  wac/wak/ vak . Kata wac (kata kerja golongan III parasmaepada(m) artinya berkata/ berujar , sedangkan wacana  artinya ‘membendakan’  perkataan/ tuturan.

Wacana dalam bahasa Inggris discourse berasal dari bahasa latin discursus artinya
lari bolak-balik. Kata Dis  (dari/ dalam arah yang berbeda) dan kata currere  (lari), sehingga menjadi discursus atau Discourse

JAVANESE ‘DANGDUT’ AND LANGUAGE ACQUISITION FOR NON-JAVANESE PEOPLE

JAVANESE ‘DANGDUT’ AND LANGUAGE ACQUISITION FOR NON-JAVANESE 
PEOPLE 


Choirul Fuadi, Anisa Nur’aini, and Riyan Nuari

Yogyakarta State University
choirul.fuadi2015@student.uny.ac.id1, anisanicha@gmail.com, riyannuarii@gmail.com

10 Website cek Plagiat Tulisan

Beberapa website berikut dapat kamu gunakan untuk mengecek plagirsm dari tulisan kamu.

1. smallseotools.com
2. Unicheck (berbayar)
3. DupliChecker
4. Writecheck
5. Copyscape
6. PlagScan
7. Viper anti-plagiarism scanner
8. PlagTracker
9. PlagiarismChecker.com
10. Www.dustball.com

Semoga bermanfaat

Isitlah Matematika dalam Bahasa Inggris

Anda mahasiswa Matematika atau pelajar yang sedang mempelajar Matematika?. Tidak ada salahnya membaca artikel dibawah ini mengenai istilah matematika dalam Bahasa Inggris (English). Istilah matematika secara umum. Istilah Matematika in English atau Common English Indonesia - English .

Common English Indonesia Mathematical Term

Anda mahasiswa Matematika atau pelajar yang sedang mempelajar Matematika?. Tidak ada salahnya membaca artikel dibawah ini mengenai istilah matematika dalam Bahasa Inggris (English). Istilah matematika secara umum. Istilah Matematika in English atau Common English Indonesia - English .

Tongue Twister - Pembelit Lidah

Pembelit lidah (tongue twister) adalah frasa atau susunan kata-kata yang memiliki kemiripan dalam bunyi sehingga sulit diucapkan secara cepat dengan benar. Pembelit lidah yang hanya terdiri dari beberapa kata dimaksudkan untuk diucapkan berulang-ulang secepat mungkin. Kalimat-kalimat panjang yang menjadi pembelit lidah hanya perlu diucapkan sekali, namun secepat mungkin dan tanpa salah. (Wikipedia)

Spoken Contractions

Contractions are words that are created by combining words in order to shorten them from their original form. Contractions are used when speaking and when writing in casual situations. Common contractions are words like she's and don't and can be both written (informally) and spoken.

English Slang, Idioms and Common Expression!

To "act up" means...... to behave badly
"And then some" means..... and a lot more
"All along" means..... all the time
to "back out" means.... to get out of an agreement
A "bad trip" means.... an unpleasant drug experience
To "beat around the bush" means..... to avoid a question
"below the belt" means.....unfairly
To "call it a day" means....to quit / to finish for today
to "catch on" means ....... to understand
to "cheer up" means... to become happy
" I dare say" means.... I suppose
"Dead tired" means..... very tired, exhausted
to be in "deep water" means.... to be in serious trouble
to "die out'' means.... to disappear slowly
to "do away with" something means.... to stop something
If someone is "down to earth," they are.....practical
"easy does it" means....let's do it carefully
to "ease up" means.....to make less nervous
If you "keep an eye out", it means.....watch carefully
to "eat out", means.....to eat in a restaurant
When it's "fair and square", it's ......... honest
to "fall behind", means to.... not keep up
If something "falls through", it.............. falls to happen
"Far and wide" means.... everywhere...

Penerjemahan berdasarkan tujuan

Dari segi tujuan, kegiatan penerjemahan oleh Brislin (1976:3-4) dan juga diterangkan Choliludin (2007:26-29) mengkategorikan terjemahan menjadi empat jenis.
Yakni, Terjemahan pragmatis, terjemahan estetis-puitis, terjemahan etnografis, dan terjemahan linguistik.


Strategies in Interpreting

Before learn about Strategies in Interpreting, you may read tips for interpreting.

The strategies in interpreting are:

Tips for Interpreting

When you decide to be an interpreters, you must prepare yourself as well. Below, there 5 tips for interpreting.

Anticipate

Simultaneous interpretation

What is Simultaneous interpretation?
Simultaneous interpretation is a technique in which the interpreter renders the interpretation simultaneously while the speaker is still speaking. 

Kategori Budaya Menurut Newmark

Newmark (1988, p. 95) categorize cultural category into five categories. They are; 
1) Ecology: fauna, flora, and geographical features, 
2) Material culture: clothes, food, houses/city, transports, and traditional weapons, 
3) Social culture: work, leisure, names and terms of address, and kinship. 
4) Social Organization: social organization, social administration, religion, artistic things and craft, 
5) Habits and gesture. With these in mind, the translator might consider those categories in their source text.

Dalam bahasa Indonesia

Newmark (1988: 95) mengelompokkan unsur-unsur budaya menjadi 5 kategori, yaitu:

1. Ekologi

Budaya ekologi ini mencakup keadaan geografis, misalnya: flora, fauna, lembah, bukit, dan lain-lain. Setiap negara memiliki istilah berbeda-beda dalam menamai suatu medan geografi. 

2. Budaya materi

Budaya materi meliputi: makanan, pakaian, rumah, dan kendaraan. Untuk kategori makanan,  misalnya: soto (Indonesia), dan lain-lain. Pakaian, misalnya: kebaya (Indonesia), dan sebagainya. Rumah, misalnya: gazebo, bungalow, dan sebagainya. Dan pada kendaraan, misalnya: dokar, becak, dan lain-lain.

3. Budaya sosial

Kebudayaan sosial menyangkut pekerjaan, permainan, hiburan, istilah kekerabatan, olah raga dan seni. Misalnya kata sensee yang mempunyai komponen makna berbeda dengan guru. Sensee dalam bahasa Jepang dapat bermakna guru, dokter atau orang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu)

4. Organisasi, adat istiadat, aktivitas, prosedur, konsep

Misalnya dalam penamaan posisi dalam pemerintahan, nama organisasi, maupun prosedur suatu organisasi. Misalnya: RT/RW hanya ada dalam konsep budaya Indonesia.

5. Bahasa isyarat dan kebiasaan

Di Indonesia dan beberapa negara lain, mengacungkan jempol itu artinya setuju atau tanda untuk memberikan pujian. Tapi, hal itu tidak berlaku di Yunani. Di negara ini, mengacungkan jempol dianggap tidak sopan, karena mengartikan sebuah hinaan.


Newmark, P. (1988).  A textbook of translation. Hertfordshire: Prentice hall. 
1.      Fuadi, C. (2016). Foregignization and Domestication strategies in cultural term translation of tourism brochures. Jefl = http://dx.doi.org/10.23971/jefl.v6i2.434

Bahasa dan Budaya

Apa Hubungan antara Bahasa dan Budaya?

Pertama, kita ambil definisi budaya dari Mahmoud, yang menyatakan bahwa "Culture is a broad concept with many implications. It may refer to our way of life as it includes beliefs, concepts, principles, behavior patterns, habits, and everything we learn to do." Budaya juga mencakup segala hal yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat seperti kepercayaan, konsep, prinsip – prinsip, pola tingkah laku, kebiasaan, dan segala hal yang dipelajari (Mahmoud, 2015: 66).

Salah seorang pakar penerjemahan, newmark (1995) menyatakan bahwa Budaya adalah sebuah cara hidup dan manisfestasinya yang khas dari masyarakat tertentu yang menggunakan bahasa tertentu sebagai alat untuk berekspresi. Kata Kunci; bahasa sebagai sarana berekspresi.

Pakar ternama dari Indonesia, Koentjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan itu hanya dimiliki manusia dan tumbuh bersama dengan berkembangnya masyarakat manusia. Isi kebudayaan itu terdiri atas tujuh unsur yang bersifat universal. Artinya ketujuh unsur itu terdapat dalam setiap masyarakat manusia yang ada di dunia ini.

Ketujuh unsur tersebut yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian hidup atau ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi dan kesenian. Menurut Koentjaraningrat (1992), bahasa merupakan bagian dari kebudayaan,

Singkatnya, bahasa merupakan bagian dari kebudayaan.

Montasser Mohamed AbdelWahab Mahmoud. (2015). Culture and English Language Teaching in the Arab World. ADULT LEARNING, 26 (2): 66 – 72
Koentraraningrat. (2002). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Newmark, P. (1981). Approaches to Translation. Oxford: Pergamon Press.

30 ways to say Hello in English

For Indonesia people, we usually say hello to people, either well-known or un-known. We are so nice to everyone. If a foreigner come to Indonesia, you might see Indonesian people will say hello to them.

When you are getting boring with your ways to say hello, or just hello mr, how are you.. You need to see this.

30 cara mengucapkan halo dalam bahasa Inggris. kata ini dapat kamu gunakan untuk menyapa seseorang. So, ini bakal buat kamu keren dan ga cuma itu - itu aja kosakatanya alias enrich your vocabulary.

Here we come --> 30 ways to say hello in English.

1. Hi There
2. Howdy
3. Greetings
4. Hey, What's up?
5. Morning/ Afternoon/ Evening
6. What's going on
7. Hey! there she/ he is
8. How's everything
9. How are things?
10. Good to see you
11. Nice to see you
12. Great to see you
13. What's happening
14. How's it going?
15. Good evening
16. Hey, boo
17. How are you?
18. Nice to meet you!
19. Long time, no see
20. What's the good word?
21. What's new?
22. Look, who it is!
23. How have you been
24. Nice to see you again
25. Greetings and Salutation!
26. How are you doing today?
27. What have you been up to?
28. How are you feeling today?
29. Look what the cat dragged in!
30. Good afternoon. sir, how are you today?

Ok, Now, let's practice. Silahkan kamu praktekan bersama teman atau dalam keseharian.

Thanks

Using So and Neither (showing agreement)

In showing agreement, you might use "so" and " Neither". So ---> for positive way and Neither ---> for negative way.

For example:

1. - I like football >>>> So do I (Positive). Means; you also like football.
    - I like football >>>> Neither  do I (negative). Means; you don't like football or you give disagreement on the statement.

2. I am English >>> Neither am I (Negative).
    I am not English >>>> So am I (Positive).

In fact, I'm Indonesian.

3. I have a cat >>> So have I (positive)
I have a cat >>>> Neither have I (Negative)

4. I can see for miles >>>> So can I (Positive)
I can see for miles >>>> Neither can I (Negative)


In sum, when someone states something, use So to give positive or agreement, and use neither to give negative or disagreement.

Character Education Values in Islamic Stories

Character Education Values in Islamic Stories

Anisa Nur’Aini, Choirul Fuadi, Riyan Nuari, and Helvi Rauf

Universitas Negeri Yogyakarta

Islamic story as one of the treasures in Islamic literature gives many benefits especially about  teaching character and personality indirectly. Not only gives the awareness of Islamic values, but also it provides knowledge of language and culture especially in the context of Islam. In Indonesia, there are 18 Character Education Values in Curricula 2013.The character values are Religious, Honesty, Tolerance, Discipline, Hard work Creative, Autonomous, Democratic, Curiosity, Spirit of nationality, 
Love of country, Appreciate achievement, Friendly/communicative, Peaceful, Love to read, Environmental care, Social care, Responsibility. The aim of the study is to describe the character education values in Islamic stories. The qualitative descriptive research was used in the study. Purposive random sampling was use to determine the object and content analysis was used to analyzed the data. There were nine Islamic stories in the study. The results of this research revealed that there are 15 of 18 character education in the Islamic stories, except democracy, love to read and environmental care.

Keywords: Character Education Values, Islamic Literature

Download here



Nilai - Nilai Pendidikan Karakater dalam Cerita Islami

 Anisa Nur’Aini, Choirul Fuadi, Riyan Nuari, and Helvi Rauf

Universitas Negeri Yogyakarta


Cerita Islami merupakan salah satu mahakarya dalam literatur Islam yang mana memberikan banyak manfaat terutama dalam pendidikan karakter dan kepribadian. Tidak hanya memberikan pemahaman mengenai nilai - nilai islam, akan tetapi cerita islami juga terdapat kandungan bahasa dan budaya terutama menyangkut konteks agama Islam khususnya. Di Indonesia, terdapat 18 nilai pendidikan karakter yang tertuang didalam Kurikulum 2013 (K13). Nilai pendidikan karakter tersebut antara lain religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif/bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab. Tujuan artikel ini yakni mendeskripsikan nilai pendidikan karakter dalam cerita Islami. Studi ini menggunakan kualitatif deskriptif. Untuk menentukan objek, peneliti menggunakan teknik purpose random sampling dan content analysis (analisis isi) digunakan dalam menganalisis data. Digunakan 9 cerita islami dalam artikel ini sebagai objek. Temuan menunjukkan bahwa ada 15 nilai pendidikan karakter terdapat dalam cerita Islami, kecuali demokrasi, gemar membaca dan peduli lingkungan.

Kata Kunci: Nilai Pendidikan Karakter, Literatur Islam



Unduh File Disini


Cara mengutip: 

Anisa Nur’Aini, Choirul Fuadi, Riyan Nuari, Helvi Rauf. (2017). Character Education Values in Islamic Stories. Proceeding of INTERNATIONAL CONFERENCE on Language, Literature, and Art in New Media and Technologies and Public Spaces, Bandung, 1, 18 - 29

Google Scholar : choirulfuadi.id
Email: Choirulfuadi78@gmail.com



REFERENCES

Moody, H.L.B. (1972). The Teaching of  Literatures. London: Longman Group Ltd.

Nurgiyantoro, Burhan. (2005).  Sastra Anak, Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Windstedt, S.R. (1969). A history of  classical Malay literature. Kuala Lumpur: Oxford University Press

Nadhif, Ahmad. (2012). Religious Values in Indonesia’s Character Education. Jurnal Pendidikan Islam. XVII (1): 128 – 141.

Hilton C. Buley Library. (2017). Islamic Literature: Overview of  Islamic Literature. Retrieved from: http://libguides.southernct.edu/islamicliterature/Islamicliteraturebooks

The Islamic email circle. (2016). The Caliph Uthman Bin Affan and the Well (A True story). Retrieved from: http://www.theislamicemail-circle.com/discover/the-caliph-uthman-bin-affan-and-the-well-a-true-story/

Differentawakening. (2011). “I have had a better  offer.” Retrieved from: https://storiesoftherighteous.wordpress.com/tag/abu-bakr-siddiq-ra/Islamcan.com. (n.d.).

An Orphan’s Eid. Re-trievedfrom:  http://www.islamcan.com/islamic-stories/an-orphans-eid.shtml

Blogger Indonesia. (2011). The story of Abu Nawas: Ashamed To the Thief. Retrieved from: http://comedianwindow.blogspot.co.id/2011/08/story-of-abu-nawas-ashamed-to-thief.html

AnfransenWijaya. (2013). The Stilts. Retrievedfromhttp://english-story-collection.blogspot.co.id/2013/08/101-story-of-abunawas-stilts.html

Oocities.org. (2009). Prophet Sulaiman (alayhissalam). Retrieved- from: http://www.oocities.org/mutmainaa/kids/story/sulaiman.html

Oocities.org. (2009). Prophet Yusuf (alayhissalam). Retrieved from: http://www.oocities.org/mutmainaa/kids/story/yusuf.html

Islam City. (2017). Prophet Ibrahim: Father of the Prophets. Retrieved- from: https://www.islamicity.org/5887/prophet-ibrahim/.

Aisha Bilal. (2012). Qaroon and Musa As (PBUH). Retrieved from: http://www.knightsofarabia.com/ancient/001/ancient00020.html

Diagram V by Newmark (1988:45)

Newmark on the books A Textbook of Translation (1988) proposed 8 types of translation method, as illustrated in the following diagram V;

SL Emphasis                                                                                               TL Emphasis
Word-for-word Translation                                                            Adaptation
        Literal Translation                                                              Free Translation
             Faithful Translation                                                Idiomatic Translation
                        Semantic Translation                        Communicative Translation

Gambar 1. Diagram V (Newmark 1988:45)



From 8 types of translation methods above, 4 types of translation method oriented to source text and the others oriented to target language.

Oriented to Source text: 

  1. Word-for-word translation
  2. Literal Translation
  3. Faithful Translation
  4. Semantic Translation
Oriented to Target text:
  1. Adaptation
  2. Free translation
  3. Idiomatic Translation
  4. Communicative translation









Faktor Yang Mempengaruhi Pergeseran makna

Riemer (2010) menyatakan bahwa ada dua sumber yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna, yakni adanya peran dari conventionalization of implicature dan grammalization. Aminuddin (2008) juga menyatakan bahwa faktor gramatik juga mempengaruhi pergeseran makna, seperti pada contoh penggunaan kata ibu akibat mengalami relasi gramatik dengan kota akhirnya tidak merujuk pada “wanita” tetapi pada tempat atau daerah.

Baca:
Faktor yang mempengaruhi pergeseran makna menurut Ullman
Pergeseran Makna menurut Chaer
Anafora, Katafora, Semantik, Komunikatif, Maxim grace, Rema dan Tema
Kedudukan Analisis Wacana Dalam Berbagai Disiplin Ilmu, Peran/Fungsi Berbagai Disiplin Ilmu Terhadap Kajian Wacana, dan Ancangan Dalam Kajian Wacana


Nugraheni (2006) menyatakan bahwa kemajuan  ilmu  dan  pengetahuan  merupakan  salah  satu  faktor  yang  menyebabkan terjadinya  perubahan  makna.

Kemudian suwandi dalam putra (2015) mengungkapkan 11 faktor yang mempengaruhi pergeseran makna, yaitu

  1. faktor linguistik, 
  2. faktor  kesejarahan,  
  3. faktor sosial masyarakat, 
  4. faktor psikologis, 
  5. faktor kebutuhan  kata baru, 
  6. faktor perkembangan ilmu dan teknologi, 
  7. faktor bahasa asing, 
  8. faktor asosiasi, 
  9. faktor tanggapan indera, 
  10. faktor perbedaan tanggapan pemakai bahasa, 
  11. dan, faktor  penyingkatan. 


Referensi

Riemer, Nick. (2010). Introducing Semantics. Cambridge: Cambridge University Press

Aminuddin. (2008). Semantik “Pengantar Studi tentang Makna”. Bandung: Sinar Baru Agensindo.
Nugraheni, Yunita. (2006). Perubahan Makna Pada Istilah Ekonomi. Jurnal Value Added, 2 (2), 1-15. (http://jurnal.unimus.ac.id)

Putra, Hutama. (2015). Perubahan Makna Pada Wacana Humor Cak Lontong. Artikel Publikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kesulitan-kesulitan dalam subtitling

Dalam penerjemahan subtitle, ada beberapa kesulitan yang mungkin dihadapi oleh penerjemah. Hastuti (2011) mengungkapkan kesulitan penerjemahan subtitle yakni dari segi bahasa dan budaya, makna pragmatic, dan segi media.

Dari segi bahasa dan budaya,   kesulitan yang mungkin dihadapi adalah dalam hal acuan kultural,  idiom, permainan kata,    sindiran  humor  dan  makna  pragmatik.  Kesulitan  dalam  acuan  budaya  yang  mungkin timbul  adalah   kadang penerjemah  tidak  tahu   kebiasaan budaya dari bahasa  sumber.   Begitu pula dengan kesulitan    idiom dan permainan kata. Sering kali  idiom sulit untuk diterjemahkan dan kadang penerjemah sulit mencari padanan dalam permainan kata-kata tertentu. Selanjutnya sindiran  humor  dan    makna  pragmatik  juga  menjadi  kesulitan  tersendiri  bagi  penerjemah. Terkadang  sindiran humor yang halus  sering  luput dari mata  awas penerjemah. Atau, kadang sulit  sekali    mencari  terjemahannya  karena  sindiran  humor  tersebut  terkait  dengan  budaya bahasa sumber.
Sementara dalam hal makna pragmatik, penerjemah sering menjumpai kesulitan  mencari terjemahan yang dapat   menggambarkan   hubungan antara dua tokoh, terutama tokoh-tokoh yang memakai dialek tertentu. Dari  segi media,    ada  dua  hal  yang menyulitkan  dalam  subtitling  yakni    pembatasan waktu  dan  tempat  (layout).  Ada  beberapa  ketentuan  dalam  tentang  tata  letak  penempatan subtitling, yakni: posisi layar harus di bagian bawah,  jumlah baris maksimal dua baris, jumlah karakter  perbaris    kurang  dari  35  karakter,    jenis  font  dan  distribusi  tanpa  sherif  (biasanya Helvetica  atau Arial)  dengan  distribusi  prorsional, warna  dan  latar  belakang  font  harus  putih pucat/transparan, dan menurut standar Eropa posisi teks ada ditengah dan untuk dialog rata kiri, dimulai dengan dash.

Baca juga:


Selanjutnya  penerjemah subtitling  juga dihadapkan dengan kesulitan  ketentuan waktu pemunculan  subtitling.  Ada  beberapa  ketentuan  waktu  kemunculan  subtitling,  yakni:  durasi untuk dua garis penuh adalah 3 – 6 detik,   durasi satu baris tunggal (7 – 8 kata) adalah kurang dari 3,5 detik, durasi subtitling satu kata tunggal adalah 1,5 detik,  waktu muncul setelah ujaran tokoh adalah 0,25 detik,   waktu menghilang setelah ujaran tokoh adalah 2 detik,   waktu antara dua  subtitling  berturutan  adalah  0,25  detik,  dan  subtitling  harus  menghilang  sebelum  ‘cut’ karena ‘cut’ menunjukkan perubahan tematik.

Referensi

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66




Strategi-strategi dalam subtitling


              Haryanto  dalam Hastuti (2011)  memaparkan  11  strategi yang dapat digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan subtitle film. Strategi-strategi tersebut adalah sebagai berikut:

a.    Penambahan (expansion), yakni penambahan   mengandung maksud   penambahan keterangan   di  terjemahannya, misalnya kalimat “That’s in the dead-duck day”  diterjemahkan menjadi “Itu terjadi di bebek mati (hari itu seekor bebek mati kena lemparan rotiku)”.

b.    Parafrase (paraphrase), yakni pada  strategi  ini,  penerjemah    menerangkan    bagian  dari  kalimat sesuai dengan pengertiannya sendiri. Misalnya, Turn back no longer di terjemahkan menjadi “Jangan lagi melihat masa lalu”.

c.    Transfer (transfer), yakni  penerjemahan harfiah, apa adanya, tidak ada keterangan tambahan,  tidak ada  pengubahan  sudut  pandang,  dan  tidak  ada    penafsiran  yang  berani. Misalnya, “Turn back no longer” diterjemahkan menjadi “Jangan lagi melihat-melihat ke belakang”.

d.   Imitasi (imitation) , yakni suatu  strategi  di mana  penerjemah menulis  ulang    kata  dalam  naskah  asli  apa adanya, biasanya untuk nama orang atau nama tempat. 

Baca juga:

e.    Transkripsi (transcription), yakni menulis  ulang    penggunaan  tertentu  untuk memenuhi fungsi  tekstual  akan  bagaimana  bahasa    tersebut  digunakan.  Sebagai  contoh,    cara pengucapan sebuah kalimat di dalam naskah asli  dapat dicerminkan di dalam subtitling.

f.     Pemampatan (condensation), yakni naskah asli diringkas untuk menghilangkan ucapan-ucapan  yang  menurut  subtitler tidak  begitu  penting.  Namun  demikian, pemampatan terjemahan bisa membuat  hilang efek pragmatik padahal maksud asli naskah atau tokoh harus tersampaikan.

g.    Desimasi (desimation), yakni  pemampatan  yang  ekstrem.  Biasanya  dilakukan  untuk  menerjemahkan tokoh yang sedang bertengkar  hebat dengan kata-kata yang cepat.

h.    Penghapusan (deletion), yakni  sebagian naskah asli  dihapus dari terjemahannya  karena  dipercaya bahwa bagian  itu  hanya tambahan yang tidak perlu.  Perbedaan  pemampatan  dan  penghapusan adalah dalam pemampatan, tidak ada bagian yang dihilangkan, hanya  dimampatkan sedangkan dalam penghapusan ada bagian yang di potong.

i.      Penjinakan (taming), yakni digunakan untuk menerjemahkan  kata-kata yang kasar sehingga menjadi kata-kata yang bisa diterima oleh pemirsa.

j.      Angkat tangan (resignation). Resignation dilakukan ketika tidak ditemukan solusi    penerjemahannya  dan makna  pun ikut hilang atau dengan kata lain ‘tidak diterjemahkan’.


Referensi

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66.

Pengertian Subtitle, Subtitling, dan Dubbing

Perkembangan industri film pendek semakin berkembang cepat. Sejumlah produsen film memproduksi film pendek dan mengunggahnya ke youtube dan media sosial lainnya. Film-film tersebut disajikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia digunakan oleh para tokoh dalam berdialog dan selanjutnya sebagai bahasa sumber (Bsu), sedangkan bahasa Inggris digunakan sebagai subtitle dan selanjutnya digunakan sebagai bahasa sasaran (Bsa). Dengan demikian, pononton dapat menonton dalam dua bahasa.

Ada dua jenis terjemahan film yakni dubbing dan subtitling (Boordwell  &  Thompson  dalam Hastuti, 2011: 58). Kedua jenis penerjemahan  ini  mempunyai  perbedaan  yang  cukup  signifikan. Boordwell  &  Thompson  dalam Hastuti (2011:58) mengatakan  bahwa dubbing  atau sulih suara adalah suatu proses menggantikan suara dalam  suatu  ‘soundtract’ untuk  membetulkan  kesalahan-kesalahan  yang  ada  dan  merekam kembali dialog tersebut. Sedangkan Gambier dalam Hastuti (2011:58) menyatakan bahwa subtitling adalah terjemahan dialog film yang di tuliskan di  bagian  bawah  pada  film  tersebut.  Seperti  halnya  sulih  suara,  tujuan ‘subtitling’ adalah membantu  pemirsa  untuk  menikmati  sebuah  film,  apakah  itu  film  dokumenter  atau  cerita, drama, aksi, dan lain-lain.

Teguh (2014) mendefiniskan screen Translation (read more) atau biasanya disebut dengan subtitling, yakni penerjemahan ini mengolah data input berupa bahasa lisan yang diucapkan oleh tokoh dalam sebuah film drama, atau bentuk penyajian yang lain yang menjadi output berupa tulisan dan kemudian muncul dalam layar monitor. 

Dalam suatu subtitling, penerjemah berhadapan dengan suatu fenomena unik yakni  teks sumber adalah sebuah  teks  lisan yang didukung oleh setting tempat, ilustrasi musik, mimik  tokoh  dan  sebagainya  dan  ia  harus menerjemahkan  teks  lisan  tersebut menjadi teks tulis. Dalam penerjemahan, makna  suatu “teks” akan dipengaruhi oleh kontek situasi, sedangkan kontek situasi akan dipengaruhi oleh  kontek budaya. 

Menerjemahkan (read more about definition of translation) film, kontek situasi dan pemahaman lintas budaya  merupakan bekal utama yang harus dimiliki oleh  penerjemah  dalam  melakukan  pekerjaanya  sehingga  ia  akan  mampu  memilih  strategi penerjemahan yang tepat. Hal ini senada dengan Newmark (1988) menyatakan bahwa teks yang diproduksi itu selalu melibatkan individu, budaya, dan univeral sebagai ciri bahasa, sehingga penerjemah dalam menerjemahkan harus memahami dan memiliki latar belakang mengenai Bahasa sasaran dan bahasa sumber.

Dalam proses penerjemahan perlu dilakukan penyesuaian dalam menentukan strategi, metode penerjemahan, dan sasaran penerjemahan. Tanjung (2015) menyebutkan bahwa teknik dalam penerjemahan terdiri atas adaptasi, ekuivalensi, transposisi, dan modulasi (read more about strategi penerjemahan). Kemudian Halliday dalam Newmark (1991) menyatakan tiga tahap yang berkaitan dengan penerjemahan, yaitu sebagai berikut: 
  1. Kesetaraan atau kesepadanan tiap-tiap bagian yang ada dalam teks sumber dan teks sasaran, 
  2. Peninjauan kembali baik dalam maupun di luar lingkup linguistik untuk mempertimbangkan situasi atau kondisi teks sumber dan teks sasaran, 
  3. Peninjauan kembali dalam segi atau fitur-fitur gramatikal dan leksikal pada teks sasaran


Referensi:

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66.

Teguh. (2014). Bentuk Equivalence and Translation Shift dalam Subtitle Drama Korea Daejangeum 鲵녚鞽 (Jewel in the Palace). Tesis, tidak dipublikasikan. Universitas Negeri Yogyakarta

Tanjung, Sufriati,. (2015). Penilaian Penerjemahan Jerman – Indonesia. Yogyakarta : Kanwa Publisher

Newmark, P,. (1988).  A Textbook of Translation. Hertfordshire: Prentice hall.