-->
http://picasion.com/

What is Back Translation?

“Back translation” adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan “Terjemahan balik.” Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.

Untuk kalimat yang tampaknya mudah dan sederhana, biasanya penerjemah yang belum banyak berpengalaman cenderung untuk segera saja mulai menerjemahkannya, tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan konteks dan lain-lain. Terjemahan semacam itu saya namakan “terjemahan instan.”
Terjemahan instan cenderung rentan menghasilkan kalimat yang maknanya mungkin jauh berbeda dari maksud penulis aslinya.

Contohnya, kalimat sederhana seperti
DAVID LOVES HIS WIFE, AND ME TOO.
dengan serta-merta, secara “instan,” cenderung langsung saja diterjemahkan menjadi
DAVID MENCINTAI ISTERINYA, DAN SAYA JUGA.

Apabila penerjemah mempertimbangkan konteks, makna kalimat sederhana tersebut dapat dipikirkan atau dipilih dari paling sedikit lima kemungkinan terjemahan yang berbeda, misalnya:

David loves his wife, and me too.
0. David mencintai isterinya, dan saya juga.
1. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.
2. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri saya.
3. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.
4. David mencintai isteri orang lain (misalnya isteri Peter), saya juga mencintai isteri Peter.
5. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.
6. dst … dst…


Proses Terjemahan Balik

Lima kalimat Indonesia hasil terjemahan tersebut di atas kemudian diterjemahkan balik oleh lima orang (atau lebih) ke dalam bahasa Inggris. Contoh terjemahan balik di bawah ini menunjukkan kemungkinan bahwa lima terjemahan instan tersebut dapat ditafsirkan kembali ke dalam lima (bahkan lebih) kalimat berbeda yang sangat mungkin bermakna beda karena berasal dari konteks yang ditafsirkan berbeda-beda pula.

0-A. David mencintai isterinya, dan saya juga.
a. David loves his wife, and me too.
b. David loves his wife, so do I.
1-A. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.
a. David loves his wife, and David (also) loves me.
b. David loves his wife, and David loves me too.
2-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai isteri saya.
a. David loves his wife, and I (also) love mine.
b. David loves his wife, I love mine too.
3-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.
a. David loves his wife, and I also love David’s wife.
b. David loves his wife, and I love David’s wife too.
c. David loves his wife, so do I.
4-A. David mencintai isteri Peter, saya juga mencintai isteri Peter.
a. David loves Peter’s wife, and I also love Peter’s wife.
b. David loves Peter’s wife, so do I.
5-A. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.
a. David loves Peter’s wife, David also loves me.
b. David loves Peter’s wife, he loves me too.
6.A.. dst … dst…


Lessons Learnt
Kalau ada kalimat yang tampaknya sederhana dan sangat mudah, sebaiknya kita tidak tergesa untuk langsung menerjemahkannya. Kita justru harus “curiga” kalau menemui suatu kalimat ganjil yang tampak sangat sederhana. Telusuri dulu konteks materi asal kalimat tersebut. Apalagi kalau konteks keseluruhan bacaan yang kita terjemahkan bernuansa ragam non-formal, misalnya ragam bahasa “populer” atau bahasa “gaul.”
Kalau kita merasa ragu apakah terjemahan kita sudah tepat dan cermat, mintalah tolong kepada rekan lain untuk menerjemahkan balik terjemahan kita ke bahasa aslinya. Cara ini sering lebih efektif daripada bertanya tentang “arti” atau maksud kalimat aslinya.
Prosedur semacam ini juga cukup efektif bagi kita sendiri untuk memperbaiki kalimat bahasa Indonesia kita. Kalau rekan kita kesulitan menerjemahkan (balik) kalimat kita, ada kemungkinan hal itu disebabkan oleh tatabahasa kalimat kita yang kurang benar, kurang idiomatik, ambigu, atau sukar dipahami. Dari fakta ini kita akan terdorong merevisi atau memperbaiki bahasa Indonesia kita. Ini juga merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan tingkat keterbacaan (readability) tulisan kita.
Bahasa yang tinggi tingkat keterbacaannya akan mudah dipahami. Kalimat yang mudah dipahami biasanya tinggi pula tingkat keterjemahannya (translatability). Kalimat seperti itu akan menuntun penerjemah menghasilkan karya yang berprinsip “terjemahan berdasar makna,” (meaning-based translation) alih-alih “berdasar bentuk.” (form-based translation).
Bagi biro penerjemah yang mempekerjakan sejumlah penerjemah, prosedur back translation dapat digunakan sebagai latihan untuk mengembangkan “gaya selingkung” produknya.

ditulis oleh Setyadi Setyapranata

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter