Are you entrepreneurs? Or businessman.. here some vocabularies about entrepreneurship..

1. Active growth:
Pertumbuhan aktif
2. Advancement:
Kemajuan
3. Agreement:
Persetujuan/perjanjian
4. Asset:
Aset
5. Auction:
Lelang
6. Out of stock:
Terjual habis
7. Business risk:
Resiko bisnis
8. Demand:
Permintaan
9. Discount:
Potongan harga
10. Quality first:
Utamakan mutu
Head : kepala
Bald head ; botak
Headache : sakit kepala
Heas injury : sakit atau luka dibagian kepala
Turn your head : memutar kepala
Shake your head : menggeleng kepala
Nod your head : mengangguk kepala
Raise or lift your head : mengadakan kepala keatas / mendongak
Bow / bend / lower your head : tundukkan kepala
Hang your head : jika malu tundukkan kepala
Scratch your head : garuk kepala


All about road : semua tentang jalan.

1. Along / up /  down a road : sepanjang jalan .

2.  On /  in a road :  di jalan
3.  By road :  berkendara
4.  On the roads : diperjalanan
5. Cross a road :  menyebrangi jalan .
6. Run ( out)  into a road :  ke jalanan .
7.  Busy road :  jalanan yg macet .
8. Traffic jammed / road jammed :  jalan macet .
9.  Turn left  :  belok kiri .
10.  Turn right :  belok kanan
11. Be careful :  hati hati
12. Slippery road :  jalan licin

Semoga bermanfaat dan salam semangat

All you need is  the plan, the road map, and the courage to press on to your destination .
(  yg anda butuhkan adlh rencana , peta, dan keberanian untuk sampai tujuan ).
Konsep Konstruksi sosial atau realitas ini dikenalkan oleh sosiolog interpretatif, Peter L. Berger bersama Thomas Luckman. Tesis utama dari Berger; manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis dan plural secara terus menerus. Menurutnya Masyarakat adalah produk manusia, namun secara terus menerus mempunyai aksi kembali terhadap penghasilnya. Sebaliknya, manusia adalah  hasil atau produk dari masyarakat.

Menurut Berger, ada tiga tahap dari peristiwa. Pertama, eksternalisasi yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia kedalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Kedua, Objektivasi yaitu hasil yang telah dicapai, baik fisik maupun mental dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Ketiga, internalisasi yaitu lebih merupakan penyerapan kembali dunia objektif kedalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial.

Lewat proses objektivisasi, masyarakat menjadi suatu realitas. Hasil dari eksternalisasi - kebudayaan - itu misalnya, menusia menciptakan alat demi kemudahan hidupnya, atau kebudayaan non-materiil dalam bntuk bahasa. alat maupun bahasa merupakan kegiatan eksternalisasi manusia ketika berhadapan dengan dunia, hasil dari kegiatan manusia. dan produk alat ataupun bahasa menjadi realitas objektif.

Menurut Berger, REALITAS ITU TIDAK DIBENTUK SECARA ILMIAH, tetapi dibentuk dan dikontruksi. dengan pemahaman ini, realitas itu berwajah ganda atau plural. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda - beda atas suatu realitas. Karna, setiap orang yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu AKAN MENAFSIRKAN realitas sosial itu dengan konstruksinya masing-masing.

Seperti Contoh DEMONSTRASI GERAKAN MAHASISWA. Satu kelompok bisa jadi mengkonstruksi gerakan mahasiswa sebagai anarkis, diluar batas dan mengganggu masyarakat serta dijadikan alat permainan elit politik tertentu. Akan tetapi, orang dari kelompok sosial lain, bisa jadi mengkonstruksi gerakan mahasiswa itu sebagai memperjuangkan nasib rakyat dan berjuang tanpa pamrih. tentu, konstruksi itu dibuat dg legitimasi tertentu, sumber kebenaran tertentu, bahwa apa yg mereka katakan dan percayai adalah benar dan punya dasar yang kuat.

Anda berada dimana, tentu anda punya dasar dan asumsi yang kuat bukan? dan itu bisa berbeda dg yg lain.... Think About it
Ok kita lanjut kepada konstruksi teks berita....

Eriyanto menyatakan bahwa TEKS BERITA TIDAK DAPAT DISAMAKAN DENGAN SEBUAH KOPI DARI REALITAS, NAMUN HARUS DIPANDANG SEBAGAI KONSTRUKSI ATAS REALITAS. Ini menyebabkan satu peristiwa yang sama dikonstruksi berbeda - beda.

Wartawan bisa jadi menjadi pemandangan dan konsepsi yg berbeda yg ketika melihat suatu peristiwa dan dapat dilihat dari bagaimana mereka mengkonstruksi peristiwa itu yang diwujudkan dalam teks berita.

Teks berita, dalam konstruksi sosial bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang riil. disini realitas bukan dioper begitu saja sebagai sebuah berita, namun sebagai produk dari interaksi antara wartawan dg fakta. dalam proses internalisasi, wartawan dilanda realitas yg diamati oleh wartawan dan diserap dalam kesadaran wartawan. namun dalam proses eksternalisasi, wartawan menceburkan diri utk memaknai realitas.

Contoh; kerusuhan antar suku di Sampit. Proses pertama; Eksternalisasi. Wartawan datang ke Sampit, mempunyai konsepsi dan kerangka pemahaman tersendiri ttg peristiwa sampit itu.

  • Ada yg melihat peristiwa Sampit sbg kepentingan Orde Baru utk menjatuhkan Gus Dur.
  • Ada juga yang melihat kasus Sampit sbg masalah budaya ; pertentangan antara suku Madura dg Suku Dayak.
  • Ada yg melihat kasus Sampit sbg masalah politik, rebutan kekuasaan, baik ditingkat lokal maupun orang pusat yang memperebutkan jabatan.
Berbagai skema dan fenomena itu dipakai utk menjelaskan peristiwa dan fenomena yg terjadi di Sampit.

Proses kedua, internalisasi. ketika wartawan berada di Sampit, ia melihat begitu banyak peristiwa. ada mayat terpotong kepalanya, ada rumah terbakar, dan berbagai peristiwa lain. Aneka peristiwa itu di Internalisasi melalui observasi dan dilihat oleh Wartawan. Berita, terjadi karna ada kedua proses dan interaksi dari keduanya.

Demikian ketika seorang melakukan wawancarai narasumber, terjadi interaksi antara wartawan dan narasumber. Teks berita terbentuk dari interaksi dua proses tersebut, bukan operan langsung realitas dari yg dikatakan oleh narasumber dan ditulis oleh wartawan kedalam berita. Namun ada proses eksternalisasi yakni pertanyaan-pertanyaan yg diajukan dan juga sudut penggambaran yg dibuat oleh pewawancara yg membatasi pandangan narasumber. belum lagi ditambah bagaimana hubungan kedekatan antara wartawan dan narasumber. proses ini menghasilkan wawancara yg kita baca di Surat Kabar atau lihat di Tv.

begitulah konstruksi berita dibentuk.

Selanjutnya ; Media dan Berita dilihat dari Paradigma Konstruksionis



Referensi :

Eriyanto. (2002). Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media,. LKIS : Yogyakarta. Baca dari Halaman 13 - 19.

Seorang teman pernah bertanya, eh dikalimantan itu menakutkan ya? Sukunya tu bisa makan orang alias kanibal? Suku Dayak di Kalimantan tu suka penggal orang… Pernah juga teman mengatakan bahwa Kalimantan itu masih hutan, alias primitif. Saya sich pengen ke Kalimantan, tapi takut… begitu kata teman….

Alasan dan jawaban mereka sederhana, dapat/ baca berita/informasi di Tv atau informasi dikoran-koran or cerita-cerita.

Pernah suatu ketika melihat timeline di medsos, ada satu artikel website berjudul kisah dayak pemakan manusia atau ular yang besar memakan manusia.

Tentu bagi saya yang notabene lahir dan besar di Kalteng, saya merasa, ah cerita lama, Kalimantan sekarang sudah berbeda… sudah lebih maju.

Namun bagi mereka yang ingin melihat Kalimantan melalu media / berita, tentu mereka akan terpengaruh oleh apa yang mereka baca.

Nah disini, bingkai atau frame berita yang membuat masyarakat melihat Kalimantan itu serba primitf, serba menakutkan…

So, dalam tulisan ini saya kasih gambaran berita, framing dan akibat dari framing…

Menurut Tuchman dalam bukunya making news menyatakan bahwa “berita adalah jendela dunia”. So, melalui berita kita dapat melihat kondisi situasi diberbagai belahan dunia.

Namun, apa yang kita lihat, rasakan, ketahui tentang dunia lewat berita bergantung kepada jendela yang kita pakai. Apakah jendela itu besar atau kecil. Dengan jendela yang besar, tentu kita akan melihat dunia lebih luas, sebaliknya, dengan jendela tentu pemandangan or pandangan kita menjadi terbatas. Apalagi jika ditambah jendela itu berjerugi atau teralis dan ditambah lagi gorden.

Faktor lain lagi, jika jendela itu dapat dibuka lebar atau tidak. Sehingga timbul pertanyaan, melalui jendela tsb, apakah kita dapat melihat dunia secara bebas dan luas? Atau kita hanya sekedar mengintip dari dalam? Nah begitulah ilustrasi jendela dalam berita, Jendela itu yang disebut dengan Frame (bingkai).

Layaknya sebuah jendela, seringkali ada batasan atau hambatan pandangan kita dalam melihat dunia luar atau realitas yang sebenarnya. Berikut contoh framing dan akibatnya.

Artikel mengenai Islam di Barat berjudul “Covering Islam: How the media and the expert determinate how we see the rest of the world” ditulis oleh Edward W. Said. Artikel tersebut sudah lama ditulis, yakni pada tahun 1981. Namun, akan memberikan gambaran mengenai Islam itu seperti apa dalam penggambaran media Barat waktu itu dan efeknya dapat kita nilai hingga sekarang.

Menurut Said, Media – media barat waktu itu menggambarkan Islam dengan pandangan yang ortodoks. Dalam KBBI, ortodoks berarti 1) berpegang teguh pd peraturan dan ajaran resmi, msl dl agama; 2 kolot; berpandangan kuno), dalam hal ini Agama Islam itu digambarkan sebagai sesuatu yg kuno atau kolot. Bahkan Islam juga digambarkan dengan kegarangan dan Tradisional.

Menurutnya, narasumber berita juga dengan orang yang itu-itu saja alias sama, pakar juga itu-itu saja, dan dengan pandangan buruk terus menerus.

Islam Identik dengan potong tangan atau hukuman rajam yang tidak manusiawi dan orang-orangnya culas serta teroris. Mungkin hingga hari ini, Islam sebagai teroris masih melekat akibar framing ini. Selain itu, Islam juga identik dengan timur tengah, wilayah yang secara geografis sangat jauh dari lokasi mereka. Hanya segelintir orang yang pernah mengunjungi atau paling tidak belajar serius mengenai timur tengah dan Islam.

Dalam hal ini, media adalah sarana yang paling dominan bagaimana wilayah itu digambarkan dan ditampilkan, dan akhirnya hal tersebut memenuhi imajinasi, impian dan stereotip tentang Islam.

Lalu bagaimana Islam menurut media Barat dewasa ini? Tentu anda dapat melakukan peneliaian sendiri, dan buka jendela anda lebar-lebar untuk melihat dunia anda. Meski Artikel tersebut dokumen lama dan ditulis sekitar 36 tahun lalu, namun terlihat bagaimana penggambaran Islam oleh media Barat dan Efek dari Framing hingga sekarang.

Hal tersebut ditambah dengan kejadian 9/11. Dimana dua pesawat menabrak gedung WTC, dan ditengarai bahwa itu adalah aksi teororisme serta dilakukan oleh orang-orang Islam. Bagaimana media barat memberitakan or frame, anda tentu dapat membuka berita or media melalui smartphone anda.. dan menilai sendiri, hal ini tentu mudah bukan.

Hal yang sama berlaku di Indonesia. Masyarakat Melayu atau Dayak yang sadis pernah dipertontonkan jika membaca Koran. Apalagi berkaitan dengan kerusuhan dibeberapa wilayah Kalimantan terutama Kalteng tahun 2000an. Apa yang tergambar mengenai kerusuhan antar suku itu kita peroleh melalui media dan jarang kita melihat ataupun mengalaminya langsung.

Saya waktu itu masih kelas 6 SD, tentu saya tahu dan mengalami. Saya juga telah berdiskusi dengan salah seorang teman, bahwa hingga sekarang apa penyebab masih simpang siur alias belum jelas. Namun jika anda membuka YouTube dan beberapa website, maka sungguh anda diperlihatkan bagaimana kengerian yang terjadi saat itu.

Hal tersebut membuat atau yang tergambar dibenak seorang teman yang takut akibat media padahal dia belum pernah sama sekali mengunjungi dan berinteraksi dengan suku dayak di Kalimantan.

Suku Dayak juga digambarkan sebagai tinggal didalam hutan, tidak memakai pakaian atau masih serba kuno. Kalau baca dikoran, medsos atau media lain, seringkali kita masih menemui berita tersebut, mengenai kengerian perang antar suku, Mandau melayang, memakan manusia, masih primitive, dll. sehingga jika kita membuka suatu media mengenai suku dayak maka yang muncul dalam benak adalah bagaimana orang Dayak itu begitu biadab dan sadis.

Padahal, realitas dilapangan tidak demikian.

Nah, Pandangan seperti ini dibentuk oleh media, lebih khusus lagi frame mengenai bagaimana peristiwa itu dilihat, kemudian ditampilkan, ditonjolkan oleh media tentang peristiwa, aktor atau kelompok tertentu.

Begitulah Framing, membentuk dan membuat sesuatu, media dan berita sebagai jendela kita melihat dunia. Jika jendela kita buka lebar dan luas, maka kita akan lebih luas lagi melihat dunia kita.

Ini hanya bagian pengantar mengenai framing, pada artikel selanjutnya akan dikupas mengenai framing dan berita….

Referensi :

Eriyanto. (2002). Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media,. LKIS : Yogyakarta.

Tuchman, Gaye. (1978). Making News: A study in the Construction of Reality,. The free Press : New York.


Said, Edward W,. (1981). Covering Islam: How the Media and the Expert Determinate How We See the Rest of the World. Pantheon Books : New York.
Bahasa merupakan media simbolik atau alat komunikasi. Nababan (2004:38) menyampaikan bahwa bahasa berfungsi sebagai sebagai sarana pengembangan kebudayaan, jalur penerus kebudayaan, dan inventarisasi ciri-ciri kebudayaan. Selain itu, bahasa juga memiliki fungsi kemasyarakatan, perorangan, dan pendidikan. Dalam proses komunikatif tersebut tidak lepas dari peran wacana sebagai sebuah keutuhan.

Wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan kohesi dan koherensi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir nyata disampaikan secara lisan dan tertulis (Tarigan, 1987: 27). Data wacana dapat berbentuk teks, baik teks lisan maupun teks tertulis. Wacana dianggap sebagai rekaman kebahasaan yang utuh tentang suatu peristiwa komunikasi.

Norman Fairclough (2006: 3) menyatakan bahwa wacana tidak hanya pada bertumpu pada aspek tuturan, akan tetapi juga pada bahasa tulis atau teks yang tertulis, yang penekanannya pada interaksi antara pembicara dengan lawan bicara, atau antara penulis dengan pembaca, yang dalam proses produksi dan interpretasi ujaran tersebut berdasarkan konteks situasi (Norman Fairclough, 2006: 3).

Bahasa juga sebagai sarana pengembangan kebudayaan diketahui ketika seseorang
mengenal dan mempelajari kebudayaan melalui bahasa. Secara felogenetik (hubungan jenis) bahasa adalah bagian dari kebudayaan, dengan demikian bahasalah yang memungkinkan pengembangan kebudayaan. Kebudayaan bangsa tertentu tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya bahasa. Fungsi ini tampak pada petunjuk untuk mempelajari hasil-hasil budaya seperti teknologi canggih, model pakaian, seni lukis, sastra, tari, tradisi masyarakat, dan sebagainya.

Secara ontogenetic (terjadinya dalam perorangan), seorang mempelajari dan mengetahui kebudayaan juga melalui bahasa. Seseorang tidak akan dapat melakukan sosialisasi dalam kelompok masyarakat tanpa memahami bahasa yang digunakan.

Wujud tradisi budaya itu dapat berupa;
a) tradisi berkesusastraan seperti tradisi menggunakan bahasa rakyat, berpuisi rakyat, berteka-teki, melantunkan nyanyian rakyat;
b) tradisi dipertunjukkan dan dimainkan rakyat seperti kepercayaan rakyat, teater rakyat, permainan rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, ritual, an pesta rakyat;
c) tradisi upacara adat atau ritual seperti upacara yang berkenaan dengan siklus kehidupan (kelahiran, pernikahan, dan kematian) dan upacara berkenaan dengan siklus mata pencaharian (menanam, merawat, dan memanen);
d) tradisi teknologi tradisional seperti arsitektur rakyat, ukiran rakyat, pembuatan pupuk tradisional, kerajinan tangan rakyat, keterampilan jahitan pakaian, keterampilan perhiasan adat, pengolahan bahan makanan dan minuman rakyat, dan peramuan obat-obatan tradisional;
e) tradisi perlambangan atau simbolisme seperti tradisi gerak isyarat tradisional, bunyi isyarat untuk berkomunikasi rakyat, dan
f) tradisi musik rakyat seperti tradisi mempertunjukkan permainan gendang, seruling, dan alat musik lainnya. Berikut akan diberikan contoh terapan budaya dalam kajian wacana.

Dalam kajianya, wacana mengkaji aspek budaya dan maksud dari suatu teks lisan atau tertulis itu dibuat atau diucapkan. Wacana bisa terbentuk dalam lagu, puisi, pantun, cerita rakyat, dst. Misalnya pada lagu gundul – gundul pacul.

Gundhul gundhul pacul cul (Gundul gundul cangkul)
Gembèlengan (sembrono)
Nyunggi nyunggi wakul kul (Membawa bakul (di atas kepala))
Gembèlengan (sembrono)
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar (Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman)
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar (Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman)

Yang setelah dianalisa, lagu tersebut bermaksud menginatkan kepada pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi pembawa pacul untuk mencangkul (mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya) tanggung jawab. Namun, orang yang sudah kehilangan empat indera tersebut akan berubah sikapnya menjadi congkak (gembelengan).

Dalam hubungan antara budaya pengetahuan atau keyakinan dan wacana cukup sederhana: pengetahuan budaya tertentu diperlukan untuk menghasilkan dan sepenuhnya memahami wacana masyarakat (Bartlett melalui van Dijk, 2014:192), misalnya, dalam studi dasar peran skema pengetahuan dalam budaya, menunjukkan bahwa untuk memahami kisah adat asli Amerika Utara ("Perang hantu") satu kebutuhan pengetahuan masyarakat adat yang relevan. Tanpa pengetahuan seperti itu, Penerima budaya lain dalam menceritakan kembali mereka biasanya mengubah cerita agar dapat lebih baik skema pengetahuan budaya mereka sendiri.

Selain itu dalam memahami cara berfikir dan cara berkomunikasi seseorang, unsur kebudayaan sangat berpengaruh (Wierzbicka, 1992: 2). Hal ini untuk menghindari adanya mispersepsi, sebab berbeda kebudayaan dapat pula memengaruhi perbedaan penafsiran. Jadi, menafsirkan suatu wacana harus berlandaskan pada budaya pembuat wacana.
Kearifan lokal berasal dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom), dan lokal (local). Kearifan lokal dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge” atau kecerdasan setempat “local genious”. Pendapat tersebut juga dilontarkan oleh Rahyono (2009) yang berpendapat bahwasanya kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. “Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal”.
Pengertian kearifan lokal menurut UU no 32 Tahun 2009 adalah adalah nilai­-nilai luhur yang berlaku di dalam tata kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk melindungi sekaligus mengelola lingkungan hidup secara lestari. Pendek kata, pengertian kearifan lokal adalah sesuatu hal yang telah melekat pada masyarakat dan telah menjadi ciri khas di daerah tertentu secara turun­temurun dan telah diakui oleh masyarakat luas
Kearifan Lokal juga dapat diartikan sebagai adat dan kebiasan  yang telah mentradisi dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun yang hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya oleh  masyarakat hukum adat dalam suatu wilayah di negara tercinta Indonesia ini, seperti Subak di Bali, Bera di Kalimantan dan lain sebagainya. Kearifan lokal tumbuh dan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat itu sendiri, di mana beberapa hal akan berperan penting dalam perkembangannya, di antaranya: Bahasa, agama, kesenian, taraf pendidikan masyarakat, perkembangan teknologi dan yang lainnya. Kearifan lokal dapat dibedakan menjadi dua garis besar, yaitu:
a.              Kearifan lokal tradisional atau kearifan lokal lama. Yang mana kearifan lokal di sini adalah kearifan lokal yang telah dijalankan secara turun temurun dalam waktu yang sangat panjang.

b.             Kearifan lokal kontemporer atau kearifan lokal baru. Kearifan lokal ini muncul karena adanya pengaruh beberapa hal seperti: perkembangan teknologi dan masuknya budaya luar pada suatu daerah. 
1.             Definisi Wacana dan Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “buddhayah”, yang merupakan bentuk jamak dari “buddhi” (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut “culture”, yang berasal dari kata Latin “colere”, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
KBBI mendefinisikan budaya sebagai; 1) pikiran; akal budi: hasil --; 2) adat istiadat, 3) sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yg --; 4) sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah. Newmark  (1988: 94) mendefinisikan budaya  sebagai  cara  hidup  dan berbagai  manifestasinya  yang  identik dengan  suatu  komunitas  yang menggunakan  bahasa  tertentu  sebagai alat  untuk  berekspresi.
Sedangkan Wacana merupakan rangkaian ujaran yang untuh pada suatu tindak komunikasi yang teratur dan sistematis yang mengandung gagasan, konsep, atau efek yang terbentuk pada konteks tertentu (Foucault, 1972:48-49). Wacana dapat berbentuk lisan maupun tulisan.
2.             Hubungan Wacana dan Budaya
Dalam kaitanya wacana dan budaya, kita dapat melihat dari segi pengetahuan sosial budaya dalam inferensi percakapan dan Komunikasi antar etnis, serta Wacana, Perubahan, dan Hegemoni. Dalam inferensi percakapan, bisa dilihat dari tinggi rendah nada, dst. Komunikasi antar etnis lebih mengarah kepada bertemunya budaya dari satu etnis atau suku berbeda dengan suku lainya. Sedang dalam Wacana, Perubahan, dan Hegemoni, yaitu Wacana mengimplikasikan penyerapan tuturan  dan tulisan yakni reproduksi dan negosiasi hubungan kekuasaan dan dalam proses ideologi dan perjuangan ideologi.
Selain itu, budaya atau kebudayaan dibagi atas;
a)             Kebudayaan sebagai pembeda alami
·                Kebudayaan membedakan secara alami antara manusia dengan hewan
·                Pengetahuan digunakan untuk berinteraksi dengan sesama
·                Pengetahuan yang diturunkan secara turun temurun
·                Bahasa bagian dari kebudayaan membedakan keyakinan atau praktek budaya
b)             Kebudayaan sebagai pengetahuan
·                Kebudayaan itu pelajari, diahayati dalam pola pikir tertentu
·                Bahasa sebagai jalan untuk mengetahui budaya
·                Memaparkan budaya sama halnya memaparkan bahasa
c)             Kebudayaan sebagai komunikasi
·                Kebudayaan dianggap sebagai sistem
·                Kebudayaa melihat dunia melalui mitos, cerita, pribabahasa, karya seni, teori
·                Kebudayaan sebagai penerjemahan pengalaman manusia
·                Komunikasi budaya diturunkan dalam bentuk metafora sebagai cara mengelola sosial dan lingkungan alam
d)            Kebudayaan sebagai alat mediasi
·                Bahasa dan artefek adalah wujud budaya sebagai mediasi menusia dengan lingkungan
·                Alat sebagai mediator antara manusia dengna lingkungan
·                Contoh simbol “no visitor” artinya memninta orang untuk pergi
e)             Kebudayaan sebagai sistem praktek
·                Bahasa sebagai sistem aktif dalam politik dan birokrasi
·                Penggunaan bahasa yang tidak lepas dalam ranah politik, media, kepentingan, dan birokrasi
f)              Kebudayaan sebagai sistem partisipasi

bahasa sebagai cara berpartisipasi di dalam interaksi untuk mendapatkan informasi, memecahkan masalah dan berbagi informasi. Contoh: diskusi, musywarah, 
Contohnya adalah pada jurnal yang berjudul ANALISIS WACANAKRITIS PROGRAM MATA NAJWA “BALADA PERDA” DI METROTV. Jurnal tersebut ditulis oleh Christo Rico Lado dalam jurnal E-Komunikasi. Didalam jurnal, peneliti menggunakan teknik analisis wacana kritis model Teun van Dijk. Kemudian, dengan  perpaduan  analisis  teks,  kognisi  sosial  dan  konteks (model Teun van Dijk),  hasilnya peneliti menemukan wacana  yang dibangun Mata Najwa meneguhkan pandangan bahwa perda pasca otonomi daerah mengundang pro dan kontra dalam masyarakat. Peneliti juga menemukan bahwa tayangan Mata Najwa Balada Perda dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi media Metro TV. Karakteristik AWK dalam jurnal tersebut yakni kekuasaan dan ideology.

Lalu bagaimana kita dapat menganalisi suatu berita dan bagaimana posisi kita sebagai seorang peneliti?

Bisa kita gunakan metode analisis wacana kritis fairclough atau dikenal dengan teori DRA atau Dialectical Relational Approach. Langkahnya adalah mengumpulkan satu judul berita dari beberapa media, bisa juga media online. Boleh dihari (tanggal) yang sama atau berbeda hari (tanggal), namun dengan topik yang sama. Misalnya saja, pada kasus ucapan kontroversial tokoh politik ahok. Sebagai contoh; jurnal berjudul ANALISIS WACANA PEMBERITAANSELEBRITI  PADA MEDIA ONLINE (Proceeding PESAT [Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur & Teknik Sipil]), ditulis oleh Edy Prihartono yang menggunakan teori fairclough. Dalam jurnal tersebut menyoroti pemberitaan mengenai penangkapan tokoh selebriti, Raffi Ahmad atas kasus narkoba. Peneliti menganalisa pemberitaan pada empat media online, yakni www.kompas.com, www.republika.com, www.mediaindonesia.com dan www. detik.com. berita tersebut diambil pada tanggal 27-29 Januari 2013.

Analisis wacana dalam suatu berita memungkin suatu peneliti menemukan sebuah ideologi yang ada dalam berita tersebut.  Jadi posisi peneliti adalah sebegai peng-analisa teks berita tersebut dan melihat ideologi yang ada didalamnya, yakni bagaimana suatu media membingkai beritanya.


Karakteristik penting  dari  analisis  wacana  kritis yakni sebagai berikut;
a.       Tindakan 
Karakter penting pertama dalam analisis wacana kritis yaitu wacana dipahami sebagai  tindakan. Dengan pemahaman  ini, wacana disosialisasikan sebagai bentuk interaksi. Wacana tidak didudukkan seperti dalam ruang tertutup dan hanya berlaku secara internal semata. Ketika seseorang berbicara, maka dia menggunakan bahasa untuk tujuan berinteraksi dengan orang lain melalui komunikasi bahasa verbal. Dia berbicara  bisa  jadi  untuk  meminta  atau  memberi  informasi,  melarang  seseorang untuk  tidak  melakukan  sesuatu,  mempengaruhi  orang  lain  agar  mengikuti  jalan pikirannya,  membujuk  seseorang  untuk  menyetujui  dan  melaksanakan  apa  yang menjadi keinginannya, dan sebagainya.
Dalam karakteristik tindakan, analisis wacana kritis memandang bahwa wacana  memiliki  beberapa  konsekuensi.  Konsekuensi  pertama,  wacana dipandang  sebagai  sesuatu  yang  memiliki  tujuan;  apakah  untuk  mempengaruhi orang  lain,  mendebat,  membujuk,  menyanggah,  memotivasi,  bereaksi,  melarang, dan  sebagainya.  Kedua,  wacana  dipahami  sebagai  sesuatu  yang  diekspresikan secara  sadar,  terkontrol,  bukan  sesuatu  yang  diluar  kendali  atau  diekspresikan  di luar kesadaran.
b.      Konteks
Memahami  analisis  wacana  tidak  hanya  memahami  bahasa  sebagai mekanisme  internal  dari  linguistik  semata,  melainkan  juga  hendaknya  melihat unsur di luar bahasa. Guy Cook (dalam Sobur,2009:56) mengatakan bahwa wacana meliputi  teks  dan  konteks.  Teks merupakan  semua  bentuk  bahasa,  bukan  hanya kata-kata  yang  tercetak  di  lembar  kertas,  tetapi  juga  semua  jenis  ekspresi komunikasi,  ucapan,  musik,  gambar,  efek  suara,  citra,  dan  sebagainya.  Konteks merupakan  semua  situasi  dan  hal  yang  berada  di  luar  teks  dan  mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks diproduksi, fungsi  yang  dimaksudkan,  dan  lain  sebagainya. Adapun wacana  disini,  kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks.
Eriyanto (2001:8) melihat bahwa titik perhatian analisis  wacana  ialah  menggambarkan  teks  dan  konteks  secara  bersama-sama dalam  suatu  proses  komunikasi.  Di  sini,  dibutuhkan  tidak  hanya  proses  kognisi dalam  arti  umum,  tetapi  juga  gambaran  spesifik  dari  budaya  yang  dibawa. Lebih  lanjut Eriyanto (2001:8) menyebutkan beberapa konteks yang penting karena  berpengaruh  terhadap  produksi  wacana.  Secara  umum,  konteks  tersebut terbagi menjadi dua. Pertama, jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnik, agama, dalam  banyak  hal  relevan  dalam menggambarkan wacana. Kedua,  setting sosial  tertentu,  seperti  tempat,  waktu,  posisi  pembicara  dan  pendengar  atau lingkungan  fisik  adalah  konteks  yang  berguna  untuk  mengerti  suatu  wacana.
c.       Historis
Analisis  wacana  kritis  tidak  hanya mencari  tahu  kapan  tentang  sesuatu  hal  terjadi,  namun  menggunakannya  untuk mengetahui lebih lanjut tentang mengapa wacana tersebut dibangun. Aspek historis ini menjadi salah satu penuntun untuk menjawab pertanyaan tersebut. Eriyanto (2001:9) menyebut bahwa salah satu aspek yang penting untuk bisa mengerti  suatu  teks  ialah  dengan menempatkan wacana  tersebut  dalam  konteks historis  tertentu.  Eriyanto memberi contoh  melakukan  analisis  wacana  teks selebaran mahasiswa yang menentang Suharto.
d.      Kekuasaan
Menurut  Eriyanto  (2001:9)  setiap wacana yang muncul dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun, tidak dipandang sebagai sesuatu  yang  alamiah,  wajar,  dan  netral,  tetapi  merupakan  bentuk  pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dan masyarakat,  misalnya:  kekuasaan  laki-laki  dalam  wacana  mengenai  seksisme, kekuasaan  kaum  kulit  putih  atas  kulit  hitam,  atau  kekuasaan  perusahaan  yang berbentuk  dominasi  pengusaha  kelas  atas  kepada  bawahan,  dan  sebagainya. Dalam hal ini, pemakai bahasa bukan hanya pembicara, penulis, pendengar, atau pembaca, namun ia  juga  bagian  dari  anggota  kategori  sosial  tertentu,  bagian  dari  kelompok profesional, agama, komunitas atau masyarakat tertentu.
e.       Ideologi
Analisis  wacana  kritis  menganlisis  ideologi  yang  tersembunyi  dalam penggunaan bahasa dalam teks lisan dan tulisan. Ideologi  merupakan  kajian  sentral  dalam  analisis  wacana kritis.  Hal  ini menurut  Eriyanto  (2001:13)  karena  teks,  percakapan,  dan  lainnya adalah bentuk dari praktik  ideologi atau pencerminan dari ideologi  tertentu. Wacana  dalam  pendekatan ini dipandang  sebagai  medium  oleh  kelompok  yang  dominan  untuk mempengaruhi  dan mengomunikasikan  kepada  khalayak  kekuasaan  dan  dominasi yang mereka miliki,  sehingga  kekuasaan  dan  dominasi  tersebut  tampak  sah  dan benar.

Van  Dijk  (1991:118)  menyatakan  apabila  kognisi  sosial  dalam  kelompok sosial  kegiatan  sosial  yang  seharusnya  berbeda,  namun  ternyata  memiliki kesamaan, maka hal  itu  sudah ada dalam kerangka  fundamental  yang  sama, yaitu ideologi. Ideologi berbentuk norma dasar, nilai, dan prinsip-prinsip lain digerakkan oleh realisasi minat dan tujuan dari sebuah kelompok, melalui reproduksi dan usaha legitimasi  kekuasaannya. Ada  beberapa  implikasi  yang berkaitan dengan ideologi ; Pertama, ideologi secara inheren bersifat  sosial,  tidak  personal  atau  individual:  ia membutuhkan  share  di antara  anggota  kelompok  organisasi  atau  kolektivitas  dengan  orang  lainnya. Hal yang  di-share-kan  tersebut  bagi  anggota  kelompok  digunakan  untuk membentuk solidaritas  dan  kesatuan  langkah  dalam  bertindak  dan  bersikap.  Kedua,  ideologi meskipun bersifat sosial,  ia digunakan secara  internal di antara anggota kelompok. Oleh karena  itu,  ideologi  tidak hanya menyediakan  fungsi koordinatif dan kohesi tetapi  juga  membentuk  identitas  diri  kelompok,  membedakan  dengan  kelompok lain.