Tuesday, 7 February 2017

Suku Dayak dan Islam Akibat Framing Media


Seorang teman pernah bertanya, eh dikalimantan itu menakutkan ya? Sukunya tu bisa makan orang alias kanibal? Suku Dayak di Kalimantan tu suka penggal orang… Pernah juga teman mengatakan bahwa Kalimantan itu masih hutan, alias primitif. Saya sich pengen ke Kalimantan, tapi takut… begitu kata teman….

Alasan dan jawaban mereka sederhana, dapat/ baca berita/informasi di Tv atau informasi dikoran-koran or cerita-cerita.

Pernah suatu ketika melihat timeline di medsos, ada satu artikel website berjudul kisah dayak pemakan manusia atau ular yang besar memakan manusia.

Tentu bagi saya yang notabene lahir dan besar di Kalteng, saya merasa, ah cerita lama, Kalimantan sekarang sudah berbeda… sudah lebih maju.

Namun bagi mereka yang ingin melihat Kalimantan melalu media / berita, tentu mereka akan terpengaruh oleh apa yang mereka baca.

Nah disini, bingkai atau frame berita yang membuat masyarakat melihat Kalimantan itu serba primitf, serba menakutkan…

So, dalam tulisan ini saya kasih gambaran berita, framing dan akibat dari framing…

Menurut Tuchman dalam bukunya making news menyatakan bahwa “berita adalah jendela dunia”. So, melalui berita kita dapat melihat kondisi situasi diberbagai belahan dunia.

Namun, apa yang kita lihat, rasakan, ketahui tentang dunia lewat berita bergantung kepada jendela yang kita pakai. Apakah jendela itu besar atau kecil. Dengan jendela yang besar, tentu kita akan melihat dunia lebih luas, sebaliknya, dengan jendela tentu pemandangan or pandangan kita menjadi terbatas. Apalagi jika ditambah jendela itu berjerugi atau teralis dan ditambah lagi gorden.

Faktor lain lagi, jika jendela itu dapat dibuka lebar atau tidak. Sehingga timbul pertanyaan, melalui jendela tsb, apakah kita dapat melihat dunia secara bebas dan luas? Atau kita hanya sekedar mengintip dari dalam? Nah begitulah ilustrasi jendela dalam berita, Jendela itu yang disebut dengan Frame (bingkai).

Layaknya sebuah jendela, seringkali ada batasan atau hambatan pandangan kita dalam melihat dunia luar atau realitas yang sebenarnya. Berikut contoh framing dan akibatnya.

Artikel mengenai Islam di Barat berjudul “Covering Islam: How the media and the expert determinate how we see the rest of the world” ditulis oleh Edward W. Said. Artikel tersebut sudah lama ditulis, yakni pada tahun 1981. Namun, akan memberikan gambaran mengenai Islam itu seperti apa dalam penggambaran media Barat waktu itu dan efeknya dapat kita nilai hingga sekarang.

Menurut Said, Media – media barat waktu itu menggambarkan Islam dengan pandangan yang ortodoks. Dalam KBBI, ortodoks berarti 1) berpegang teguh pd peraturan dan ajaran resmi, msl dl agama; 2 kolot; berpandangan kuno), dalam hal ini Agama Islam itu digambarkan sebagai sesuatu yg kuno atau kolot. Bahkan Islam juga digambarkan dengan kegarangan dan Tradisional.

Menurutnya, narasumber berita juga dengan orang yang itu-itu saja alias sama, pakar juga itu-itu saja, dan dengan pandangan buruk terus menerus.

Islam Identik dengan potong tangan atau hukuman rajam yang tidak manusiawi dan orang-orangnya culas serta teroris. Mungkin hingga hari ini, Islam sebagai teroris masih melekat akibar framing ini. Selain itu, Islam juga identik dengan timur tengah, wilayah yang secara geografis sangat jauh dari lokasi mereka. Hanya segelintir orang yang pernah mengunjungi atau paling tidak belajar serius mengenai timur tengah dan Islam.

Dalam hal ini, media adalah sarana yang paling dominan bagaimana wilayah itu digambarkan dan ditampilkan, dan akhirnya hal tersebut memenuhi imajinasi, impian dan stereotip tentang Islam.

Lalu bagaimana Islam menurut media Barat dewasa ini? Tentu anda dapat melakukan peneliaian sendiri, dan buka jendela anda lebar-lebar untuk melihat dunia anda. Meski Artikel tersebut dokumen lama dan ditulis sekitar 36 tahun lalu, namun terlihat bagaimana penggambaran Islam oleh media Barat dan Efek dari Framing hingga sekarang.

Hal tersebut ditambah dengan kejadian 9/11. Dimana dua pesawat menabrak gedung WTC, dan ditengarai bahwa itu adalah aksi teororisme serta dilakukan oleh orang-orang Islam. Bagaimana media barat memberitakan or frame, anda tentu dapat membuka berita or media melalui smartphone anda.. dan menilai sendiri, hal ini tentu mudah bukan.

Hal yang sama berlaku di Indonesia. Masyarakat Melayu atau Dayak yang sadis pernah dipertontonkan jika membaca Koran. Apalagi berkaitan dengan kerusuhan dibeberapa wilayah Kalimantan terutama Kalteng tahun 2000an. Apa yang tergambar mengenai kerusuhan antar suku itu kita peroleh melalui media dan jarang kita melihat ataupun mengalaminya langsung.

Saya waktu itu masih kelas 6 SD, tentu saya tahu dan mengalami. Saya juga telah berdiskusi dengan salah seorang teman, bahwa hingga sekarang apa penyebab masih simpang siur alias belum jelas. Namun jika anda membuka YouTube dan beberapa website, maka sungguh anda diperlihatkan bagaimana kengerian yang terjadi saat itu.

Hal tersebut membuat atau yang tergambar dibenak seorang teman yang takut akibat media padahal dia belum pernah sama sekali mengunjungi dan berinteraksi dengan suku dayak di Kalimantan.

Suku Dayak juga digambarkan sebagai tinggal didalam hutan, tidak memakai pakaian atau masih serba kuno. Kalau baca dikoran, medsos atau media lain, seringkali kita masih menemui berita tersebut, mengenai kengerian perang antar suku, Mandau melayang, memakan manusia, masih primitive, dll. sehingga jika kita membuka suatu media mengenai suku dayak maka yang muncul dalam benak adalah bagaimana orang Dayak itu begitu biadab dan sadis.

Padahal, realitas dilapangan tidak demikian.

Nah, Pandangan seperti ini dibentuk oleh media, lebih khusus lagi frame mengenai bagaimana peristiwa itu dilihat, kemudian ditampilkan, ditonjolkan oleh media tentang peristiwa, aktor atau kelompok tertentu.

Begitulah Framing, membentuk dan membuat sesuatu, media dan berita sebagai jendela kita melihat dunia. Jika jendela kita buka lebar dan luas, maka kita akan lebih luas lagi melihat dunia kita.

Ini hanya bagian pengantar mengenai framing, pada artikel selanjutnya akan dikupas mengenai framing dan berita….

Referensi :

Eriyanto. (2002). Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media,. LKIS : Yogyakarta.

Tuchman, Gaye. (1978). Making News: A study in the Construction of Reality,. The free Press : New York.


Said, Edward W,. (1981). Covering Islam: How the Media and the Expert Determinate How We See the Rest of the World. Pantheon Books : New York.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2012 TukangTerjemahDotCom Seo Elite by BLog BamZ | Blogger Templates