Riemer (2010) menyatakan bahwa ada dua sumber yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna, yakni adanya peran dari conventionalization of implicature dan grammalization. Aminuddin (2008) juga menyatakan bahwa faktor gramatik juga mempengaruhi pergeseran makna, seperti pada contoh penggunaan kata ibu akibat mengalami relasi gramatik dengan kota akhirnya tidak merujuk pada “wanita” tetapi pada tempat atau daerah.

Baca:
Faktor yang mempengaruhi pergeseran makna menurut Ullman
Pergeseran Makna menurut Chaer
Anafora, Katafora, Semantik, Komunikatif, Maxim grace, Rema dan Tema
Kedudukan Analisis Wacana Dalam Berbagai Disiplin Ilmu, Peran/Fungsi Berbagai Disiplin Ilmu Terhadap Kajian Wacana, dan Ancangan Dalam Kajian Wacana


Nugraheni (2006) menyatakan bahwa kemajuan  ilmu  dan  pengetahuan  merupakan  salah  satu  faktor  yang  menyebabkan terjadinya  perubahan  makna.

Kemudian suwandi dalam putra (2015) mengungkapkan 11 faktor yang mempengaruhi pergeseran makna, yaitu

  1. faktor linguistik, 
  2. faktor  kesejarahan,  
  3. faktor sosial masyarakat, 
  4. faktor psikologis, 
  5. faktor kebutuhan  kata baru, 
  6. faktor perkembangan ilmu dan teknologi, 
  7. faktor bahasa asing, 
  8. faktor asosiasi, 
  9. faktor tanggapan indera, 
  10. faktor perbedaan tanggapan pemakai bahasa, 
  11. dan, faktor  penyingkatan. 


Referensi

Riemer, Nick. (2010). Introducing Semantics. Cambridge: Cambridge University Press

Aminuddin. (2008). Semantik “Pengantar Studi tentang Makna”. Bandung: Sinar Baru Agensindo.
Nugraheni, Yunita. (2006). Perubahan Makna Pada Istilah Ekonomi. Jurnal Value Added, 2 (2), 1-15. (http://jurnal.unimus.ac.id)

Putra, Hutama. (2015). Perubahan Makna Pada Wacana Humor Cak Lontong. Artikel Publikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dalam penerjemahan subtitle, ada beberapa kesulitan yang mungkin dihadapi oleh penerjemah. Hastuti (2011) mengungkapkan kesulitan penerjemahan subtitle yakni dari segi bahasa dan budaya, makna pragmatic, dan segi media.

Dari segi bahasa dan budaya,   kesulitan yang mungkin dihadapi adalah dalam hal acuan kultural,  idiom, permainan kata,    sindiran  humor  dan  makna  pragmatik.  Kesulitan  dalam  acuan  budaya  yang  mungkin timbul  adalah   kadang penerjemah  tidak  tahu   kebiasaan budaya dari bahasa  sumber.   Begitu pula dengan kesulitan    idiom dan permainan kata. Sering kali  idiom sulit untuk diterjemahkan dan kadang penerjemah sulit mencari padanan dalam permainan kata-kata tertentu. Selanjutnya sindiran  humor  dan    makna  pragmatik  juga  menjadi  kesulitan  tersendiri  bagi  penerjemah. Terkadang  sindiran humor yang halus  sering  luput dari mata  awas penerjemah. Atau, kadang sulit  sekali    mencari  terjemahannya  karena  sindiran  humor  tersebut  terkait  dengan  budaya bahasa sumber.
Sementara dalam hal makna pragmatik, penerjemah sering menjumpai kesulitan  mencari terjemahan yang dapat   menggambarkan   hubungan antara dua tokoh, terutama tokoh-tokoh yang memakai dialek tertentu. Dari  segi media,    ada  dua  hal  yang menyulitkan  dalam  subtitling  yakni    pembatasan waktu  dan  tempat  (layout).  Ada  beberapa  ketentuan  dalam  tentang  tata  letak  penempatan subtitling, yakni: posisi layar harus di bagian bawah,  jumlah baris maksimal dua baris, jumlah karakter  perbaris    kurang  dari  35  karakter,    jenis  font  dan  distribusi  tanpa  sherif  (biasanya Helvetica  atau Arial)  dengan  distribusi  prorsional, warna  dan  latar  belakang  font  harus  putih pucat/transparan, dan menurut standar Eropa posisi teks ada ditengah dan untuk dialog rata kiri, dimulai dengan dash.

Baca juga:


Selanjutnya  penerjemah subtitling  juga dihadapkan dengan kesulitan  ketentuan waktu pemunculan  subtitling.  Ada  beberapa  ketentuan  waktu  kemunculan  subtitling,  yakni:  durasi untuk dua garis penuh adalah 3 – 6 detik,   durasi satu baris tunggal (7 – 8 kata) adalah kurang dari 3,5 detik, durasi subtitling satu kata tunggal adalah 1,5 detik,  waktu muncul setelah ujaran tokoh adalah 0,25 detik,   waktu menghilang setelah ujaran tokoh adalah 2 detik,   waktu antara dua  subtitling  berturutan  adalah  0,25  detik,  dan  subtitling  harus  menghilang  sebelum  ‘cut’ karena ‘cut’ menunjukkan perubahan tematik.

Referensi

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66





              Haryanto  dalam Hastuti (2011)  memaparkan  11  strategi yang dapat digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan subtitle film. Strategi-strategi tersebut adalah sebagai berikut:

a.    Penambahan (expansion), yakni penambahan   mengandung maksud   penambahan keterangan   di  terjemahannya, misalnya kalimat “That’s in the dead-duck day”  diterjemahkan menjadi “Itu terjadi di bebek mati (hari itu seekor bebek mati kena lemparan rotiku)”.

b.    Parafrase (paraphrase), yakni pada  strategi  ini,  penerjemah    menerangkan    bagian  dari  kalimat sesuai dengan pengertiannya sendiri. Misalnya, Turn back no longer di terjemahkan menjadi “Jangan lagi melihat masa lalu”.

c.    Transfer (transfer), yakni  penerjemahan harfiah, apa adanya, tidak ada keterangan tambahan,  tidak ada  pengubahan  sudut  pandang,  dan  tidak  ada    penafsiran  yang  berani. Misalnya, “Turn back no longer” diterjemahkan menjadi “Jangan lagi melihat-melihat ke belakang”.

d.   Imitasi (imitation) , yakni suatu  strategi  di mana  penerjemah menulis  ulang    kata  dalam  naskah  asli  apa adanya, biasanya untuk nama orang atau nama tempat. 

Baca juga:

e.    Transkripsi (transcription), yakni menulis  ulang    penggunaan  tertentu  untuk memenuhi fungsi  tekstual  akan  bagaimana  bahasa    tersebut  digunakan.  Sebagai  contoh,    cara pengucapan sebuah kalimat di dalam naskah asli  dapat dicerminkan di dalam subtitling.

f.     Pemampatan (condensation), yakni naskah asli diringkas untuk menghilangkan ucapan-ucapan  yang  menurut  subtitler tidak  begitu  penting.  Namun  demikian, pemampatan terjemahan bisa membuat  hilang efek pragmatik padahal maksud asli naskah atau tokoh harus tersampaikan.

g.    Desimasi (desimation), yakni  pemampatan  yang  ekstrem.  Biasanya  dilakukan  untuk  menerjemahkan tokoh yang sedang bertengkar  hebat dengan kata-kata yang cepat.

h.    Penghapusan (deletion), yakni  sebagian naskah asli  dihapus dari terjemahannya  karena  dipercaya bahwa bagian  itu  hanya tambahan yang tidak perlu.  Perbedaan  pemampatan  dan  penghapusan adalah dalam pemampatan, tidak ada bagian yang dihilangkan, hanya  dimampatkan sedangkan dalam penghapusan ada bagian yang di potong.

i.      Penjinakan (taming), yakni digunakan untuk menerjemahkan  kata-kata yang kasar sehingga menjadi kata-kata yang bisa diterima oleh pemirsa.

j.      Angkat tangan (resignation). Resignation dilakukan ketika tidak ditemukan solusi    penerjemahannya  dan makna  pun ikut hilang atau dengan kata lain ‘tidak diterjemahkan’.


Referensi

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66.
Perkembangan industri film pendek semakin berkembang cepat. Sejumlah produsen film memproduksi film pendek dan mengunggahnya ke youtube dan media sosial lainnya. Film-film tersebut disajikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia digunakan oleh para tokoh dalam berdialog dan selanjutnya sebagai bahasa sumber (Bsu), sedangkan bahasa Inggris digunakan sebagai subtitle dan selanjutnya digunakan sebagai bahasa sasaran (Bsa). Dengan demikian, pononton dapat menonton dalam dua bahasa.

Ada dua jenis terjemahan film yakni dubbing dan subtitling (Boordwell  &  Thompson  dalam Hastuti, 2011: 58). Kedua jenis penerjemahan  ini  mempunyai  perbedaan  yang  cukup  signifikan. Boordwell  &  Thompson  dalam Hastuti (2011:58) mengatakan  bahwa dubbing  atau sulih suara adalah suatu proses menggantikan suara dalam  suatu  ‘soundtract’ untuk  membetulkan  kesalahan-kesalahan  yang  ada  dan  merekam kembali dialog tersebut. Sedangkan Gambier dalam Hastuti (2011:58) menyatakan bahwa subtitling adalah terjemahan dialog film yang di tuliskan di  bagian  bawah  pada  film  tersebut.  Seperti  halnya  sulih  suara,  tujuan ‘subtitling’ adalah membantu  pemirsa  untuk  menikmati  sebuah  film,  apakah  itu  film  dokumenter  atau  cerita, drama, aksi, dan lain-lain.

Teguh (2014) mendefiniskan screen Translation (read more) atau biasanya disebut dengan subtitling, yakni penerjemahan ini mengolah data input berupa bahasa lisan yang diucapkan oleh tokoh dalam sebuah film drama, atau bentuk penyajian yang lain yang menjadi output berupa tulisan dan kemudian muncul dalam layar monitor. 

Dalam suatu subtitling, penerjemah berhadapan dengan suatu fenomena unik yakni  teks sumber adalah sebuah  teks  lisan yang didukung oleh setting tempat, ilustrasi musik, mimik  tokoh  dan  sebagainya  dan  ia  harus menerjemahkan  teks  lisan  tersebut menjadi teks tulis. Dalam penerjemahan, makna  suatu “teks” akan dipengaruhi oleh kontek situasi, sedangkan kontek situasi akan dipengaruhi oleh  kontek budaya. 

Menerjemahkan (read more about definition of translation) film, kontek situasi dan pemahaman lintas budaya  merupakan bekal utama yang harus dimiliki oleh  penerjemah  dalam  melakukan  pekerjaanya  sehingga  ia  akan  mampu  memilih  strategi penerjemahan yang tepat. Hal ini senada dengan Newmark (1988) menyatakan bahwa teks yang diproduksi itu selalu melibatkan individu, budaya, dan univeral sebagai ciri bahasa, sehingga penerjemah dalam menerjemahkan harus memahami dan memiliki latar belakang mengenai Bahasa sasaran dan bahasa sumber.

Dalam proses penerjemahan perlu dilakukan penyesuaian dalam menentukan strategi, metode penerjemahan, dan sasaran penerjemahan. Tanjung (2015) menyebutkan bahwa teknik dalam penerjemahan terdiri atas adaptasi, ekuivalensi, transposisi, dan modulasi (read more about strategi penerjemahan). Kemudian Halliday dalam Newmark (1991) menyatakan tiga tahap yang berkaitan dengan penerjemahan, yaitu sebagai berikut: 
  1. Kesetaraan atau kesepadanan tiap-tiap bagian yang ada dalam teks sumber dan teks sasaran, 
  2. Peninjauan kembali baik dalam maupun di luar lingkup linguistik untuk mempertimbangkan situasi atau kondisi teks sumber dan teks sasaran, 
  3. Peninjauan kembali dalam segi atau fitur-fitur gramatikal dan leksikal pada teks sasaran


Referensi:

Hastuti, Endang Dwi,  Nunun Tri Widarwati, Giyatmi, dan Ratih  Wijayava, 2011, Analisis Terjemahan Film  Inggris - Indonesia:   Studi Kasus Terjemahan Film “Romeo And Juliet” (Kajian Tentang Strategi Penerjemahan), Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM Univet Bantara Sukoharjo, 57-66.

Teguh. (2014). Bentuk Equivalence and Translation Shift dalam Subtitle Drama Korea Daejangeum 鲵녚鞽 (Jewel in the Palace). Tesis, tidak dipublikasikan. Universitas Negeri Yogyakarta

Tanjung, Sufriati,. (2015). Penilaian Penerjemahan Jerman – Indonesia. Yogyakarta : Kanwa Publisher

Newmark, P,. (1988).  A Textbook of Translation. Hertfordshire: Prentice hall.





Teknik Sipil merupakan satu bidang yang lekat dengan keseharian kita. Kehadiran Bahasa Inggris juga diperlukan guna padanan istilah. Berikut daftar istilah teknik dalam Bahasa Inggris:

Terjemahan istilah teknik dari bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris.


Beton Normal : original concrete
pemisahan kerikil dari adukan  atau  segregasi : segregation
pemisahan air dan semen dari adukan atau  bleeding: bleeding
Agregat Beton: Concrete Aggregates
Beton Serat : Fiber Concrete
Beton Non Pasir : No-Fines Concrete
serat : fiber
beton serat : fiber concrete
Serat Baja : Metallic Fiber / Steel Fiber
Serat Sintetis : Polymeric Fiber
beton asli: original concrete
beton siklop : cyclop Concrete
beton hampa : hollow concrete
beton mortar : Mortar Concrete
beton massa : Mass Concrete
Proyek bangunan tinggi: high rise building
perumahan : residensial
Highrise: bangunan tinggi
lowrise building: bangunan rendah
Light-weight concrete: beton ringan
batu apung : pumice
hantaran suara: sound transmission
peresapan air: water absorption
konduktivitas panas: thermal conductivity
kawat bendrat : Rebar Tie wire / Concrete Wire
serat bendrat : Rebar Tie Fiber / concrete fiber
retak rambut : micro crack
workability : kelecakan
sintetis : synthetic
berat serat : fiber weight
Merosot: slump
kuat tekan beton : concrete Compression Strength
Agregate Halus: fine aggregate
Agregate Kasar: Coarse aggregate
Batas cair: liquid limit
Berat jenis: specific gravity
Kadar air: moisture content


Bergelombang : crimped.
Bergerigi : idented.
Berkait : hoocked.
Bundle : paddled.
Double duo form.
Kedua ujung di tekuk : enfarged end.
Lurus : straight.
Ordinary duo form.
Tidak teratur : irrengular

Penampang serat baja : steel fiber cross section.
Lingkaran/kawat: round/wire.

American Concrete Institute (ACI)
“Back translation” adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan “Terjemahan balik.” Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.

Untuk kalimat yang tampaknya mudah dan sederhana, biasanya penerjemah yang belum banyak berpengalaman cenderung untuk segera saja mulai menerjemahkannya, tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan konteks dan lain-lain. Terjemahan semacam itu saya namakan “terjemahan instan.”
Terjemahan instan cenderung rentan menghasilkan kalimat yang maknanya mungkin jauh berbeda dari maksud penulis aslinya.

Contohnya, kalimat sederhana seperti
DAVID LOVES HIS WIFE, AND ME TOO.
dengan serta-merta, secara “instan,” cenderung langsung saja diterjemahkan menjadi
DAVID MENCINTAI ISTERINYA, DAN SAYA JUGA.

Apabila penerjemah mempertimbangkan konteks, makna kalimat sederhana tersebut dapat dipikirkan atau dipilih dari paling sedikit lima kemungkinan terjemahan yang berbeda, misalnya:

David loves his wife, and me too.
0. David mencintai isterinya, dan saya juga.
1. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.
2. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri saya.
3. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.
4. David mencintai isteri orang lain (misalnya isteri Peter), saya juga mencintai isteri Peter.
5. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.
6. dst … dst…


Proses Terjemahan Balik

Lima kalimat Indonesia hasil terjemahan tersebut di atas kemudian diterjemahkan balik oleh lima orang (atau lebih) ke dalam bahasa Inggris. Contoh terjemahan balik di bawah ini menunjukkan kemungkinan bahwa lima terjemahan instan tersebut dapat ditafsirkan kembali ke dalam lima (bahkan lebih) kalimat berbeda yang sangat mungkin bermakna beda karena berasal dari konteks yang ditafsirkan berbeda-beda pula.

0-A. David mencintai isterinya, dan saya juga.
a. David loves his wife, and me too.
b. David loves his wife, so do I.
1-A. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.
a. David loves his wife, and David (also) loves me.
b. David loves his wife, and David loves me too.
2-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai isteri saya.
a. David loves his wife, and I (also) love mine.
b. David loves his wife, I love mine too.
3-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.
a. David loves his wife, and I also love David’s wife.
b. David loves his wife, and I love David’s wife too.
c. David loves his wife, so do I.
4-A. David mencintai isteri Peter, saya juga mencintai isteri Peter.
a. David loves Peter’s wife, and I also love Peter’s wife.
b. David loves Peter’s wife, so do I.
5-A. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.
a. David loves Peter’s wife, David also loves me.
b. David loves Peter’s wife, he loves me too.
6.A.. dst … dst…


Lessons Learnt
Kalau ada kalimat yang tampaknya sederhana dan sangat mudah, sebaiknya kita tidak tergesa untuk langsung menerjemahkannya. Kita justru harus “curiga” kalau menemui suatu kalimat ganjil yang tampak sangat sederhana. Telusuri dulu konteks materi asal kalimat tersebut. Apalagi kalau konteks keseluruhan bacaan yang kita terjemahkan bernuansa ragam non-formal, misalnya ragam bahasa “populer” atau bahasa “gaul.”
Kalau kita merasa ragu apakah terjemahan kita sudah tepat dan cermat, mintalah tolong kepada rekan lain untuk menerjemahkan balik terjemahan kita ke bahasa aslinya. Cara ini sering lebih efektif daripada bertanya tentang “arti” atau maksud kalimat aslinya.
Prosedur semacam ini juga cukup efektif bagi kita sendiri untuk memperbaiki kalimat bahasa Indonesia kita. Kalau rekan kita kesulitan menerjemahkan (balik) kalimat kita, ada kemungkinan hal itu disebabkan oleh tatabahasa kalimat kita yang kurang benar, kurang idiomatik, ambigu, atau sukar dipahami. Dari fakta ini kita akan terdorong merevisi atau memperbaiki bahasa Indonesia kita. Ini juga merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan tingkat keterbacaan (readability) tulisan kita.
Bahasa yang tinggi tingkat keterbacaannya akan mudah dipahami. Kalimat yang mudah dipahami biasanya tinggi pula tingkat keterjemahannya (translatability). Kalimat seperti itu akan menuntun penerjemah menghasilkan karya yang berprinsip “terjemahan berdasar makna,” (meaning-based translation) alih-alih “berdasar bentuk.” (form-based translation).
Bagi biro penerjemah yang mempekerjakan sejumlah penerjemah, prosedur back translation dapat digunakan sebagai latihan untuk mengembangkan “gaya selingkung” produknya.

ditulis oleh Setyadi Setyapranata

Words about labor and migration. Abbreviation and Acronym of labor and migration need to know. here are the abbreviation and acronym of labor and migration:

  1. ASEAN : Association of Southeast Asian Nations 
  2. AKAD : Antar Kerja Antar Daerah (Interprovincial Labour Placement Program) 
  3. AKAN : Antar Kerja Antar Negara (International Labour Placement Program) 
  4. BNP2TKI : Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (The National Authority for the Placement and Protection of Indonesian Overseas Workers) 
  5. BP3TKI : Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (Agency for the Service, Placement and Protection of Indonesian Overseas Workers) 
  6. Colombo Process Also known as the Ministerial Consultations for Asian Labour Sending Countries 
  7. EFMA : Employment of Foreign Manpower Act (Singapore) 
  8. EOP : Employers’ Orientation Programme (Singapore) 
  9. FAST : Foreign Domestic Worker Association for Skills Training (Singapore) 
  10. FMMD: Foreign Manpower Management Division (Singapore Government Ministry of Manpower) 
  11. FOMEMA: Foreign Workers’ Medical Examination Monitoring Agency (Malaysia) 
  12. GCC : Gulf Cooperation Council 
  13. GFMD Global Forum on Migration and Development 
  14. G-to-G: government-to-government 
  15. HOME: Humanitarian Organization for Migration Economics (NGO) (Singapore) 
  16. ILO: International Labour Organization 
  17. Kafeel system: Kuwait’s foreign worker sponsorship system 
  18. KBRI : Kedutaan Besar Republik Indonesia (Embassy of the Republic of Indonesia) 
  19. KHRS: Kuwaiti Human Rights Society (NGO) (Kuwait)
  20. KTKLN: Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (Overseas Workers Card)
  21. LMRA: Labour Market Regulatory Authority (Bahrain) 
  22. MoU: Memorandum of Understanding 
  23. MWC: Migrant Workers’ Centre (Singapore) 
  24. NTUC: National Trade Union Congress (Singapore) 
  25. NOC: No Objection Certi­cate, issued by the Kuwaiti Ministry of Social A‑airs and Labour (Kuwait) 
  26. OECD: Organisation for Economic Co-operation and Development 
  27. PRT: Pekerja Rumah Tangga (Domestic Migrant Worker) 
  28. RELA: Ikatan Relawan Rakyat Malaysia (People’s Voluntary Corps is a paramilitary civil volunteer corps formed by the Malaysian Government. Their main duty is to check the travel and immigration documents of foreigners in Malaysia, including tourists and migrants, to reduce the increasing rate of irregular migration in Malaysia.) 
  29. SAC: Safety Awareness Course (Singapore) 
  30. SBMI: Serikat Buruh Migran Indonesia (Indonesian Migrant Workers’ Union) 
  31. SUHAKAM: Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Malaysia (The Human Rights Commission of Malaysia) 
  32. TKI: Tenaga Kerja Indonesia (Overseas Migrant Worker/Labour Migrants) 
  33. TWC2: Transient Workers Count Too (NGO) (Singapore) 
  34. UNDHR: Universal Declaration of Human Right
Those are the words and terms about labor migration. Hope it'll help you.

People also like:


More tag about kosakata/words