Sunday, 18 September 2016

Language death (Kepunahan Bahasa)

Language death

Another sociolinguistic phenomenon related to language change is language death. There are more than 500 languages under the status of dying. A dying language is a language spoken by fewer and fewer people from time to time and a dead language is a language that has no speakers anymore because the speakers have totally shifted to another language (language shifting) or because they live no more.
Regarding the reasons, there are two types of language death. The first type is called partial language death and the second one is named total language death.
1) The partial language death
The partial language death is related to the language shift phenomenon found in the immigrant groups in their new land. The language of Cornish in England, Chinese and Spanish in USA, German and Greek in Australia were dead partially as the native speakers shift to English in the new land, but in their homeland the language are all still spoken.
During the first years some Indonesian families arriving in Australia and having a settlement there may still want to use Indonesian. After they have a children (the second generation), the children may begin to speak only English. However, after the third generation emerges, none of the families may be found to speak Indonesian anymore. In this phase the Indonesian language is under the status of ‘dead’. The death of Indonesian, however, is partial because in others parts of the world, Indonesian Language is still spoken.
2) The total language death
The total language death happens when the language has no more speakers left. The situation is more likely to come about to the language spoken by minority than to the language with lots of speakers. Factors  that are said to cause the death of a language include an amalgamation of extreme political pressure from the speakers of other language, deadly diseases that severely attack the speakers and economic reason associated with the use of the language.
Thus supposed that all Indonesian speakers (natives and non-natives) around the world are not, using Indonesian anymore, Indonesian language is in the state of totally dead.
Some linguists view that for the increasing numbers of English speakers, speakers of other languages are worried that their tongues may be someday dead.
Most language of American Indians indeed died in their own land after their cultures were invaded and the speakers were killed by the European immigrants. In Australia more than 50 Aboriginal languages vanished after their speakers were killed by diseases. In Brazil between the 19th and 20th century about 800 Indian languages were reported to be dead. In Tasmania the language spoken by the native people (between 3000-4000) also slowly disappeared.

see article language maintenance, click here

Kepunahan Bahasa
Fenomena sosiolinguistik lain yang berkaitan dengan perubahan bahasa adalah kepunahan bahasa. Ada lebih dari 500 bahasa dalam status ‘dying’ (menuju kepunahan). Bahasa “dying” adalah bahasa yang diucapkan oleh lebih sedikit dan lebih sedikit orang dari waktu ke waktu, sedangkan kepunahan bahasa adalah bahasa yang  tidak lagi memiliki penutur karena penutur benar-benar telah pindah ke bahasa lain (Perpindahan bahasa).
Mengenai alasan, ada dua jenis kepunahan bahasa. Tipe pertama disebut kepunahanan bahasa parsial dan yang kedua bernama kepunahan bahasa total.
1) Kepunahan bahasa parsial
kepunahan Bahasa parsial terkait dengan fenomena pergeseran bahasa yang ditemukan di kelompok imigran di tanah baru (new land) mereka. Bahasa Cornish di Inggris, Cina dan Spanyol di Amerika Serikat, Jerman dan Yunani di Australia yang mati sebagian sebagai pergeseran penutur asli bahasa Inggris di tanah yang baru, tapi di tanah air mereka bahasa yang semua tersebut masih dituturkan.
Selama tahun pertama, beberapa keluarga Indonesia tiba di Australia dan masih ingin menggunakan bahasa Indonesia. Setelah mereka memiliki anak-anak (generasi kedua), anak-anak mungkin mulai berbicara hanya bahasa Inggris. Namun, setelah generasi ketiga muncul, tidak ada keluarga yang ditemukan bicara Indonesian lagi. Dalam tahap ini bahasa Indonesia berada di bawah status 'mati'. Kematian Bahasa Indonesia, namun, ini masih sebagian karena orang lain di belahan bumi lain, bahasa Indonesia masih digunakan dalam berbicara.
2) Kepunahan bahasa total
kepunahan bahasa Total terjadi ketika bahasa  tidak ada penuturnya. Situasi ini lebih mungkin terjadi dalam bahasa yang digunakan oleh minoritas penutur dari pada bahasa dengan banyak penutur. Faktor-faktor yang menyebabkan kematian bahasa termasuk dari tekanan politik yang ekstrim dari penutur bahasa lain, penyakit mematikan yang parah menyerang penutur dan alasan ekonomi yang terkait dengan penggunaan bahasa.
Sehingga Jika semua pembicara Bahasa Indonesia (pribumi dan non-pribumi) di seluruh dunia tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia, maka bahasa Indonesia di negara ini benar-benar punah.
Beberapa pandangan ahli linguistik  dalam meningkatkan jumlah penutur bahasa Inggris, penutur bahasa lain khawatir bahwa bahasa ibu mereka mungkin suatu hari nanti hilang.
Kebanyakan bahasa Indian Amerika memang mati di tanah mereka sendiri setelah budaya mereka diserang dan penutur dibunuh oleh para imigran Eropa. Di Australia lebih dari 50 bahasa Aborigin menghilang setelah penutur mati karna penyakit. Di Brasil antara abad 19 dan  ke-20 tentang 800 bahasa Indian dilaporkan punah. Di Tasmania bahasa yang digunakan oleh penduduk asli (antara 3000-4000) juga perlahan-lahan menghilang.

Artikel pemertahanan bahasa, klik disini

Reference :
Made iwan irawan Jendra. 2012. Sociolinguistic (The study of Societies’ language). Yogyakarta; Graha Ilmu. P.144-147

0 komentar:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2012 TukangTerjemahDotCom Seo Elite by BLog BamZ | Blogger Templates