Saturday, 3 December 2016

Wacana Sebagai Praktik Sosial, Wacana dan Kekuasaan, Wacana, Kebersamaan dan Ideology, Wacana dan Praktek Budaya

Wacana dalam prakteknya berhubungan dengan disiplin ilmu lain. Wacana juga berhubungan dengan praktek sosial, budaya, kekuasaan, politik, dan ideology, sehingga muncul pertanyaan mengenai bagaimana hubungan wacana dangan hal-hal tersebut. Dalam hal ini akan dibahas mengenai 1) wacana sebagai praktek sosial, 2) wacana dan kekuasaan, 3) wacana, kebersamaan dan ideology, dan 4) Wacana dan Praktek Budaya.
1)             Wacana sebagai praktek sosial
Wacana sebagai praktik sosial yakni bahwa suatu wacana yang mengandung unsur saling mempengaruhi antara wacana dan sosial. Dalam analisis wacana dan praktek sosial, tidak hanya memandang wacana sebagai fenomena teks bahasa semata akan tetapi juga menghubungkannya dengan konteks, baik itu konteks sosial, kultural, ideologi dan domain-domain kekuasaan yang menggunakan bahasa sebagai alatnya, dalam hal ini dikenal dengan sebutan Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis.
Istilah Critical Discourse Analysis atau Analisis Wacana Kritis pertama kali digunakan oleh Fairclough dengen definisi sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk memberi penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang diinginkan.
Prinsip-prinsip AWK menurut Fairclough dan Wodak (1997: 271-280) yakni; Membahas masalah-masalah sosial, Mengungkap bahwa relasi-relasi kekuasaan adalah diskursif, mengungkap budaya dan masyarakat, bersifat ideologi, bersifat historis, mengemukakan hubungan antara teks dan masyarakat dan bersifat interpretatif dan eksplanatori.

2)             Wacana dan kekuasaan
Dalam hal wacana dan kekuasan, bahasa sebagai alat kekuasaan biasanya berbentuk persuasif yakni kekuasaan itu berupa tindakan untuk mempengaruhi seseorang dalam hal kepercayaan, sikap dan pengetahuan. Kekuasaan dalam wacana dapat dibedakan menjadi dua yakni kekuasaan di dalam wacana dan kekuasaan di balik wacana. Kekuasaan di dalam wacana terdiri dari 3 jenis yakni kekuasaan wacana dalam percakapan langsung, kekuasaan wacana dalam lintas budaya dan kekuasaan yang tersembunyi dalam wacana, sedangkan kekuasaan di balik wacana dipengaruhi oleh  situasi, konteks dan waktu.
Menurut Fairclough (1989) ada 3 hal yang mempengaruhi suatu wacana disampaikan yakni setting (tempat dan waktu), subjek (siapa yang berbicara), dan topik (isi dari apa yang disampaikan). Pisau yang digunakan untuk membedah wacana dan kekuasan bisa menggunakan AWK.

3)             Wacana, kebersamaan dan ideologi
Istilah wacana yang digunakan dalam Analisis Wacana Kritis (AWK) dalam konteks ini bahwa wacana dimaknai sebagai pernyataan-pernyataan yang tidak hanya mencerminkan atau merepresentasikan melainkan juga menkonstruksi dan membentuk entitas dan relasi sosial. Kemudian, wacana dapat diartikan sebagai sebuh medium bagi ideologi yang dapat memproduksi hubungan kekuasaan antara kelompok dominan / mayoritas dengan tidak dominan / minoritas dimana perbedaan tersebut di representasikan dalam praktik sosial. Dapat disimpulkan bahwa ideologi ada dalam suatu wacana.
Cara melakukan kajian wacana dalam konteks ini dapat menggunakan model 1) Analisis wacana kritis Norman Fairclough yang mengacu kepada Dialectical Relational Approach / DRA dan 2) AWK Sara Mills (Feminist Stylistics Approach / FSA). Norman Fairclough  melihat  wacana dalam pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial, sedangkan Sara Mills lebih menekankan pada bagaimana wanita ditampilkan dalam teks.

4)             Wacana dan Praktek Budaya
Membahas mengenai wacana dan praktek budaya tentu tidak akan lepas dengan masyarakat, dimana masyarakat mempunyai budaya masing-masing baik dalam dialek, kebiasaan, bahasa, dsb. Kemudian dalam mengkaji wacana dan praktek budaya diperlukan pengetahun. Hubungan antara pengetahuan budaya dan wacana jelas terlihat yakni suatu pengetahuan budaya yang spesifik dibutuhkan untuk memproduksi dan memahami dengan tepat suatu wacana dari suatu komunitas masyarakat tertentu.
Dalam konteks wacana dan praktek budaya, makna analisis wacana kritis dapat berupa; 1) Translation (mengemukakan subtansi yang sama dengan media), 2) Interpretation (berpegang pada materi yang ada, dicari latarbelakang, konteks agar dapat dikemukakan konsep yang lebih jelas), 3) Ekstrapolasi (menekankan pada daya pikir untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan), Dan, 4) Meaning (lebih jauh dari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya pikir dan akal budi). Ancangan kajian wacana yang dapat digunakan dalam analisis wacan disini yakni kajian pragmatik, kajian teori etnografi komunikasi, dan kebudayaan.

Dari paparan 4 point diatas, dicoba mengimplementasi kedalam study kasus mengenai pemberitaan yang sedang heboh di Indonesia, yakni pernyataan kontroversial tokoh politik “Ahok”. Frase yang disoroti adalah “dibohongi Al Maidah 51”. Frase tersebut termasuk kedalam point berapa? Apakah termasuk kedalam wacana sebagai praktik sosial, wacana dan kekuasaan,  wacana, kebersamaan dan ideology, wacana dan praktek budaya
Dari frase tersebut, tentu bahasa lisan dari penutur (Ahok) merupakan suatu wacana yang berhubungan dengan situasi kondisinya. Pertama; dia sebagai gubernur, kedua; sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Situasi saat diucapkan, yakni saat melakukan kunjungan ke kabupaten kepulauan seribu dan berpidato didepan masyarakat sebagai seorang Gubernur / tokoh politik. Mayoritas masyarakat saat itu beragama Islam. 
Wacana dan kekuasaan merupakan jenis wacana yang cocok dengan posisi penutur saat mengucapkan wacana tersebut, yakni sebagai gubernur maupun tokoh politik. Tokoh politik “Ahok” mengakui bahwa ia bermaksud untuk memberitahu masyarakat agar tidak terprovokasi oleh pihak yang menggunakan dalil Al Quran atau mempolitisasi ayat-ayat suci, baik itu Al-Quran, Alkitab, maupun kitab lainnya (Metrotvnews.com). Ia menggunakan kekuatanya sebagai Gubernur/ tokoh politik untuk mempengaruhi masyarakat, maupun sikap masyarakat terhadap suatu hal. Dalam hal ini mengacu kepada objek dalam frasa yakni “Al Maidah 51”.

Hal ini terlihat jelas bahwa bahasa sebagai alat kekuasaan berbentuk persuasif yakni kekuasaan itu berupa tindakan untuk mempengaruhi seseorang dalam hal kepercayaan, sikap dan pengetahuan. Senada dengan Fairclough (1989) yang menyatakan bahwa ada 3 hal yang mempengaruhi suatu wacana disampaikan yakni setting (tempat dan waktu), subjek (siapa yang berbicara), dan topik (isi dari apa yang disampaikan), sehingga wacana yang dikeluarkan oleh tokoh politik “Ahok” juga berkaitan erat dengan faktor situasi, konteks dan waktu.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2012 TukangTerjemahDotCom Seo Elite by BLog BamZ | Blogger Templates