1. Ideologi dan Wacana
Ideologi secara Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunya arti 1) kumpulan konsep bersistem yg dijadikan asas pendapat (kejadian) yg memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup, 2) cara berpikir seseorang atau suatu golongan, 3) paham, teori, dan tujuan yg merupakan satu program sosial politik. Dalam hubunganya dengan wacana, Foucault berpendapat bahwa wacana merupakan sarana untuk menyampaikan suatu ideologi (dalam baker, 2004: 82). Tujuan dari analisis wacana adalah mencari makna atau pesan tersembunyi dari pengirim pesan kepada penerima pesan, sehingga kaitanya dengan ideologi adalah mengungkap ideologi yang ada pada teks.
Analisis wacana kritis dapat digunakan dalam menganalisis wacana dan ideologi pada tingkat banyak wacana yakni;
a. Arti (makna)..
b. Struktur proposisional, yang meliputi : aktor, modalitas, Bukti, perlindungan dan ketidakjelasan nilai, topik baik dalam mendefinisikan teks rasis maupun anti-rasis.
c. Struktur Formal, yakni  yang mendasari  suatu wacana dan dapat mempengaruhi struktur formal teks dan pembicaraan, misal bentuk klausa atau kalimat, bentuk argumen, urutan sebuah berita, ukuran informasi utama dan seterusnya.
d. Struktur kalimat. Dengan menggunakan kalimat yang berbeda bentuk, urutan kata-kata memiliki implikasi ideologis.
e. Bentuk wacana.
f. Argumentasi.  
g. Retorika, digambarkan dalam hal gaya bahasa seperti aliterasi, metafora, simile, ironi, litotes dan eufemisme. 
h. Aksi dan interaksi.  Wacana yang diucapkan dalam situasi tertentu mungkin menyelesaikan tindak tutur dari pernyataan, tuduhan janji pertanyaan, atau ancaman.

2. Ancangan dalam Kajian Wacana
Ada enam ancangan dalam kajian wacana, yakni ;
a. Kajian Tindak Tutur
Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan.  Tindak tutur dirumuskan menjadi tiga peristiwa; Tindak tutur lokusi, Tindak tutur ilokusi dan Tindak tutur perlokusi.
b. Kajian Pragmatik
Kajian pragmatik adalah sebuah ancangan yang menguraikan tiga konsep (makna, konteks, komunikasi) yang sangat luas dan rumit. Sehingga, ancangan dalam kajian wacana mencakup dalam hal makna, konteks dan komunikasi.
c. Kajian Teori Etnografi Komunikasi
Ancangan kajian etnografi terhadap wacana diperlukan untuk menemukan dan menganalisis struktur-struktur dan fungsi-fungsi dari komunikasi yang mengatur penggunaan bahasa dalam situasi tutur, peristiwa tutur, dan tindak tutur.
d. Kajian Analisis Variasi
Ancangan wacana variasi berfokus pada pembatasan-pembatasan sosial dan linguistik pada varian ekuivalen secara semantik, ancangan tersebut juga diperluas ke arah teks. 
e. Kajian Sosiolinguistik Interaksional
Objek kajian wacana dalam pendekatan ini adalah aspek sosiolinguistik dalam sebuah wacana. Sosiolingustik interaksional digambarkan pada percakapan yang terjadi secara alami di antara teman. Akhirnya, sosiolinguistik interaksional memberikan perlakuan yang besar ciri-ciri transkripsi penutur yang mungkin menyimpan isyarat kontekstual. 
f. Kajian Analisis Percakapan.
Analisis percakapan merupakan sebuah ancangan wacana yang menekankan konteks, relevansi konteks, berdasarkan teks. 

Sehingga, kajian wacana dalam menggali ideologi yang terkandung dalam teks harus memperhatinkan banyak hal dan bisa menggunakan ancangan kajian wacana.

Lalu bagaimana hubungan antara wacana dalam teks berita dengan ideologi? Dalam media massa terdapat ideologi dari pemilik media massa tersebut, mulai dari kegiatan produksi (redaksi), iklan hingga ke distribusi. Media massa menjadi media komunikasi politik, kekuasaan dan harus konsisten dan setia dengan pemilik media massa. Dalam setiap pemberitaan, ada pemenuhan kepentingan-kepentingan didalamnya. Saya pernah menjadi seorang wartawan di Koran dibawah jaringan JPNN dan sekarang menjadi penulis di media online situs pemerintah. Hal ini terasa sekali gaya maupun konten tulisan.
Dalam kasus ini saya ingin sedikit membahas mengenai pemberitaan media online tentang pernyataan kontroversial tokoh politik “ahok” di beberapa media online. Misal detik.com mengangkat judul berita “Soal Surat Al Maidah 51, Ahok Juga Dipolisikan Angkatan Muda Muhammadiyah” sedangkan dalam kompas.com mengangkat judul “Ahok Bantah Menghina Kitab Suci”. 
Dari dua contoh diatas, perbedaan pandangan antara satu media online menjadi menarik untuk dilihat. Detik.com melihat dari sisi korban atau pihak yang kontra. Disisi lain, kompas.com mengangkat dari sudut pandang pelaku atau yang menjadi sorotan publik.
Hal itu terjadi karna ada kepentingan dari ideologi dari media itu sendiri. Dalam analisis wacana yang perlu dilihat dari berbagai hal yakni wartawan, media dan kepentingan yang ada didalamnya. Jika pemberitaan dilihat dari sudut pandang, akan menghasilkan berbagai pandangan. Karna masing-masing media membingkai berita yang sama dengan bingkai yang berbeda sesuai dengan idealism / ideologi media tersebut.  

Nida dan Taber adalah salah satu penulis yang aktif melakukan penelitian penerjemahan dan menulis buku tentang penerjemahan. Eugene A. Nida, Charles R. Taber adalah nama lengkapnya.

Download buku Nida dan taber berjudul the theory and practice of translation. Klik tautan berikut:

download disini




Wacana dalam prakteknya berhubungan dengan disiplin ilmu lain. Wacana juga berhubungan dengan praktek sosial, budaya, kekuasaan, politik, dan ideology, sehingga muncul pertanyaan mengenai bagaimana hubungan wacana dangan hal-hal tersebut. Dalam hal ini akan dibahas mengenai 1) wacana sebagai praktek sosial, 2) wacana dan kekuasaan, 3) wacana, kebersamaan dan ideology, dan 4) Wacana dan Praktek Budaya.
1)             Wacana sebagai praktek sosial
Wacana sebagai praktik sosial yakni bahwa suatu wacana yang mengandung unsur saling mempengaruhi antara wacana dan sosial. Dalam analisis wacana dan praktek sosial, tidak hanya memandang wacana sebagai fenomena teks bahasa semata akan tetapi juga menghubungkannya dengan konteks, baik itu konteks sosial, kultural, ideologi dan domain-domain kekuasaan yang menggunakan bahasa sebagai alatnya, dalam hal ini dikenal dengan sebutan Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis.
Istilah Critical Discourse Analysis atau Analisis Wacana Kritis pertama kali digunakan oleh Fairclough dengen definisi sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk memberi penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang diinginkan.
Prinsip-prinsip AWK menurut Fairclough dan Wodak (1997: 271-280) yakni; Membahas masalah-masalah sosial, Mengungkap bahwa relasi-relasi kekuasaan adalah diskursif, mengungkap budaya dan masyarakat, bersifat ideologi, bersifat historis, mengemukakan hubungan antara teks dan masyarakat dan bersifat interpretatif dan eksplanatori.

2)             Wacana dan kekuasaan
Dalam hal wacana dan kekuasan, bahasa sebagai alat kekuasaan biasanya berbentuk persuasif yakni kekuasaan itu berupa tindakan untuk mempengaruhi seseorang dalam hal kepercayaan, sikap dan pengetahuan. Kekuasaan dalam wacana dapat dibedakan menjadi dua yakni kekuasaan di dalam wacana dan kekuasaan di balik wacana. Kekuasaan di dalam wacana terdiri dari 3 jenis yakni kekuasaan wacana dalam percakapan langsung, kekuasaan wacana dalam lintas budaya dan kekuasaan yang tersembunyi dalam wacana, sedangkan kekuasaan di balik wacana dipengaruhi oleh  situasi, konteks dan waktu.
Menurut Fairclough (1989) ada 3 hal yang mempengaruhi suatu wacana disampaikan yakni setting (tempat dan waktu), subjek (siapa yang berbicara), dan topik (isi dari apa yang disampaikan). Pisau yang digunakan untuk membedah wacana dan kekuasan bisa menggunakan AWK.

3)             Wacana, kebersamaan dan ideologi
Istilah wacana yang digunakan dalam Analisis Wacana Kritis (AWK) dalam konteks ini bahwa wacana dimaknai sebagai pernyataan-pernyataan yang tidak hanya mencerminkan atau merepresentasikan melainkan juga menkonstruksi dan membentuk entitas dan relasi sosial. Kemudian, wacana dapat diartikan sebagai sebuh medium bagi ideologi yang dapat memproduksi hubungan kekuasaan antara kelompok dominan / mayoritas dengan tidak dominan / minoritas dimana perbedaan tersebut di representasikan dalam praktik sosial. Dapat disimpulkan bahwa ideologi ada dalam suatu wacana.
Cara melakukan kajian wacana dalam konteks ini dapat menggunakan model 1) Analisis wacana kritis Norman Fairclough yang mengacu kepada Dialectical Relational Approach / DRA dan 2) AWK Sara Mills (Feminist Stylistics Approach / FSA). Norman Fairclough  melihat  wacana dalam pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial, sedangkan Sara Mills lebih menekankan pada bagaimana wanita ditampilkan dalam teks.

4)             Wacana dan Praktek Budaya
Membahas mengenai wacana dan praktek budaya tentu tidak akan lepas dengan masyarakat, dimana masyarakat mempunyai budaya masing-masing baik dalam dialek, kebiasaan, bahasa, dsb. Kemudian dalam mengkaji wacana dan praktek budaya diperlukan pengetahun. Hubungan antara pengetahuan budaya dan wacana jelas terlihat yakni suatu pengetahuan budaya yang spesifik dibutuhkan untuk memproduksi dan memahami dengan tepat suatu wacana dari suatu komunitas masyarakat tertentu.
Dalam konteks wacana dan praktek budaya, makna analisis wacana kritis dapat berupa; 1) Translation (mengemukakan subtansi yang sama dengan media), 2) Interpretation (berpegang pada materi yang ada, dicari latarbelakang, konteks agar dapat dikemukakan konsep yang lebih jelas), 3) Ekstrapolasi (menekankan pada daya pikir untuk menangkap hal dibalik yang tersajikan), Dan, 4) Meaning (lebih jauh dari interpretasi dengan kemampuan integrative, yaitu inderawi, daya pikir dan akal budi). Ancangan kajian wacana yang dapat digunakan dalam analisis wacan disini yakni kajian pragmatik, kajian teori etnografi komunikasi, dan kebudayaan.

Dari paparan 4 point diatas, dicoba mengimplementasi kedalam study kasus mengenai pemberitaan yang sedang heboh di Indonesia, yakni pernyataan kontroversial tokoh politik “Ahok”. Frase yang disoroti adalah “dibohongi Al Maidah 51”. Frase tersebut termasuk kedalam point berapa? Apakah termasuk kedalam wacana sebagai praktik sosial, wacana dan kekuasaan,  wacana, kebersamaan dan ideology, wacana dan praktek budaya
Dari frase tersebut, tentu bahasa lisan dari penutur (Ahok) merupakan suatu wacana yang berhubungan dengan situasi kondisinya. Pertama; dia sebagai gubernur, kedua; sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Situasi saat diucapkan, yakni saat melakukan kunjungan ke kabupaten kepulauan seribu dan berpidato didepan masyarakat sebagai seorang Gubernur / tokoh politik. Mayoritas masyarakat saat itu beragama Islam. 
Wacana dan kekuasaan merupakan jenis wacana yang cocok dengan posisi penutur saat mengucapkan wacana tersebut, yakni sebagai gubernur maupun tokoh politik. Tokoh politik “Ahok” mengakui bahwa ia bermaksud untuk memberitahu masyarakat agar tidak terprovokasi oleh pihak yang menggunakan dalil Al Quran atau mempolitisasi ayat-ayat suci, baik itu Al-Quran, Alkitab, maupun kitab lainnya (Metrotvnews.com). Ia menggunakan kekuatanya sebagai Gubernur/ tokoh politik untuk mempengaruhi masyarakat, maupun sikap masyarakat terhadap suatu hal. Dalam hal ini mengacu kepada objek dalam frasa yakni “Al Maidah 51”.

Hal ini terlihat jelas bahwa bahasa sebagai alat kekuasaan berbentuk persuasif yakni kekuasaan itu berupa tindakan untuk mempengaruhi seseorang dalam hal kepercayaan, sikap dan pengetahuan. Senada dengan Fairclough (1989) yang menyatakan bahwa ada 3 hal yang mempengaruhi suatu wacana disampaikan yakni setting (tempat dan waktu), subjek (siapa yang berbicara), dan topik (isi dari apa yang disampaikan), sehingga wacana yang dikeluarkan oleh tokoh politik “Ahok” juga berkaitan erat dengan faktor situasi, konteks dan waktu.
Wacana merupakan kata, frasa, atau kalimat dengan syarat ada topik dan pelengkap topik meliputi konteks situasi, koheren kohesi, konteks dan bersifat interaksional dari penulis dengan khayalak ramai. Sedangkan analisis wacana merupakan disiplin ilmu yang berusaha menganalisis kebahasaan dalam pemakaian bahasa dalam bahasa tulis maupun bahasa lisan. Objek kajian atau penelitian analisis wacana adalah unit bahasa di atas kalimat atau ujaran yang memiliki kesatuan dan konteks. Lalu bagaimana kemudian kedudukan analisis wacana dalam berbagai disiplin ilmu, peran/fungsi berbagai disiplin ilmu terhadap kajian wacana, dan ancangan dalam kajian wacana. Berikut ringkasan materi mengenai hal tersebut;
1.             Kedudukan Analisis Wacana Dalam Berbagai Disiplin Ilmu
Analisis wacana terus berkembang sehingga mampu digunakan untuk menganalisis dalam bidang-bidang ilmu lain, seperti bidang hukum, sejarah, komunikasi massa, politik, sosial, budaya dan bahkan psikologi dan lain-lain. Kontribusi yang telah diberikan oleh disiplin ilmu lain telah memperkaya kajian analisis wacana.
a.       Analisis wacana dan Fonologi
Abdul Chaer (2007:102) menjelaskan bahwa fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Dalam mengkaji wacana, teori tentang bunyi-bunyi bahasa sangat diperlukan sebab Fonologi merupakan dasar dari ilmu bahasa lainnya.
b.      Analisis wacana dan Linguistik
Hubungan antara linguistik dan analisis wacana terletak pada objek kajiannya. Objek kajian dalam wacana adalah bahasa itu sendiri.
c.       Analisis wacana dan Morfologi
Wijana (2007:1) menjelaskan bahwa morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk morfem dan penggabungannya untuk membentuk satuan lingual yang disebut kata polimorfemik. Dalam mengkaji wacana, teori tentang pembentukan kata sangat dibutuhkan sebab Wacana yang berbentuk naskah itu terbentuk dari susunan kata demi kata yang memiliki makna.
d.      Analisis Wacana dengan Sintaksis
sintaksis adalah cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Sintaksis yang mempelajari seluk beluk pembentukan kalimat sangat berhubungan dengan Wacana karena Dalam mengkaji wacana, teori tentang pembentukan kalimat sangat dibutuhkan. Sebuah Wacana dapat dikatakan baik apabila hubungan antara kalimat-kalimatnya kohesi dan koheren.
e.       Analisis Wacana dengan Sosiolinguistik
Hubungan antara sosiolinguistik dengan wacana adalah baik wacana maupun sosiolinguistik sama-sama menitiberatkan bahasa dalam sebuah konteks di dalam masyarakat.
f.       Analisis Wacana dengan Semantik
Semantik adalah telaah mengenai makna. Hubungannya dengan Wacana adalah baik Semantik maupun Wacana sama-sama mengkaji makna bahasa sebagai objek kajiannya
g.      Analisis Wacana dengan Ilmu Budaya
Wacana berkembang dalam konteks budaya. Setiap kelompok masyarakat memiliki budaya masing-masing, sehingga kajian wacana harus disesuaikan dengan kebudayaan dari pembuat wacana.
h.      Analisis Wacana dengan Politik
Wacana dipercayai sebagai piranti-piranti yang digunakan lembaga-lembaga untuk mempraktekkan kuasa-kuasa mereka melalui proses-proses pendefinisian, pengisolasian, pembenaran.
i.        Analisis Wacana dengan Pragmatik
Pernyataan adalah tindakan penciptaan makna. Analisis wacana dalam perspektif ini berusaha membongkar dan mengungkap maksud-maksud tersembunyi yang ada di balik ujaran-ujaran yang diproduksi.
j.        Analisi Wacana dengan Filologi
Filologi adalah bahasa, kebudayaan, dan sejarah bangsa yang terekam dalam bahan tertulis seperti peninggalan naskah kuno linguistik, sejarah dan kebudayaan. Filologi dan wacana sama-sama mengkaji bahasa dalam bentuk teks atau naskah.
k.      Analisi Wacana dengan Hukum
Wacana mampu membangun ideologi dan persuasi, yang kemudian dapat berkembang menjadi tata aturan yang disepakati dan dijalankan bersama-sama. 
l.        Analisi Wacana dengan Sejarah
Bahasa berkembang sejalan dengan peradaban dan waktu. Oleh sebab itu analisis wacana harus mempertimbangkan faktor historis agar konteks yang diperoleh jelas dan sesuai.
m.    Analisis Wacana dengan Semiotika
Semiotika adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna bahasa yang ditimbulkan dari tanda-tanda bahasa. Hubungannya dengan wacana adalah, baik wacana maupun semiotika sama-sama mengkaji tentang makna bahasa.
n.      Analisis Wacana dengan Psikolinguistik
Hubungannya dengan wacana adalah dalam penyusunan wacana, topik atau tema yang diangkat ataupun ujaran-ujaran yang dihasilkan berdasarkan kondisi psikis manusia.
o.      Analisis Wacana dengan Literatur (Kesastraan)
Sastra sebagai salah satu bentuk kreasi seni, menggunakan bahasa sebagai pemaparannya. Wacana dalam sastra tak hanya dikaji sebagai sebuah unsur bentuk bahasa, melainkan bahasa yang memiliki nilai estetika.
2.             Peran / Fungsi Berbagai Disiplin Ilmu Terhadap Kajian Wacana
Wacana memiliki kedudukan yang tertinggi dalam hierarki kebahasaan, hal ini di perkuat dengan pendapat tarigan (1987: 27) yang mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis.
Wacana utuh biasanya berupa novel, buku, paragraph, dll. Kehadiran analisis wacana sebagai disiplin ilmu tidak terlepas dari kontribusi disiplin ilmu lainnya. Schmitt (2002: 59-60), misalnya, mengemukakan bahwa kajian-kajian dalam analisis wacana mendapat konstribusi besar dari bidang ilmu lain seperti sosiologi yang telah melahirkan kajian analisis percakapan, dan filsafat yang telah memberikan kontribusi pada kemunculan teori tindak ujar dan pragmatik.
3.             Ancangan Dalam Kajian Wacana
Ada enam ancangan dalam kajian wacana, yakni ;
a.              Kajian Pragmatik
Kajian pragmatik adalah sebuah ancangan yang menguraikan tiga konsep (makna, konteks, komunikasi) yang sangat luas dan rumit. Sehingga, ancangan dalam kajian wacana mencakup dalam hal makna, konteks dan komunikasi.
b.             Kajian Teori Etnografi Komunikasi
Ancangan kajian etnografi terhadap wacana diperlukan untuk menemukan dan menganalisis struktur-struktur dan fungsi-fungsi dari komunikasi yang mengatur penggunaan bahasa dalam situasi tutur, peristiwa tutur, dan tindak tutur.


c.              Kajian Analisis Variasi
Ancangan wacana variasi berfokus pada pembatasan-pembatasan sosial dan linguistik pada varian ekuivalen secara semantik, ancangan tersebut juga diperluas ke arah teks.
d.             Kajian Tindak Tutur
Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan.  Tindak tutur dirumuskan menjadi tiga peristiwa; Tindak tutur lokusi, Tindak tutur ilokusi dan Tindak tutur perlokusi.
e.              Kajian Sosiolinguistik Interaksional
Objek kajian wacana dalam pendekatan ini adalah aspek sosiolinguistik dalam sebuah wacana. Sosiolingustik interaksional digambarkan pada percakapan yang terjadi secara alami di antara teman. Akhirnya, sosiolinguistik interaksional memberikan perlakuan yang besar ciri-ciri transkripsi penutur yang mungkin menyimpan isyarat kontekstual.
f.              Kajian Analisis Percakapan.
Analisis percakapan merupakan sebuah ancangan wacana yang menekankan konteks, relevansi konteks, berdasarkan teks.

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2007. Linguistk Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Schmitt, Norbert. 2002. An Introduction to Applied Linguistics. London: Arnold
Tarigan, H. G. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

Wijana, I Dewa Putu. 2010. Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Yuma Pustaka