Wednesday, 30 March 2016

Anafora, Katafora, Semantik, Komunikatif, Maxim grace, Rema dan Tema

a.    Anafora adalah pengualangan bunyi, kata, atau sturktur sintaksis pada larik – larik atau kalimat – kalimat yang berturutan untuk memperoleh efek tertentu. Atau bisa didefinisikan sebagai hal atau fungsi merujuk kembali pada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana yang disebut antecedent dengan subtitiusi. Anafora adalah fenomena pengulangan suatu entitas (antecedent) oleh penutur (anaphor) yang menunjukkan kembali kepada entitas itu.
Contoh: Pak Karta rumahnya terbakar, kata Nya menunjuk kepada pak karta
Desa yang indah, dimana ingatan masa kecil didesa itu teringat kembali. Itu menunjuk pada desa
b.    Katafora: pengacauan pada sesuatu yang disebut dibelakang. Katafora merupakan kebaikan dari anofora.
Contoh: pada katanya yang khas, ia mulai bicara. Kata Nya mangacu pada Ia
Pada saat hujan gerimis ini, ku teringat saat bersamanya,
c.    Semantik: Ilmu tentang makna kata dan kalimat. Pengetahuan mengenai seluk beluk pergeseran artika ata. Dengan kata lain bagian strutkur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan atau struktur makna suatu wicara.
d.    Komunikatif: Keadaan saling berhubungan (mudah dihubungi) mudah dipahami atau dimengerti atau pesan dapat diterima dengan
e.    Rema dan rema merupakan stuktur tematik dalam bahasa teks. Rema dan tema juga berfungsi untuk menautkan pesan dalam klausa. Bisa juga disebut sebagai makna tekstual dari suatu pembicaraan
f.    Konotasi adalah makna kultural atau emosional yang bersifat subjektif dan melekat pada suatu kata atau frase yang bersifat subjektif
g.    Denotasi adalah bila kata itu mengacu atau menunjuk pengertian atau makna yang sebenarnya. Denotatif juga disebut sebagai makna eksplisit dan harfiah dari suatu kata atau frase yang bersifat objektif.
h.    Tema adalah titik awal dari satu pesan yang terealisasi dalam klausa. Tema dinyatakan dengan unsur pertama klausa. Unsur klausa sesudah tema disebut rema (Saragih, 2007:8). Tema dari segi bentuknya dapat berupa partisipan, proses ataupun sirkumstan berbentuk kata, frase maupun kalimat. Jika hanya ada satu unsurdalam klausa yang berpotensi menjadi tema maka unsur tersebut disebut tema sederhana dan dilabeli dengan nama ‚tema’, sedangkan jika di dalam sebuah klausa terdapat lebih dari satu unsur yang berpotensi menjadi tema maka dikatakan tema tersebut sebagai tema kompleks. Tema: Tema lazimnya berwujud Nomina, Frase Nominal atau Pronomina.
Menurut Saragih (2006: 112-114) tema kompleks merupakan “komponen metafungsi terhadap tema“ sebagai berikut.
a.    Tema tekstual; klausa sebagai pesan (message) – penerus atau konjungtif menghubungkan klausa dengan klausa sebelumnya di dalam teks
b.    Tema antarpersona; klausa sebagai pertukaran (exchange) – modal aspek mengindikasikan peran perpindahan dalam pertukaran.
c.    Tema topikal; klausa sebagai representasi (representation) – unsur representasi (partisipan, sirkumstan atau proses).
i.    Rema adalah menjelaskan tentang kalimat langsung’, yang merupakan bagian dari pesan yang dikembangkan oleh tema. Rema juga dikatakan apa yang dikatakan tentang tema, biasanya dalam bentuk predikat.
j.    Maxim Grace: Maxim merupakan prinsip kerja sama  (coorporate principle) dalam komunikasi. Wacana yang wajar dapat terjadi apabila antara penutur dan petutur patuh pada prinsip kerja sama komunikasi. Sehingga maxim sebagai cara untuk menjelaskan hubungan antara ucapan dan apa yang dipahami dari pendengar.

Maxim grace (conversational maxim) dibagi menjadi 4
a.    maksim kuantitas (maxim of quantity),
Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relative memadai, dan seinformatif mungkin. Informasi demikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan si mitra tutur. Tuturan yang mengandung informasi yang sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur

Contoh:
-  Lihat itu Muhammad Ali mau bertanding lagi!
- Lihat itu Muhammad Ali yang mantan petinju kelas berat itu mau bertanding lagi!


b.    maksim kualitas (maxim of quality)
Dengan maksim kualitas, seorang peserta tutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya di dalam bertutur. Fakta itu harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas. Tuturan dan tuturan pada bagian berikut dapat dipertimbangkan untuk memperjelas pernyataan ini.
Contoh:
-    Silakan menyontek saja biar nanti saya mudah menilainya!
-    Jangan menyontek, nilainya bisa E nanti!

c.    maksim relevansi ( maxim of relevance)
Di dalam maksim relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan mitra tutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan itu. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerja sama.
Contoh:
-    Sang Hyang Tunggal : “Namun sebelum kau pergi, letakkanlah kata-kataku ini   dalam hati!”
-    Semar                : “Hamba bersedia, ya Dewa.”
d.    maksim pelaksanaan  (maxim of manner).
Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan bertutur secara langsung, jelas dan tidak kabur. Orang bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal itu dapat dikatakan melanggar Prinsip Kerja Sama Grice karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan.
Contoh
-    Ayo, cepat dibuka!
-    Sebentar dulu, masih dingin.”

Contoh deep structur
Give up : Menyerah
Hand over : Menyerah
Ex : The player give up
We hand over mom to do your job

Make good : Berhasil
Make out: Berhasil

Now and then: Kadang - kadang
Something : Kadang - Kadang

A Piece of Cake : mudah diselesaikan
It is easy : Mudah diselesaikan
Ex : The essay is a piece of cake
The essay is easy

Hubungan linguistik terapan dengan penerjemahan
Dalam kajian penerjemahan selalu melibatkan unsur pengetahuan linguistik sehingga penerjemahan sebagai salah satu terpan dalam lingusitik selalu berikaitan.

Manfaat Penerjemahan literal
Terjemahan literal berfungsi untuk membantu seseorang yang belajar bahasa, karena sebelum orang bisa mengetahui bahasa target dia harus menerjemahkan satu persatu atau perkata, setelah itu baru dirangkai menjadi satu kalimat yang bermakna
Persamaan dan kekurangan pengertian penerjemahan
Persamaan dari penerjemahan yang ada buku tersebut antara lain yaitu dari beberapa katanya yaitu translate, change, transfer. Yaitu dari ke empat pengertian dari para ahi membicarakan perubahan, merujuk, memproduksi,  dan menggantikan dari Bsu ke Bsa
Sedangkan pebedaanya adalah menjelaskan dari makna penerjemahan yang paling sempit ke makna penerjemahan yang paling luas. Pengertian yang terluas adalah ada dari webster yaitu mengubah ungkapan atau bentuk ke ungkapan atau bentuk lainya. Sedangkan dari Catford adalah pengalihan meteri teks yang ekuivalent dari satu bahasa ke bahasa yang lain.

0 komentar:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2012 TukangTerjemahDotCom Seo Elite by BLog BamZ | Blogger Templates