Seperti telah dibahas sebelumnya (Baca artikel sekilas tentang AWK) bahwa para ahli berbeda pendapat dan pandangan mengenai AWK. Lima diantara dari para ahli tersebut yakni Van Dijk, Sara Mills, Ruth Wodak, Theo Van Leeuween dan Norman Fairclough. Berikut akan diuraikan teori dan pandangan AWK dari para ahli:
a.         Van Dijk.
Teori Van Dijk lebih dikenal dengan Socio Cognitivie Approach, disingkat menjadi SCA. Dalam model ini, lebih menekankan kepada indiviu yang membuat wacana tersebut. Alasanya adalah Van Dijk memandang bahwa teks hanya hasil dari praktek produksi bahasa dari seorang individu, sehingga melihat bagaimana proses produksi suatu teks merupakan suatu keharusan.
b.         Sara Mills.
Sara Mills memperkenalkan pandanganya mengenai AWK dan melihat dari sisi gender. Teorinya dikenal dengan istilah Feminist Stylistic Approach atau disingkat FSA. Sara Mills mengajak para peneliti agar melihat kedudukan gender atau posisi wanita dalam suatu teks atau dikenal sebagai analisis wacana perspektif feminis.
c.         Ruth Wodak
Dalam AWK, Ruth Wodak lebih menekankan kepada sisi sejarah. Menurutnya, suatu teks atau wacana tidak lepas dari konteks sejarah bagaimana suatu komunitas itu digambarkan. Teorinya dikenal dengan sebutan Discourse Hostorical Approach atau DHA. Wodak telah banyak meneliti wacana dengan teorinya dengan fokus utamanya yakni meneliti seksisme, antisemit, dan rasialisme dalam media dan masyarakat.
d.        Theo Van Leeuween
Berbeda dengan teori sebelumnya, Van Leeuween memperkenal model AWK dengan pandangan Social Actor Approach atau SAA. Modelnya lebih menelaah mengenai pihak – pihak atau social actor itu dimunculkan atau disembunyikan didalam teks. Menurutnya dalam suatu teks ada kelompok yang dimunculkan atau disembunyikan, ataupun bagaimana suatu kelompok masyarakat itu memegang kendali dalam teks. Misalnya kelompok buruh, nelayan, imigran gelap, wanita, merupakan contoh dari kelompok yang digambarkan secara marjinal didalam teks.
e.         Norman Fairclough

Fairclough memperkenalkan AWK dengan pandanganya yakni melihat pemakaian tutur dan tulisan sebagai suatu praktek sosial. Teorinya dikenal dengan Dialectical Relational Approach atau DRA. Fairclough memandang bahwa analisis wacana berkaitan dengan struktur sosial dan proses produksi teks tersebut. Kemudian, dalam model ini, peneliti dituntut untuk menemukan realitas dibalik teks dengan cara penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks.
Analisis wacana dan Analisis Wacana Kritis (AWK) sebenarnya tidak berbeda jauh. Analisis wacana lebih mengacu kepada lingkup linguistiknya dan belum dikaitkan dengan aspek – aspek lain. Disisi lain, Analisis Wacana Kritis (AWK) sudah ada kaitanya dengan aspek – aspek kajian lain, misalnya kaitanya dengan budaya, sejarah, gender, dst.
AWK sendiri banyak dipakai oleh peneliti guna menelisik lebih dalam mengenai suatu wacana. Namun, analisis wacana tetap digunakan yakni sebagai pengungkap aspek linguistik dan kemudian baru dikaitkan dengan aspek – aspek tertentu, tergantung kepada tujuan penelitian. Misalnya saja pada judul penelitian “Representasi Gender dalam Ungkapan berbahasa Indonesia dan Bahasa Inggris”. Pertama diungkap terlebih dahulu pada sisi linguistik yakni ungkapan berbahasa Indonesia dan Inggris. Langkah kedua yakni mengkorelasi atau menganalisis ungkapan tersebut dengan representasi gender. Dalam hal ini, bisa digunakan teori dari Feminist stylistic approach dari Sara Mills. Sara Mills sendiri menganalisa mengenai gender atau gambaran wanita didalam suatu teks.
Ada berbagai macam definisi dari AWK, misalnya saja dari Van Dijk yang menyatakan bahwa AWK merupakan suatu penelitian analisis wacana yang menitikberakan kepada kajian tentang bagaimana penyalahgunaan kekuasaan, dominasi, dan ketidaksetaraan itu dibuat, diproduksi, dan ditolak melalui lisan didalam konteks sosial dan politik. Van Dijk melihat AWK dengan teorinya yang dikenal dengan Socio-coginitive Approach. Jika dilihat dari definisi menurut Van Dijk, maka AWK lebih menitik beratkan kepada individu-individu yang memproduksi suatu teks atau wacana.

Namun, alangkah lebih bijak jika kita melihat berbagai macam definisi dari berbagai ahli mengenai AWK dan bagaimana menganalisa wacana dalam AWK. Ada banyak ahli yang membahas mengenai AWK. Lima diantaranya yakni, Van Dijk, Sara Mills, Ruth Wodak, Theo Van Leeuween dan Norman Fairclough. Kelima ahli tersebut memiliki teori masing-masing dan pandangan mengenai AWK.
Dalam membahas mengenai wacana, setidaknya ada 7 syarat yang harus dipenuhi sebuah teks, baik berbentuk lisan maupun tulisan. 7 syarat tersebut yakni ; kohesi, koherensi, bertujuan, dapat diterima, memuat informasi, ada konteks situasi yang menyertai, dan berkaitan dengan teks lain. dalam hal ini, kohesi dan koherensi merupakan syarat agar suatu teks disebut sebuah wacana.

Dalam persentasi minggu lalu, penyaji memberikan sebuah contoh teks yang berjudul Kesehatan Reproduksi. Teks tersebut berasal dari Dinas Kesehatan Kota Madiun. (2014) yang berjudul Kesehatan Reproduksi dan Seksual Bagi Calon Pengantin. Teks sebagai berikut;

Kesehatan Reproduksi
Suami dan istri haruslah memiliki kesehatan lahir dan batin yang baik. Salah satu indikasi bahwa calon pengantin yang sehat adalah bahwa kesehatan reproduksinya berada pada kondisi yang baik.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan yang menunjukkan kondisi kesehatan fisik, mental, dan sosial seseorang dihubungkan dengan fungsi dan proses reproduksinya termasuk di dalamnya tidak memiliki penyakit atau kelainan yang mempengaruhi kegiatan reproduksi tersebut.
Dalam kesehatan reproduksi pembagian peran sosial perempuan dan laki-laki mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan perempuan dan laki-laki. Peran sosial laki-laki dan perempuan itu semakin dirasakan dalam kesehatan reproduksi.
Masalah kesehatan reproduksi dapat terjadi sepanjang siklus hidup manusia, misalnya masalah pergaulan bebas pada remaja, kehamilan remaja, aborsi yang tidak aman, kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi. Status/posisi perempuan di masyarakat merupakan penyebab utama masalah kesehatan reproduksi yang dihadapi perempuan karena menyebabkan perempuan kehilangan kendali terhadap kesehatan, tubuh, dan fertilitasnya.

Dari teks tersebut didapat kesimpulan bahwa ditemukan adanya kohesi dan koherensi dalam teks tersebut. Pertama, yaitu kohesi dalam teks didasarkan pada aspek gramatikal diwujudkan melalui referensi dan konjungsi, sedangkan pada kohesi leksikal diwujudkan dalam sinonim dan repetisi. Kedua, penanda koherensi termuat dalam teks tersebut meliputi hubungan akibat, hubungan aditif, dan hubungan eksplikatif.

Selama persentasi, penyaji mendapat banyak sekali kritikan dan saran dari teman-teman. Apakah teks diatas sudah termasuk koheren? Jawabanya yakni teks secara keseluruhan termasuk koheren, namun jika dilihat dari hubungan antar kalimat, teks tersebut tidak koheren karna tidak konsistenya menggunakan istilah. Maksudnya yakni terdapat perubahan istilah dalam teks, yakni dari suami istri, kemudian berubah menjadi calon pengantin dan berubah menjadi laki-laki dan perempuan.

Apakah teks jika koheren bisa tidak kohesi ataupun sebaliknya? Jelas bisa, kana kedua hal tersebut berbeda. Kohesi berhubungan erat dengan keserasian hubungan antar unsur dalam wacana sehingga tercipta pengertian yang koheren, sedangkan koherensi terletak pada ide, gagasan, makna dalam teks/pertalian anta ride, gagasan, makna dalam teks.


Lalu bagaimana pentingnya kohesi dan koherensi dalam suatu teks? Pertama, kohesi dan koherensi merupakan syarat wajib sehingga suatu teks dapat dikatakan sebagai sebuah wacana. Kedua, keterkaitan kohesi dan koherensi dalam teks tersebut tentunya berpengaruh terhadap pemahaman informasi yang disampaikan. Dalam hal ini, seorang penulis hendaknya memperhatikan aspek-aspek yang ada dalam kohesi maupun koherensi. 
Potongan gambar tersebut berasal dari sebuah teks dalam suatu Koran di Jogjakarta yang memberitakan mengenai kematian seorang pemuda bernama Agung. Agung berumur 27 tahun merupakan penduduk didaerah Tri Renggo, Bantul. Penyebab kematiannya adalah dikarenakan agung nekat gantung diri lantaran ia tidak memiliki pekerjaan atau seorang pengangguran. Dapat disimpulkan  bahwa gambar diatas teks dengan dibarengan dengan koteks dan konteks.
Pada contoh di atas, kata lelaki malang, korban, dan –nya yang terdapat pada kalimat pertama, dan paragraf ke dua pada kalimat pertama di atas mengacu kepada Agung warga Trirenggo Bantul yang nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Jadi, Agung pada kalimat itu menjadi koteks bagi lelaki malang, korban, dan –nya. Sedangkan konteks yang ada yakni Agung bosan menganggur, sehingga ia nekat bunuh diri.
1.             Peran Teks dalam Kajian Wacana
Dalam hal teks sebagai komunikasi, Nunan (1993:6), mengungkapkan bahwa “text to refer to any written record of communicative event”. Dari pendapat Nunan, maksudnya adalah suatu teks lebih mengacu pada bahasa tulis. Hal senada juga diungkapkan oleh Juez (2009: 6), Juez mengatakan secara umum istilah teks digunakan terbatas pada bahasa tulis. Dalam hubungan dengan kajian wacana, teks dan wacana sering diartikan berbeda dari segi ranah pemakaianya. Wacana bisa terdiri dari lisan dan tulisan. Jadi teks merupakan bagian dari sebuah wacana.
Wacana bisa artikan sebagai teks yang memenuhi syarat-syarat tertentu sehingga dapat dikatakan sebagai sebuah wacana.  Karena materi pokok dari kegiatan analisis wacana adalah menganalisis sebuah wacana, maka teks berperan sebagai objek analisisnya. Ketika peneliti hendak melakukan analisis wacana, hal yang harus dilakukan adalah peneliti harus sudah menentukan wacana apa yang akan dianalisis, teks apa yang akan dianalisis, jenis teks apa yang akan dianalisis. Hal tersebut dikarenakan teks akan mempengaruhi metode dan strategi peneliti dalam melakukan analisis wacana.
Baca juga : Apa itu Teks, Koteks dan Konteks

2.             Peran Koteks dalam Kajian Wacana
Menurut KBBI, Kotek merupakan kalimat yg mendahului dan/atau mengikuti sebuah kalimat dl wacana. Definisi tersebut diperkuat oleh kridalaksana (2011: 137) yang berpendapat bahwa koteks dapat diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana. Posisi koteks dalam teks yakni mendampingi teks lain dan mempunyai keterkaitan dan kesejajaran. Keberadaan teks yang terkait dengan koteks terletak pada bagian depan (mendahului) atau pada bagian belakang teks yang mendampingi.
Peran kotek dalam kajian wacana adalah; dari Keberadaan ko-teks dalam suatu wacana menunjukkan bahwa teks satu memiliki hubungan dengan teks lain yang mengikat kedua teks tersebut dalam suatu arti dan konteks tertentu yang utuh, sehingga dapat ditafsirkan makna dari suatu teks tersebut.

3.             Peran Kontek dalam Kajian Wacana
Membahas mengenai konteks, ini bisa berkaitan dengan berbagai hal misalnya saja pada konteks Budaya, pengetahuan, linguistik, semotaktis, sintaksis dan situasi. KBBI mempunyai dua definisi dari konteks, yakni 1) bagian suatu uraian atau kalimat yg dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2) situasi yg ada hubungannya dengan suatu kejadian. Sedangkan menurut Mulyana (2005: 21), konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan/dialog. Menurut Brown & Yule (1983) konteks adalah lingkungan atau keadaan tempat bahasa digunakan. Halliday & Hasan (1994) mengatakan bahwa konteks dapat diartikan sebagai situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi.
Dalam perananya, dalam kajian wacana konteks berperan sebagai himpunan informasi-informasi yang menjelaskan secara lebih rinci wacana yang sedang dianalisis. Dalam memahami definisi konteks yakni terdiri dari delapan komponen tutur. Komponen tersebut yakni, setting dan scene, participants, ends, act sequences, key, instrumentalities, norms of interaction and interpretation, dan genre. Kedelapan komponen tersebut tidak dapat digunakan secara terpisah dalam melakukan analisis wacana karena kedelapan komponen tersebutlah yang sebelumnya digunakan oleh penulis atau penutur ketika berkomunikasi melalui teks (baik tulis atau lisan) sehingga peneliti harus menemukan kedelapan komponen tersebut agar dapat mengambil informasi dari penulis atau penutur secara utuh dan sempurna.
Sebelum membahas mengenai hubungan antara teks, koteks dan kontek dengan Kajian Wacana, terlebih dahulu dipahami apa itu teks, koteks dan konteks.
Banyak ahli mendefinisikan apa itu teks. Namun, singkatnya, Juez (2009: 6) mengatakan secara umum istilah teks digunakan terbatas pada bahasa tulis. Definisi koteks, Kridalaksana (2011: 137) berpendapat bahwa koteks dapat diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana. dan teakhir, Halliday & Hasan (1994) mengatakan bahwa konteks berarti “something accompanying text”, yaitu sesuatu yang inheren dan hadir bersama teks, sehingga dapat diartikan konteks sebagai situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi.
Lalu bagaimana hubunganya antara ketiga hal tersebut dengan kajian wacana? secara ringkas ditulis sebagai berikut:

Stubbs (1983:9) yang mengatakan teks dan wacana merupakan dua hal yang berbeda. Teks merupakan tuturan yang monolog non-interaktif, sedangkan wacana adalah tuturan yang bersifat interaktif. Dalam konteks ini, teks dapat samakan dengan naskah, misalnya naskah-naskah materi kuliah, pidato, dan lain sebagainya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perbedaan antara teks dan wacana itu terletak pada jalur atau segi pemakaiannya saja.
Ko-teks dapat menjadi alat bantu untuk menganalisis wacana. Dalam wacana yang cukup panjang sering sebuah kalimat harus dicarikan informasi yang jelas pada bagian kata yang lainnya. Sedangkan konteks dapat dianggap sebagai sebab atau alasan terjadinya suatu pembicaraan, dialog, atau teks.

Hubungan antara teks, koteks dan konteks dengan kajian wacana sangatlah erat atau selalu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Dengan adanya koteks dalam struktur wacana menunjukkan bahwa teks tersebut memiliki struktur yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga wacana menjadi utuh dan lengkap. Kemudian, dengan adanya konteks, maka munculah sebuah wacana yang terdiri dari teks-teks. Hal tersebut dikarenakan makna yang terealisasi di dalam teks merupakan hasil interaksi pemakai bahasa dengan konteksnya, sehingga konteks merupakan wahana terbentuknya teks.
1.    Pengertian Teks
Menurut KBBI, teks merupakan naskah yang berupa kata-kata asli dr pengarang. Selain definisi menurut KBBI, pengertian teks juga didukung oleh berbagai ahli yang memberikan pandangan dan pendapatnya mengenai apa itu teks. Stubbs (1983) menyatakan bahwa teks merupakan tuturan yang monolog non-interaktif. Dalam hal teks sebagai komunikasi, Nunan (1993:6), mengungkapkan bahwa “text to refer to any written record of communicative event”, maksudnya bahwa suatu teks lebih mengacu pada bahasa tulis.
Fairclough (1995:4) juga menyatakan definisi teks. Ia berpendapat bahwa A text is traditionally understood to be a piece of written language a whole 'work' such as a poem or a novel, or a relatively discrete part of a work such as a chapter maksudnya sebuah teks itu, secara tradisional merupakan bagian dari bahasa tertulis yang secara keseluruhan 'bekerja' seperti puisi atau novel, atau bagian yang relatif diskrit pekerjaan seperti sebuah bab.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat para ahli sebelumnya, Juez (2009: 6) mengatakan secara umum istilah teks digunakan terbatas pada bahasa tulis.
Pendapat diatas kemudian dibuat lebih rinci lagi. Kridalaksana (2011: 238) dalam Kamus Linguistiknya menyatakan bahwa teks adalah (1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran, (3)  ujaran yang dihasilkan dalam interaksi manusia. Sehingga disimpulkan bahwa teks masih berupa bahasa tulis.

2.      Koteks
Menurut KBBI, Kotek merupakan kalimat yg mendahului dan/atau mengikuti sebuah kalimat dl wacana. Definisi tersebut diperkuat oleh ahli yakni kridalaksana. Kridalaksana (2011: 137) berpendapat bahwa koteks dapat diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana.
Posisi koteks dalam teks yakni mendampingi teks lain dan mempunyai keterkaitan dan kesejajaran. Keberadaan teks yang terkait dengan koteks terletak pada bagian depan (mendahului) atau pada bagian belakang teks yang mendampingi.
Contohnya; pada gerbang masuk perkampuangan atau komplek perumahan, maka kita akan mudah menemui tulisan yang berbunyiSelamat Datang” dan disebaliknya ada tulisan Selamat Jalan”. Hal tersebut merupakan contoh koteks.


3.             Konteks
Membahas mengenai konteks, konteks ini bisa berkaitan dengan berbagai hal misalnya saja pada konteks Budaya, pengetahuan, linguistik, semotaktis, sintaksis dan situasi. KBBI mempunyai dua definisi dari konteks, yakni 1) bagian suatu uraian atau kalimat yg dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2) situasi yg ada hubungannya dengan suatu kejadian. Sedangkan menurut Mulyana (2005: 21), konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan/dialog.

Menurut Brown & Yule (1983) konteks adalah lingkungan atau keadaan tempat bahasa digunakan. Halliday & Hasan (1994) mengatakan bahwa konteks berarti “something accompanying text”, yaitu sesuatu yang inheren dan hadir bersama teks, sehingga dapat diartikan konteks sebagai situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi. Didukung oleh Kridalaksana (2011: 134) menyatakan bahwa konteks adalah (1) aspek-aspek lingkungan fisik atau sosial yang kait mengait dengan ujaran tertentu, (2) pengetahuan yang sama-sama memiliki pembicara dan pendengar sehingga pendengar paham apa yang dimaksud pembicara. 
A cultural term is usually marked by special characteristics. Every language in  the  world  has  its  own  words,  phrases, or expressions that marked  by  special  characteristics. Culture is also as complex things, including religion system and politic, custom, language, tool, cloth, building and artistic things.
One aspect of culture is language (Risna, 2016, p. 382). She stated that language is part of culture. In the point, translation is relating with language and culture. Sutrisno (2005, p. 133) stated that language and culture is relating and there are interrelationship between language and culture. He also defines language as expression of culture and person of native speaker, and then automatically language will influence the speaker. 
Discuss about nature, culture and language, these term are relating each other. One way thinking about culture is to contrast it with nature. Kramsch (1998, p. 4) stated that nature refers to what is born and grows organically (from Latin nascere : to be born). Meanwhile, culture refers to what has been grown and groomed (from the Latin colere: to cultivate). Kramsch (1998, p. 5) added that language and culture impose on nature correspond to various form of socialization or acculturation. The use of written language is also shaped and socialized through culture. 
There are various definitions of culture. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Indonesian dictionary) defines culture as follow; 1) though; 2) custom, 3) something relating to developed culture (civilized); 4) something has become a habit. Meanwhile, oxford dictionary define culture as customs, beliefs, art, way of life, etc of particular country or group. Newmark (1998, p. 94) define culture  as  the  way  of  life  and  its  manifestations  that  are  peculiar  to  a community that uses a particular language as its means of expression.
More specifically, Newmark (1998, p. 94) distinguish ‘cultural’ from ‘universal’ and ‘personal language’.  Newmark gives example; ‘Die’, ‘live’, ‘star’, ‘swim’ and even almost virtually ubiquitous artifacts like ‘mirror’ and ‘table’ are universals. In this case, usually there is no translation problem there. In other words, ‘Monsoon’, ‘steppe’, ‘dacha’, ‘tagliatelle’ are cultural words – there will be a translation problem unless there is cultural overlap between the source and the target language (and its readership). Newmark added the more specific a language becomes for natural phenomena (e.g., flora and fauna) the more it becomes embedded in cultural features, and therefore creates translation problems. Which is worrying, since it is notorious that the translation of the most general words (particularly of morals and feelings) - love, temperance, temper right, wrong - is usually harder than that of specific words.

Newmark (1988, p. 95) discusses the translation of foreign cultural words in the narrow sense. He classifies culture-specific terms into five categories. They are; (1) Ecology: fauna, flora, and geographical features, (2) Material culture:  clothes, food, houses/city, transports, and traditional weapons, (3) Social culture: work, leisure, names and terms of address, and kinship, (4) Social Organization: social organization, social administration, religion, artistic things and craft, and (5) Habits and Gesture.
Reference;
  • Risna, Sulfah. (2016). Peran Ideologi Penerjemahan Dalam Pemertahanan Budaya Bangsa. Proceding of National Seminar and Nationality Dialogue, Cultural Science Faculty, Hasanuddin Univeristy. 381 – 394
  • Sutrisno, M. (2005). Teori – Teori Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius.
  • Kramsch, Claire. (1998). Language and Culture. New York : Oxford University Press.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia.(2010). KBBI offline versi 1.1. http://ebsoft.web.id.
  • Newmark, P,. (1988).  A Textbook of Translation. Hertfordshire: Prentice hall.


In a task paper of my lecture, I write some challenges is faced by translator.
I wrote :
"A translator in the translation process is facing a challenge. Nida in Sudana (2014, p. 437) stated that there are four challenges in the translation process. The first challenge is language. The second challenge is social culture. The third challenge is religions term. The last challenge is material culture. In summary, the challenge in translation process is language and culture."
Seorang penerjemah dalam proses penerjemahan menghadapi kendala dalam prosesnya. Nida dalam Sudana (2014, p. 437) mengatakan bahwa ada 4 kendala yang dihadapi dalam penerjemahan.
  1. Kendala pertama yakni Bahasa
  2. Kendala kedua yakni Sosial Budaya
  3. Kendala Ketiga yakni Istilah keagamaan
  4. Dan terakhir kendala Material Budaya

Jadi kesimpulanya yakni penerjemah dalam proses penerjemahan menghadapi kendala yang berupa bahasa dan Budaya.


"Regarding to the challenges, translator not only need to have background of language, but also culture both source culture and target culture. The knowledge of language and culture is required to produce good translation in the meaning and style. As stated by Nida & Taber (1969, p. 12) define translation as “translating consist of reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message, first in the meaning and secondly in the term of style”. According to Nida and taber, a translator needs to choose a closest term in the translation process."

Menghadapi kendala tersebut, penerjemah tidak hanya harus mempunyai pengetahuan bahasa, namun haruslah mempunyai pengetahuan budaya baik bahasa sumber dan sasaran.  Pengetahuan budaya tsb diperlukan agar menciptakan suatu terjemahan yg baik dalam hal makna dan gaya. Hal tersebut disampaikan oleh nida & taber bahwa penerjemehan adalah memreproduksi suatu bahasa kebahasa lain dengan mencari padanan yang sedekat mungkin dari bahasa sumber, pertama dalam makna dan kedua dalam gaya. (Download Buku Nida & Taber)

Maka dari itu, pengetahuan budaya juga diperlukan dalam proses penerjemahan, untuk membaca mengenai budaya, bisa membaca bukunya Peter Newmark. Baca diPostingan sebelumnya tentang BUKU A TEXTBOOK OF TRANSLATION BY PETER NEWMARK

Sumber :
Sudana, M. D. S. Suyasa and N. P. E Marsakawati. (2014). Analisis Penerjemahan Istilah Budaya pada Novel Negeri 5 Menara kedalam Bahasa Inggris : Kajian Deskriptif Berorientasi Teori Newmark. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. 3 (2), 435 – 445.
Nida, E. and Taber, C. (1969). The Theory and Practice of Translation. Hertfordshire : Prentice Hall.
Newmark (1988, p.5) that texts always engage person, universal and culture. Many aspects should be considered in translating text, one of which is cultural term. Translation and culture are a concept related each other. A translator needs to have a good knowledge about source and target text, 

Newmark (1988, p. 95) categorize cultural category into five categories. 

1) Ecology: fauna, flora, and geographical features, 
2) Material culture:  clothes, food, houses/city, transports, and traditional weapons, 
3) Social culture: work, leisure, names and terms of address, and kinship. 
4) Social Organization: social organization, social administration, religion, artistic things and craft, 
5) Habits and gesture. 

Penulis daftar Pustaka untuk buku A Textbook of Translation :

Newmark, P,. (1988).  A Textbook of Translation. Hertfordshire: Prentice hall



Anda dapat mendownload Buku tersebut;

Buku A textbook of Translation by Peter Newmark
Kajian Wacana merupakan suatu mata kuliah yang menyenangkan dan menarik untuk dipelajari terutama bagi mahasiswa bahasa.

Nah dibawah ini definisi kajian wacana dalam bentuk video :
Selamat menyaksikan



Jangan lupa share
A.     FUNGSI KOHESI, KOHERENSI DAN REFERENSI
a.       Fungsi Kohesi
Konsep kohesi mengacu pada hubungan bentuk antar unsur-unsur wacana sehingga memiliki keterkaitan secara padu. Dengan adanya hubungan kohesif itu, suatu unsur dalam wacana dapat diinterprestasikan sesuai dengan keterkaitannya dengan unsur-unsur yang lain. Hubungan kohesif dalam wacana sering ditandai dengan penanda-penanda kohesi, baik yang sifatnya gramatikal maupun leksikal.

b.      Fungsi Koherensi
Fungsi koherensi yakni penjelas dari suatu kalimat agar mudah dipahami. Hal itu karena didalam koherensi terdapat suatu rangkaian fakta dan gagasan yang teratur dan telah tersusun secara logis. Koherensi ini berhubungan dengan makna yang masih memerlukan interpretasi sehingga hubungan antar tubuh wacana diperlukan penanda yang berupa hubungan antar kalimat. Penanda hubungan itu berfungsi untuk menghubungkan kalimat sekaligus menambah kejelasan hubungan antarkalimat dalam wacana.

c.       Fungsi Referensi
Fungsi referensi di dalam bahasa yang menyangkut nama diri, hal ini digunakan sebagai topik baru (untuk memperkenalkan) atau untuk menegaskan bahwa topik masih sama. Topik yang sudah jelas biasanya dihilangkan atau diganti.




Studi kasus: Apakah bisa kohesi dan koherensi digunakan untuk membedah atau menganalisa suatu teks dalam buletin Jumat?

Jawaban: bisa dan memungkinkan menganalisa buletin menggunakan kohesi dan koherensi. Misalnya saja digunakan tujuan penelitian yang berupa; untuk mengetahui bagaimana penggunaan kohesi dan koherensi dalam teks buletin jumat. Melihat tujuan dari penulisan bulletin, yakni melalui buletin agar dapat membangun karekter muslim yang baik. Aspek kohesi dan koherensi merupakan kriteria dan prinsip yang penting salam suatu teks buletin sehingga buletin dapat dipahami dan bermanfaat bagi para pembaca. Hal itu karena aspek kohesi dan koherensi membangun suatu wacana sehingga dapat menyampaikan pesan kepada para pembaca. Dengan cara ini, tujuan dari buletin untuk membangun karakter muslim dapat tercapai. 
A.     PENGERTIAN KOHESI, KOHERENSI, DAN REFERENSI
1.      Kohesi
Kohesi merupakan hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk, artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh (Mulyana, 2005: 26).
Kohesi wacana dibagi menjadi dua yakni kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal terdiri atas 4 macam; antara lain referensi, subtitusi, elipsis, konjungsi; sedangkan kohesi leksikal terdiri atas 3 macam yakni sinonim, repetisi, kolokasi.

2.      Koherensi
Koherensi didefiniskan sebagai sebuah pola keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh (Brown dan Yule dalam Mulyana, 2005: 30). Dengan kata lain bahwa koherensi mengandung makna ‘pertalian’ antara kalimat yang satu dan yang lainya. Koherensi juga berarti hubungan timbal balik yang serasi antarunsur dalam kalimat (Tarigan via Mulyana, 2005: 30). Hubungan koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan yang bagian lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh. Wacana yang koheren memiliki ciri: susunannya teratur dan amanatnya terjalin rapi, sehingga mudah diintepretasikan (Samiati via Mulyana, 2005: 30).

3.      Referensi

Secara tradisional, referensi adalah hubungan antara kata dengan benda (orang, tumbuhan, sesuatu lainnya) yang dirujuknya. Referensi merupakan perilaku pembaca/ penulis yang menentukan referensi suatu tuturan adalah pihak pembicara sendiri, sebab hanya pihak pembicara yang paling mengetahui hal yang diujarkan dengan hal yang dirujuk oleh ujarannya (Mulyana, 2005:15-16).
1.  Bentuk dan Fungsi Wacana dalam Linguistik
Kajian wacana membahas mengenai penggunaan bahasa yang tidak dapat dipisahkan dari linguistik. Bentuk wacana dalam linguistik yakni berupa bahasa lisan dan tertulis. Wacana dapat berupa kata maupun frasa.
Fungsi Bahasa yakni :
·         Alat komunikasi
·         Penyampai pesan
·         Ekspresi
·         Komunikasi
·         Interaksi sosial

Fungsi bahasa dalam pandangan Brown dibagi menjadi dua yakni transaksional dan interaksional. Fungsi Transaksional berhubungan Content/isi, sedangkan Fungsi Interaksional berhubungan dengan Hubungan sosial.

 2.      Terapan model kajian wacana berdasar aspek linguistik
Faharani (2013) mengungkapkan bahwa wacana merupakan suatu disiplin ilmu yang mengkaji mengenai hubungan bahasa dan konteksnya dengan dihubungkan dengan disiplin ilmu lainya.  Dalam hubunganya dengan linguistik, wacana dapat berhubungan dengan bidang ilmu ;
a.       “Wacana” dengan “Fonologi” (bunyi-bunyi bahasa)
b.      “Wacana” dengan “Morfologi” (seluk-beluk morfem dan penggabungannya untuk membentuk satuan lingual/asal kata)
c.       “Wacana” dengan “Sintaksis” (membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa)
d.      “Wacana” dengan “Semantik” (telaah mengenai makna)
e.       “Wacana” dengan “Pragmatik” (hubungan antara bahasa dan konteks)
f.       “Wacana” dengan “Filologi” (mengkaji bahasa dalam bentuk teks atau naskah)
g.      “Wacana” dengan “Semiotika” (mengkaji tentang makna bahasa yang ditimbulkan dari tanda-tanda bahasa)
h.      Wacana dengan Psikolinguistik (mengenai bagaimana penggunaan bahasa dan perolehan bahasa oleh manusia)

Contoh dari kedua penjelasan diatas, point 1 dan dua. Dimedia sosial, dikenal dengan istilah meme. Meme bisanya berupa gambar yang terdapat tulisan. Apakah meme tersebut bisa dikategorikan sebagai wacana? Kemudian bagaimana terapanya?.

Pertama, meme hanya berupa gambar namun terdapat tulisan. Tulisan tersebut biasanya berupa tulisan berbentuk komedi satir. Hal ini sesuai dengan fungsi bahasa yakni sebagai alat komunikasi maupun penyampai pesan. Hal tersebut dikarenkan gambar didukung oleh teks tulis. Jika hanya gambar saja, maka belum termasuk dalam wacana.
Kemudian, bagaimana cara mengkajinya. Dari point 2, ada 8 point tentang hubungan wacana dengan linguistik. Misalnya saja digunakan wacana dan pramatik. Prakmatik disini membahas penggunaan bahasa berdasar konteks, sehingga dalam kajianya, wacana dapat dikaitkan dengan kontek yang ada dan menimbulkan konteks. Dalam meme tersebut tercetak jelas berhubungan dengan pilkada DKI Jakarta dan salah satu pasangan calon.

Referensi :
Chaer, Abd. Psikolinguistik Kajian Teoritis. 2003. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. Linguistik Umum. 2007. Jakarta: Rineka Cipta.
Brown, Gillian and George Yule. 1996. Analisis Wacana. Cambridge: Cambridge University Press

Farahani, Mehrdad Vasheghani. (2013). The Role of Discourse Analysis in Translation. International Journal of Applied Linguistics & English Literature. 2 (1) : 112-116.